Kisah Sukses Hanny Zeng Membesarkan Jims Honey: Dimulai dari Garasi Rumah

Img 3251
Hanny Zeng, CEO dan Pendiri Jims Honey

Setiap brand besar selalu punya cerita inspiratif yang menjadi pijakan pelaku bisnis lain. Begitu pula Hanny Zeng, sosok di balik Jims Honey, yang membangun bisnis fasyennya ini bukan dari ruang megah, melainkan dari sebuah garasi rumah. Dari ruang sederhana itu, lahirlah brand fashion yang kini menghiasi bahu dan tangan perempuan Indonesia.

Img 3245
Hanny Zeng bersama produk Jims Honey siap kirim (Sumber foto: IG Hanny Zeng)

Pada 2014, ketika sebagian mahasiswa sibuk merencanakan karier, Hanny justru memulai dari hal paling sederhana: menjual dompet wanita tanpa merek. Saat itu ia sedang menyusun skripsi dan mencari kegiatan yang bisa mengasah kemampuannya sebelum benar-benar terjun ke dunia kerja. Modal waktu yang lapang dan keberanian mencoba membuatnya melihat peluang.

Tak ada rencana besar, tak ada visi muluk di awal. Namun ada satu prinsip yang terus ia pegang: fokus. Dari fokus itu, pesanan kecil mulai berdatangan. Konsumen datang dari rekomendasi, lalu berkembang menjadi jaringan kecil. Hanny yang ditemui di konferensi pers Tokopedia dan Tiktok Shop mulai percaya bahwa bisnis bukan soal memulai dengan besar, melainkan tentang berani melangkah dan konsisten berjalan.

Advertisement

Img 2279
Hanny Zeng, CEO and Founder Jims Honey

Seiring waktu, satu pertanyaan menguat: bagaimana menciptakan produk berkualitas baik namun tetap terjangkau? Jawaban itulah yang mendorong transformasi bisnis kecilnya menjadi brand yang kini kita kenal sebagai Jims Honey pada 2015.

Namun perjalanan Jims Honey tidak selalu mulus. Penjualan konvensional membuat jangkauan pembeli sangat terbatas. Hanny merasakan betul bagaimana sulitnya memperluas pasar tanpa dukungan teknologi. Produk yang bagus tak selalu mudah bertemu pembelinya.

Perubahan besar terjadi ketika Jims Honey masuk ke Tokopedia. Platform online itu membuka pintu yang sebelumnya tertutup. Tiba-tiba, produk yang awalnya hanya berputar di satu kota, kini dikenal hingga Papua. “Dari satu pembeli jadi seratus, dari seratus jadi seribu,” begitu gambaran Hanny mengenai era barunya saat itu.

Advertisement

Img 3250
Hanny Zeng saat bantu jualan live

Kehadiran di marketplace bukan hanya memperluas jangkauan, tapi juga membangun kepercayaan. Brand kecil punya kesempatan tampil setara dengan pemain besar. Dan kepercayaan adalah mata uang paling penting dalam industri fashion yang bergerak cepat.

Tantangan berikutnya datang ketika persaingan di kategori tas makin padat. Permintaan menurun, sementara pabrik terus berproduksi. Barang menumpuk dalam jumlah puluhan ribu. Situasi itu bisa membuat banyak pebisnis menyerah, namun ibu empat putra ini memilih untuk mencoba cara baru: social commerce.

Pada 5 Juni 2024, Jims Honey resmi masuk TikTok Shop. Dan hasilnya, paradiva, benar-benar luar biasa. Produk yang menumpuk itu justru menjadi titik lonjakan besar. Konten-konten pendek, gaya belanja spontan, dan algoritma TikTok membuat produk Jims Honey viral dalam hitungan hari.

Advertisement

Img 3253
Karyawan Jims Honey di pabrik, sedang menjahit bahan tas (Sunber: IG Jims Honey)

Bagi perempuan berusia 30 tahun ini, momen itu menjadi pengingat bahwa dunia digital tak hanya memberi peluang, tapi juga memberi pembelajaran. Mereka yang cepat beradaptasi akan lebih dulu melihat cahaya.

Di balik layar, Jims Honey memiliki tim R&D yang terus bekerja mengikuti arus fashion internasional. Tren warna dari Italia, sentuhan desain dari Korea, hingga preferensi pasar lokal menjadi bahan analisis harian. Namun tak semua gaya luar Negeri cocok dengan konsumen Indonesia. Tim harus melakukan observasi: warna yang laris di Jakarta belum tentu diterima Jambi, begitu pula sebaliknya.

Fashion adalah dunia yang bergerak cepat. Tetapi di balik kecepatan itu, ada kerja sunyi yang terus dilakukan: mencoba, gagal, memperbaiki, dan mencoba lagi.

