Anak Bill Gates ‘Tanam Chip’ di Bahu: Phia, Startup AI Rp2,9 Triliun Tanpa Nama Ayah

Phoebe Gates
Phoebe Gates, anak bungsu Bill Gates yang membuat startup belanja bersama teman nya Sophia Kianni. (Foto: Fortune)

Di sebuah studio podcast di New York, seorang perempuan muda berusia 23 tahun duduk tegak, matanya tajam, suaranya tenang namun penuh tekanan emosi. Ia adalah Phoebe Gates, anak bungsu Bill Gates dan Melinda French Gates, yang tiba-tiba membuat dunia bisnis dan teknologi menoleh ketika mengaku punya “chip on my shoulder”. “Chip” yang ia maksud bukanlah perangkat yang ditanam di tubuh, melainkan beban mental dan motivasi keras untuk membuktikan diri di luar privilese keluarga superkaya. Dari kalimat metaforis itulah, lahir narasi baru: anak Bill Gates yang memilih jalur sulit untuk membangun kerajaan teknologinya sendiri.

Di balik kalimat sederhana tersebut, tersimpan konflik batin seorang pewaris nama besar. Phoebe Gates tahu, setiap langkahnya akan selalu dibandingkan dengan sang ayah—pendiri Microsoft dan salah satu orang terkaya di dunia. Karena itu, ketika ia meluncurkan Phia, sebuah startup asisten belanja berbasis kecerdasan buatan, ia membuat satu aturan tak tertulis: jangan jadikan nama “Gates” sebagai kartu akses utama. Transisi dari sekadar “anak konglomerat” menjadi “founder yang serius” inilah yang membuat kisahnya menarik bagi publik.

Phia bukan sekadar proyek iseng di sela privilese. Startup ini baru saja meraih pendanaan US$35 juta dan membawa valuasi perusahaannya mencapai sekitar US$185 juta, hanya setahun setelah putaran seed sebesar US$8 juta. Angka itu setara lebih dari Rp2,9 triliun, sebuah capaian luar biasa untuk produk yang lahir dari obrolan di kamar asrama Stanford. Di sinilah “chip” di bahu Phoebe Gates berubah menjadi mesin pendorong: ia ingin membuktikan bahwa angka-angka itu berasal dari kinerja, bukan dari nama belakang.

Advertisement

Phoebe Gates
Phoebe Gates, anak bungsu Bill Gates yang membuat startup belanja bersama teman nya Sophia Kianni. (Foto: Fortune)

Dari Kamar Asrama Stanford ke Valuasi Rp2,9 Triliun

Perjalanan Phia dimulai jauh dari ruang rapat megah atau kantor kaca di Manhattan. Phoebe gates dan teman sekamarnya di Stanford, Sophia Kianni, mulai berdiskusi tentang bagaimana kecerdasan buatan bisa menjawab masalah keseharian, khususnya belanja online yang semakin kompleks. Mereka menyeleksi berbagai ide, dari konsep yang ambisius hingga yang terdengar nyeleneh, sebelum akhirnya menetapkan fokus pada asisten belanja AI yang praktis dan dekat dengan kebutuhan generasi muda. Transisi dari ide mentah ke produk nyata tidak instan, namun di sanalah mental “chip on my shoulder” bekerja: mereka terus mengasah konsep meski sempat ditolak salah satu kelas kewirausahaan.

Dari kegagalan masuk kelas itulah, keduanya justru mendapatkan peluang lain. Sebuah kelas berbeda menerima mereka, beberapa investor awal tertarik, dan lahirlah versi awal Phia yang memanfaatkan agen AI untuk membantu konsumen menemukan harga terbaik di dunia e-commerce yang penuh pilihan. Phia dirancang sebagai ekstensi browser yang bisa terpasang di Chrome atau Safari, lalu bekerja di belakang layar untuk membandingkan harga dan menemukan penawaran terbaik secara real-time di ribuan platform retail dan resale. Dengan cara ini, pengalaman belanja yang biasanya memakan waktu berjam-jam bisa dipangkas menjadi hitungan menit. Phoebe Gates pun percaya diri.

