Merriam-Webster resmi menetapkan kata slop sebagai Word of the Year 2025. Namun, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, istilah ini bukan sekadar kata biasa. AI slop kini menjadi simbol kegelisahan publik terhadap membanjirnya konten digital berkualitas rendah yang diproduksi secara massal menggunakan kecerdasan buatan.
Fenomena ini muncul seiring dengan pesatnya adopsi model bahasa besar atau large language models (LLM) seperti ChatGPT, Gemini, hingga berbagai AI pembuat gambar dan video. Akibatnya, ruang digital dipenuhi teks, gambar, dan video yang dibuat cepat, murah, tetapi minim nilai substansi. Oleh karena itu, publik mulai mencari istilah yang tepat untuk menggambarkan “sampah digital” tersebut dan jawabannya adalah slop.
Slop: Kata Lama dengan Makna Baru
Menurut Merriam-Webster, slop didefinisikan sebagai konten digital berkualitas rendah yang dihasilkan dalam jumlah besar dengan bantuan AI generatif, tanpa kurasi manusia yang memadai. Konten semacam ini sering kali mengandung kesalahan logika, visual yang aneh, atau informasi yang menyesatkan.
Baca Juga
Advertisement
Padahal, kata slop sendiri sudah ada sejak tahun 1700-an. Awalnya, istilah ini digunakan untuk menggambarkan lumpur lunak. Kemudian, pada abad ke-19, maknanya bergeser menjadi sisa makanan cair yang diberikan kepada ternak. Kini, metafora tersebut kembali hidup di era digital, digunakan untuk menyamakan konten AI massal dengan limbah yang “mengotori” linimasa internet.
Tak heran jika kata ini mengandung nada sindiran. Banyak netizen menggunakannya untuk mengejek teknologi yang digadang-gadang cerdas, tetapi justru menghasilkan konten asal jadi. Dari buku Kindle, artikel berita palsu, hingga video aneh di Facebook, semuanya kerap dicap sebagai AI slop. PBS bahkan menyebut istilah ini sebagai bentuk perlawanan budaya terhadap otomatisasi kreativitas.
Menariknya, tren linguistik ini bersifat global. TechCrunch melaporkan bahwa kamus Macquarie juga memilih AI slop sebagai kata tahun ini. Sementara itu, Oxford memilih istilah rage bait, dan Collins menetapkan vibe coding, yang sama-sama mencerminkan dinamika budaya digital.
Baca Juga
Advertisement
Slop Hadir dalam Banyak Bentuk
AI slop tidak terbatas pada satu format. Menurut The Guardian, bentuk yang paling mudah dikenali adalah gambar surealis yang terasa janggal namun viral. Contohnya adalah tren “Shrimp Jesus” di Facebook, yakni gambar Yesus dengan tubuh udang yang memancing interaksi karena keanehannya.
Selain itu, tren Ghiblification juga sempat merajai internet. Ribuan pengguna mengubah foto mereka menjadi gaya animasi Studio Ghibli menggunakan AI. Bahkan, CEO OpenAI Sam Altman ikut mencobanya. Meski viral, tren ini menuai kritik karena dianggap meniru gaya seniman tanpa izin serta mengaburkan nilai orisinalitas karya.
Tak hanya gambar, AI slop juga merambah ke video pendek dengan narasi absurd. Mulai dari kisah ulang tahun manusia berusia 122 tahun hingga cerita hewan yang sepenuhnya fiktif. Dalam bentuk teks dan audio, slop muncul sebagai artikel otomatis, biografi palsu di Amazon, hingga band “hantu” di Spotify yang lagunya dibuat sepenuhnya oleh AI.
Baca Juga
Advertisement
Munculnya Slop Economy
Seiring masifnya produksi konten AI, lahirlah fenomena yang disebut Slop Economy. Ini adalah model ekonomi digital yang mengandalkan volume konten tinggi untuk mengejar pendapatan iklan. Dengan biaya produksi yang sangat rendah, kreator bisa menghasilkan ratusan hingga ribuan konten per hari hanya bermodalkan prompt teks.
Statistiknya mencengangkan. Sebuah studi pada Mei mencatat bahwa hampir 75 persen konten web baru melibatkan AI. Bahkan, laporan lain menyebutkan 9 dari 100 kanal YouTube dengan pertumbuhan tercepat pada pertengahan 2025 berisi konten slop. Hal ini menunjukkan bahwa algoritma platform masih mudah dimanipulasi oleh kuantitas, bukan kualitas.
Beberapa kreator memang meraup keuntungan besar. Seorang kreator asal Ukraina mengaku mengelola ratusan kanal dan menghasilkan hingga 20 ribu dolar AS per bulan. Namun, kesuksesan ini sangat timpang. Diperkirakan hanya sekitar 1 persen kreator yang benar-benar bisa bertahan hidup dari praktik ini.
Baca Juga
Advertisement
Dampak Serius bagi Ekosistem Digital
Di luar kejenuhan, AI slop juga membawa risiko nyata. Banjir konten otomatis mempersulit pengguna menemukan informasi yang valid. Bahkan, dalam situasi krisis, slop bisa menjadi alat disinformasi. Salah satu contohnya adalah penyebaran gambar AI saat Badai Helene di AS, yang digunakan untuk menyerang penanganan pemerintah dan memicu kemarahan publik.
Selain itu, kreator manusia juga terdampak langsung. Majalah fiksi ilmiah Clarkesworld sempat menutup pengiriman naskah karena dibanjiri cerita buatan AI. Wikipedia pun kewalahan membersihkan referensi palsu yang dihasilkan secara otomatis.
Meski demikian, kesadaran publik mulai tumbuh. Platform seperti YouTube kini mewajibkan label AI dan memperketat moderasi. Namun, karena produksi slop bergerak jauh lebih cepat daripada penyaringan, perjuangan menjaga kualitas internet masih panjang.
Baca Juga
Advertisement
Pada akhirnya, penobatan AI slop sebagai Word of the Year 2025 bukan sekadar tren bahasa. Ia adalah peringatan bahwa di tengah kemajuan teknologi, kualitas, etika, dan kreativitas manusia tetap perlu dijaga agar ruang digital tidak tenggelam dalam sampah otomatis.
Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.