Advertisement

Data digital kini menjadi kompas utama. Dari preferensi warna, usia pelanggan, hingga lokasi penjualan, semuanya memberi gambaran untuk mengembangkan koleksi yang lebih relevan. Dan Hanny percaya, mendengarkan pelanggan adalah bagian dari menghormati mereka.

Img 3252
Proses produksi tas di pabrik Jims Honey

Meski kuat di ranah digital, Jims Honey tetap mempertahankan kehadiran fisik. Lebih dari 50 toko offline kini berdiri di berbagai kota. Bagi Hanny, toko adalah ruang pengalaman—tempat konsumen melihat, meraba, dan merasakan langsung kualitas produk. Suasana toko dirancang hangat dan estetik, dengan warna pink yang menjadi identitas visual.

Di sisi lain, pendekatan online juga diperkuat lewat layanan interaktif yang tetap mengandalkan sentuhan manusia. Alih-alih chatbot sepenuhnya otomatis, respon pelanggan ditangani admin yang bisa membaca emosi dan memberikan solusi. Di era serbadigital, Hanny percaya empati tetap relevan.

Advertisement

Affiliate: Mesin Pertumbuhan Baru

Bagi Jims Honey, affiliate bukan sekadar tren, tetapi bagian besar dari strategi penjualan. Kontribusinya kini mencapai 50–60 persen.

Img 2255
Kisah Sukses Hanny Zeng Membesarkan Jims Honey: Dimulai dari Garasi Rumah 12

Hanny sangat menghargai para kreator konten yang terlibat dalam ekosistem ini. “Banyak yang bilang affiliate itu gampang. Padahal tidak. Mereka bikin konten, belajar algoritma, itu kerja keras juga,” katanya.

Advertisement

Untuk para kreator baru, ia memberikan pesan sederhana namun kuat: “Mulai dari nol itu normal. Konsisten saja sampai satu video kamu pecah telor.”

Kolaborasi Global dan Standar Kelas Dunia

Salah satu pencapaian besar Jims Honey adalah kolaborasinya dengan TinyTAN BTS. Prosesnya memakan waktu delapan bulan—penuh revisi dan penyesuaian warna.

Advertisement

“Pantone harus presisi. Ada sampel yang ditolak karena beda gradasi sedikit saja,” kata Hanny. Meski menantang, pengalaman itu meningkatkan standar internal tim.

Membangun Tempat Kerja yang Manusiawi dan Peduli

Kini, lebih dari seribu karyawan bekerja untuk Jims Honey. Hanny menyadari tanggung jawab itu besar. “Saya tidak bisa janji membuat semua orang kaya. Tapi saya ingin mereka merasa dihargai,” ujarnya.

Advertisement

Ia tidak lupa dari mana ia memulai. “Saya pernah berada di posisi bawah. Itu sebabnya saya ingin perusahaan ini jadi tempat yang tumbuh bersama,” imbuh Hanny.

Img 3249
Jims Honey sumbang masyarakat terdampak bencana di Tapanuli

Kolaborasi internasional pun pernah dilakukan Jims Honey, termasuk dengan TinyTan BTS—sebuah proses panjang selama delapan bulan yang penuh revisi warna dan standar detail ketat. Namun bagi Hanny, setiap tantangan adalah kesempatan untuk naik kelas.

Kini, dengan lebih dari seribu karyawan dan ekosistem bisnis yang semakin matang, Hanny tak berhenti bermimpi. Baginya, bisnis bukan hanya soal penjualan, tetapi tentang menciptakan ruang bagi banyak orang untuk bertumbuh bersama. Ia percaya kesejahteraan tidak hanya dinilai dari angka, tetapi dari rasa dihargai dan diberi ruang untuk berkembang.

Advertisement

Img 3246
Melalui Dompet Dhuafa, Jims Honey Bantu Rakyat Palestina

Hanny juga menunjukkan sikap peduli kemanusiaan dengan menaruh perhatian dan sumbangan pada mereka yang membutuhkan. Atas nama Jims Honey, melalui Dompet Dhuafa, sumbangan kemanusiaan diberikan kepada rakyat Palestina yang menderita akibat serangan-serangan yang dilakukan Israel. Melihat masyarakat Sumatera terkena musibah banjir bandang, Jims Honey juga menyumbangkan untuk masyarakat terdampak bencana

Dari garasi rumah, Jims Honey kini menjadi brand nasional. Perjalanannya mengajarkan bahwa setiap langkah kecil dapat memulai sesuatu yang besar—asal dilakukan dengan konsisten, dijalani dengan sepenuh hati, dan keberanian mengikuti perubahan.

Advertisement

Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.