Ketika versi publik Phia diluncurkan pada 2025, respons pasar berbicara lebih lantang dari sekadar nama belakang pendirinya. Aplikasi ini dengan cepat menembus ratusan ribu unduhan hanya dalam beberapa bulan, didukung tren pendanaan yang memang sedang mengarah ke agen AI konsumer. Investor besar seperti Kleiner Perkins, Notable Capital, hingga Khosla Ventures ikut menanam modal, sementara selebritas dan tokoh teknologi ikut meramaikan daftar pendukung. Dari sini, Phoebe Gates dan Sophia Kianni berhasil mengubah percakapan: dari “ini startup anak Bill Gates” menjadi “ini salah satu alat belanja AI paling menjanjikan di pasaran”

Advertisement

The Chip on My Shoulder adalah dorongan dalam diri saya bukan hanya untuk membuktikan kemampuan saya, tetapi juga untuk membangun sesuatu yang baru dan unik—sesuatu yang benar-benar dicintai oleh konsumen,” kata Phoebe.

Phia: Asisten Belanja AI untuk Generasi Cerdas dan Hemat

Di era ketika keranjang belanja digital bisa berisi produk dari lima toko berbeda sekaligus, konsumen butuh lebih dari sekadar fitur “filter termurah”. Phia mengambil posisi sebagai asisten belanja pribadi yang menggabungkan kecerdasan buatan dengan pemahaman perilaku konsumen. Saat pengguna melihat sebuah produk—misalnya sepatu seharga US$200 di satu toko—Phia akan bergerak otomatis, membandingkan harga di marketplace lain, termasuk platform barang bekas, untuk mencari opsi lebih murah tetapi tetap relevan. Dengan demikian, pengguna bisa belanja lebih cerdas tanpa harus membuka puluhan tab browser.

Target utama Phia cukup spesifik namun strategis: perempuan muda yang ambisius, peduli gaya, tetapi juga sangat menghitung efisiensi waktu dan uang. Profil ini mencerminkan generasi yang ingin tampil keren tanpa harus boros, sekaligus semakin sadar akan keberlanjutan melalui opsi belanja second-hand. Kombinasi antara kenyamanan, penghematan, dan nilai keberlanjutan menjadikan Phia bukan sekadar alat perbandingan harga, tetapi juga bagian dari gaya hidup digital yang lebih bijak.

Advertisement

Di balik layar, Phia mengandalkan model AI yang dilatih pada jutaan data transaksi untuk memahami pola belanja, preferensi, hingga sensitivitas harga. Mereka mengklaim pengembangan agen multimodal yang bisa bekerja sepuluh kali lebih cepat dengan biaya separuh dibandingkan GPT generik, sehingga pengalaman pengguna tetap lancar sekaligus efisien dari sisi operasional. Dengan fondasi teknologi seperti ini, Phia tidak hanya mengejar posisi sebagai plugin belanja, tetapi juga sebagai platform rekomendasi personal yang bisa berkembang ke banyak kategori produk dan sektor lain di masa depan.

Phoebe Gates
Bill Gates dan anak bungsunya, Phoebe (Foto: Ist)

Menjaga Jarak dari Nama “Gates”

Meski tidak bisa lepas dari fakta bahwa ia adalah anak Bill Gates, Phoebe Gates memilih strategi komunikasi yang cukup berani: menghilangkan nama belakang dari banyak materi publik Phia. Dalam pitch deck, ia fokus pada produk, tim, dan traksi pengguna, bukan pada foto keluarga atau daftar koneksi elit. Ia berulang kali menegaskan satu hal: ia ingin Phia sukses “tanpa keterikatan pada privilese atau nama belakang saya”. Transisi dari narasi “nepo baby” ke “founder serius” ini tidak hanya penting untuk citra pribadinya, tetapi juga untuk kredibilitas produknya di mata publik.

Komitmen menjaga jarak dari privilese keluarga juga tercermin dalam keputusan pendanaan. Phoebe Gates tidak mengambil uang dari kedua orang tuanya untuk membiayai Phia, meskipun akses tersebut jelas ada dan terbuka lebar. Sebaliknya, ia memilih jalan yang jauh lebih berliku: meyakinkan venture capital, menjawab pertanyaan kritis investor, dan menghadapi keraguan yang kerap menyelimuti founder muda, apalagi perempuan. Tentu, bimbingan dan pelajaran bisnis dari Bill Gates tetap ia akui, terutama soal pentingnya membangun tim yang kuat, tetapi modal finansial untuk Phia berasal dari luar lingkaran keluarga.

