Teknologi kecerdasan buatan (AI) yang semula menjadi pendorong efisiensi kini juga berubah menjadi ancaman serius, khususnya di sektor perbankan digital. Lonjakan penipuan berbasis AI—mulai dari pemalsuan wajah, suara, hingga bukti transfer—memicu kekhawatiran besar di kalangan regulator dan pelaku industri.
Menanggapi eskalasi ini, Allo Bank Indonesia melanjutkan kolaborasi strategis dengan ADVANCE.AI yang sudah terjalin sejak 2021 untuk memperkuat pertahanan terhadap penipuan digital yang semakin canggih, termasuk ancaman deepfake yang kian merajalela.
Data resmi yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) mengungkapkan kenyataan yang mengejutkan. Selama periode November 2024 hingga Februari 2025, tercatat lebih dari 42.000 laporan penipuan berbasis teknologi dengan total kerugian mencapai Rp700 miliar.
Baca Juga
Advertisement
Sementara itu, hingga Juni 2025, kerugian akibat penipuan online di sektor keuangan tercatat menembus angka Rp2,6 triliun dari lebih dari 157.000 laporan masyarakat. Dari jumlah tersebut, dana senilai Rp163 miliar berhasil diblokir oleh lembaga terkait.

Tak hanya itu, survei dari perusahaan penyedia identitas digital VIDA menunjukkan bahwa penipuan berbasis AI melonjak hingga 1.550% sejak tahun 2022. Ini menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan dalam tempo kurang dari tiga tahun.
Deepfake Jadi Senjata Baru Kejahatan Siber
Baca Juga
Advertisement
Paradiva, kamu tentu tahu bahwa teknologi AI seperti deepfake awalnya dikembangkan untuk keperluan hiburan dan simulasi. Namun kini, teknologi ini banyak disalahgunakan oleh pelaku kejahatan siber untuk menembus sistem keamanan digital bank dan fintech.
Modusnya beragam, mulai dari pemalsuan wajah untuk melewati proses electronic Know-Your-Customer (eKYC), hingga pemalsuan suara dalam video call yang digunakan untuk membujuk nasabah agar memberikan data sensitif.
OJK sendiri sudah mengeluarkan peringatan resmi tentang pemalsuan bukti transfer menggunakan AI, serta mendesak publik untuk lebih berhati-hati dalam memverifikasi keaslian transaksi digital.
Baca Juga
Advertisement
Melihat risiko yang semakin mengkhawatirkan, Allo Bank memperkuat kemitraannya dengan ADVANCE.AI. Kolaborasi ini difokuskan pada pengembangan sistem verifikasi identitas dan deteksi penipuan yang berbasis AI canggih.
Menurut Ganda Raharja Rusli, Direktur Risiko, Kepatuhan, dan Hukum Allo Bank, pendekatan “security-by-design” menjadi strategi utama mereka. Ini berarti keamanan dibangun sejak awal dalam arsitektur sistem, bukan hanya sebagai pelengkap.
“Kami ingin pengalaman digital nasabah tetap aman tanpa mengorbankan kenyamanan. Oleh karena itu, kami mengintegrasikan teknologi keamanan mutakhir sejak tahap awal onboarding,” ujar Ganda.
Baca Juga
Advertisement
Sementara itu, Anggraini Rahayu, Country General Manager ADVANCE.AI, menambahkan bahwa solusi deteksi berbasis AI harus terus diperbarui agar mampu mengimbangi kecepatan evolusi teknologi deepfake.
“Jika tidak diantisipasi, fraud berbasis AI bisa mengguncang fondasi kepercayaan publik terhadap perbankan digital,” ujar perempuan yang akrab disapa Anggie ini.
Dalam kolaborasi ini, Allo Bank dan ADVANCE.AI menggunakan pendekatan berlapis untuk mendeteksi dan mencegah penipuan, termasuk:
Baca Juga
Advertisement
• Liveness detection dan biometrik wajah: Untuk memastikan pengguna adalah orang sungguhan dan bukan video atau gambar statis.
• Verifikasi multimodal: Menggabungkan biometrik, perilaku pengguna, dan data perangkat untuk memberikan lapisan keamanan tambahan.
• Autentikasi adaptif: Sistem keamanan yang menyesuaikan tingkat verifikasi berdasarkan pola risiko pengguna.
Baca Juga
Advertisement
• Pengembangan sistem berkelanjutan: Sistem AI terus diperbarui untuk mengikuti pola baru kejahatan digital yang muncul.
Teknologi seperti ini telah terbukti efektif. Dalam uji coba internal, sistem yang menggabungkan AI dan biometrik mampu mendeteksi konten deepfake dengan akurasi lebih dari 95%, menurut laporan internal ADVANCE.AI.
Regulasi Baru dari OJK: Panduan Tata Kelola AI
Baca Juga
Advertisement
Sebagai respons atas ancaman ini, OJK pada April 2025 mengeluarkan Panduan Tata Kelola Kecerdasan Buatan di Sektor Perbankan. Panduan ini menekankan pentingnya penggunaan AI secara etis, transparan, dan bertanggung jawab, serta menekankan pentingnya manajemen risiko yang menyeluruh.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menekankan bahwa AI harus digunakan untuk memperkuat keamanan, bukan memperbesar risiko. “Jika tidak ada tata kelola yang jelas, AI bisa menjadi bumerang,” ujar Dian dalam konferensi pers awal tahun ini.
Literasi Digital: Benteng Pertahanan Terakhir
Baca Juga
Advertisement
Paradiva, di tengah kemajuan teknologi ini, kamu juga punya peran besar. OJK mencatat bahwa rendahnya literasi digital menjadi salah satu penyebab utama tingginya angka korban penipuan.
Beberapa langkah yang bisa kamu lakukan antara lain:
• Selalu verifikasi nomor pengirim sebelum melakukan transaksi.
Baca Juga
Advertisement
• Jangan pernah membagikan kode OTP atau data sensitif melalui telepon.
• Waspadai video call yang mengatasnamakan lembaga resmi tanpa prosedur jelas.
• Gunakan sistem keamanan tambahan seperti multi-factor authentication (MFA).
Baca Juga
Advertisement
Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.