Jaringan 6G diperkirakan meluncur pada tahun 2030 mendatang. Hal ini masih menjadi tantangan besar di Indonesia, sebab spektrum jaringan masih kurang.
Direktur Penataan Spektrum Frekuensj Radio, Orbit Satelit dan Standarisask Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Adis Alifiawan mengatakan total spektrum pasca proses lelanv sebesar 700 Mhz dan 2,6 GHz mencapai 712 Mhz.
Sementara, menurut Adis, kebutuhan 6G mencapai 200 Mhz. Kendati demikian, belum ada satu pita frekuensi yang dapat memenuhi itu.
Baca Juga
Advertisement
“Paling besar itu adalah yang ktia lelang sekarang di 2,6 G, 190 Mbps. Enggak sampai 200 Mbps. Jadi kalau buat 6G, enggak sampai buat satu operator,” ungkap Adis dalam acara seminar dan workshop Mastel di Jakarta pada Kamis (9/7).
Adis menjelaskan bahwa jaringan 6G membutuhkan ruang yang lebih besar dibandingkan jaringan-jaringan lebih besar. Oleh sebab itu, kapasitas juga perlu mengikutinya.
“Kalau ngebandingin 6G itu sama 2G, kalau 2G itu kayak motor, 3G kayak bajai, terus 4G itu kayak LCGC, 5G itu kayak SUV, begitu 6G kita butuhnya hammer. Jadi kita kalau mau punya mobil yang besar, garasinya mesti besar,” jelasnya.
Baca Juga
Advertisement
“Kalau kita mau masukin traffic 6G, kita harus punya spektrum itu sebagai garasinya ya mesti besar juga,” dia menambahkan.
Oleh sebab itu, perlu merilis frekuensi baru. Peluncuran yang paling ideal adalah untuk mid-band, menurut Adis.
Ia berpendapat tidak mungkin mengeluarkan frekuensi low-band. Hal ini dikarenakan bandwidth yang kecil dan jangkauannya yang pendek.
Baca Juga
Advertisement
Sementara itu, jaringan mid-band untuk 6G memiliki beberapa dampak. Salah satunya untuk perkembangan AI.
“Kalau kita ingin AI terus berkembang penggunaannya, ya kita butuh 6G,” katanya.
Di samping itu, akan turut berdampak pada pertumbuhan traffic dan membuka ruang lebih luas untuk keberlanjutan industri seluler dengan ratusan juta pelanggan.
Baca Juga
Advertisement
“Selain itu, andaikan pun tidak menggunakan use case baru dalam hal ini AI, use case existing aja, itu juga kan dengan growingnya pertumbuhan use case yang lain, growingnya demand dari use case yang lain, itu akan memunculkan kebutuhan mobile connectivity. Bagi masyarakat itu, at some point mereka akan mengalami stuck. Dan butuh tambahan kapasitas,” jelas Adis.
Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.