Advertisement

Di tengah perjalanan ini, ia juga harus menghadapi sorotan negatif yang tidak pernah ia pilih—mulai dari pemberitaan tentang kontroversi masa lalu sang ayah hingga komentar publik soal kehidupan pribadinya. Phoebe tidak selalu menanggapi isu-isu tersebut secara langsung, namun sikapnya jelas: fokus pada produk, tim, dan pengguna. Dengan cara ini, ia pelan-pelan menggeser percakapan: dari gosip seputar keluarga ke diskusi tentang teknologi, inovasi, dan dampak nyata Phia bagi konsumen.

Tantangan Seksisme dan Mantra “Get Up or Get Out”

Membangun startup teknologi sebagai perempuan muda di Silicon Valley dan New York bukan perkara mudah, bahkan jika Anda menyandang nama belakang Gates. Dalam beberapa pertemuan investor, alih-alih ditanya tentang roadmap produk atau strategi akuisisi pengguna, Phoebe dan Sophia justru dicecar pertanyaan soal rencana punya anak di masa depan. Pertanyaan seperti “kalau kalian punya bayi nanti, apa yang terjadi dengan perusahaan ini?” menunjukkan bias gender yang masih kuat dalam dunia modal ventura. Di sinilah perjalanan Phia menjadi cerita tentang kesetaraan, bukan hanya teknologi.

Phoebe Gates
Phoebe and Melinda Gates (Foto: Hello Magz)

Reaksi awal Phoebe terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah frustrasi hingga menangis. Namun, ibunya, Melinda French Gates—yang lama dikenal sebagai advokat hak-hak perempuan—memberinya nasihat keras namun membangun:

Advertisement

Get up or get out the game!

Kalimat itu akhirnya menjadi mantra pribadi yang ia bawa ke setiap ruangan pitch: jika ingin mengubah sistem, ia tidak bisa mundur setiap kali dihadang pertanyaan bias. Dengan transisi mindset ini, setiap komentar merendahkan berubah menjadi bahan bakar untuk bekerja lebih keras lagi.

Dalam banyak hal, pengalaman ini justru memperkuat positioning Phia sebagai startup yang lahir dari perspektif perempuan, untuk menjawab kebutuhan nyata perempuan modern. Dari cara mereka mendesain produk hingga cara mereka membangun tim, perspektif inklusif dan empati terhadap konsumen perempuan menjadi fondasi utama. Dengan demikian, Phia tidak hanya menjual efisiensi belanja, tetapi juga membawa pesan lebih besar: bahwa perempuan bisa memimpin perusahaan teknologi besar tanpa harus meminta maaf atas ambisi mereka.

Advertisement

Chip di Bahu, Bahan Bakar Generasi Baru

Pada akhirnya, “chip” yang dibawa Phoebe Gates di bahunya bukanlah perangkat elektronik tertanam di tubuh, melainkan simbol tekad untuk membuktikan diri di atas panggung yang mungkin sudah disiapkan orang lain sejak lama. Lewat Phia, ia menunjukkan bahwa anak seorang miliarder pun bisa memilih jalan yang lebih sulit: tidak mengandalkan cek orang tua, tidak menjual nama keluarga, dan memilih untuk dinilai dari produk yang ia bangun. Transisi dari bayang-bayang privilese menuju cahaya prestasi pribadi inilah yang membuat kisah Phoebe relevan dengan generasi muda di seluruh dunia.

Phia sendiri masih berada di awal perjalanan, namun sinyalnya sudah jelas: valuasi ratusan juta dolar, ratusan ribu pengguna, dan dukungan investor kelas dunia menempatkannya sebagai pemain serius di arena agen belanja AI. Jika ke depan Phia berhasil berkembang melampaui sekadar plugin belanja dan berevolusi menjadi platform rekomendasi personal berskala global, maka “chip” di bahu Phoebe akan tercatat sebagai katalis, bukan beban. Di tengah ledakan teknologi AI, narasi seperti inilah yang akan terus dicari: cerita tentang manusia di balik mesin, dan tentang ambisi yang menolak sekadar menumpang pada nama besar.

Advertisement

Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.

Jurnalis teknologi dan gadget sejak 2005. Mulai dari Majalah Digicom, pernah di Tabloid Ponselku, pendiri techno.okezone.com, 5 tahun di Viva.co.id, 2 tahun di Uzone.id. Pernah bikin majalah digital Klik Magazine, sempat di perusahaan VAS Celltick Technologies. Sekarang jadi founder Gadgetdiva.id, bantuin Indotelko.com dan Gizmologi.id. Supermom dengan 2 orang superkids.