Dampak Buruk ‘TikTokisasi’ dan Alasan di Balik Larangan Medsos Anak di Inggris

Tiktok

Pemerintah Inggris secara resmi telah mengambil langkah tegas dengan melarang penggunaan media sosial bagi anak-anak di bawah usia 16 tahun. Kebijakan radikal ini diambil sebagai respons langsung terhadap kecemasan publik atas sifat adiktif dari konten video pendek yang kian meresahkan.

​Langkah hukum tersebut sengaja dirancang untuk mengatasi berbagai dampak negatif yang ditimbulkan oleh ekosistem digital saat ini. Salah satu fokus utamanya adalah menyelamatkan rentang perhatian (attention span) generasi muda yang dilaporkan terus merosot akibat paparan visual secara terus-menerus.

​Kendati demikian, kebijakan pemblokiran ini dinilai menghadapi jalan terjal akibat fenomena yang dikenal sebagai TikTokification atau “TikTokisasi” yang merambah berbagai platform lain. Ekspansi format video pendek ke seluruh penjuru internet ini berpotensi merusak dan menggagalkan dampak positif yang diharapkan dari larangan tersebut.

Advertisement

​Dampak buruk dari pergeseran format digital ini nyatanya tidak lagi memandang usia. Realitas yang terjadi di lapangan menunjukkan bahwa degradasi kualitas pengalaman berselancar di internet kini mulai dirasakan oleh seluruh kelompok umur, bukan hanya anak-anak.

​Istilah TikTokisasi sendiri merujuk pada adopsi massal format video vertikal berdurasi singkat yang dipopulerkan oleh platform asal Tiongkok tersebut. Begitu kuatnya dominasi tren ini hingga nama aplikasinya kini menjadi sinonim global untuk jenis konten visual cepat saji di dunia maya.

​Keberhasilan formula video pendek ini kemudian memicu lahirnya puluhan platform tiruan di berbagai sudut internet karena sifatnya yang sangat sulit untuk ditolak oleh psikologis manusia. Setiap konten disajikan dalam porsi kecil, langsung berputar otomatis, dan sejak awal memang dirancang untuk menciptakan ketergantungan.

Advertisement

​Secara ilmiah, daya pikat format ini terletak pada kemudahan navigasi di mana video selanjutnya selalu siap tersaji hanya dengan satu usapan layar. Ketidakpastian mengenai konten apa yang akan muncul berikutnya terbukti memicu lonjakan dopamin, hormon yang bertanggung jawab atas rasa senang pada otak manusia.

​Efek neurosains inilah yang menjadi alasan utama mengapa jutaan pengguna internet terus kembali dan terikat pada layar gawai mereka. Ketika tren ini mulai diadopsi oleh situs web di luar media sosial, kehadirannya murni menjadi alat pembajak perhatian tanpa memberikan nilai tambah yang berarti bagi konsumen.

Advertisement

Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.

Jurnalis teknologi dan gadget sejak 2005. Mulai dari Majalah Digicom, pernah di Tabloid Ponselku, pendiri techno.okezone.com, 5 tahun di Viva.co.id, 2 tahun di Uzone.id. Pernah bikin majalah digital Klik Magazine, sempat di perusahaan VAS Celltick Technologies. Sekarang jadi founder Gadgetdiva.id, bantuin Indotelko.com dan Gizmologi.id. Supermom dengan 2 orang superkids.