Indonesia pernah menikmati periode euforia startup, di mana aliran modal besar dan ekspansi agresif tampak tak terbendung. Puncaknya terjadi sekitar 2021–2022, ketika ekosistem lokal mencatat miliaran dolar investasi, dengan angka total pendanaan nasional yang dilaporkan mencapai sekitar US$3,24 miliar pada 2022, disokong oleh dorongan unicorn dan decacorn lokal.
Di tengah perjalanan, ternyata arah angin berubah. Pada 2023 terjadi koreksi signifikan yang terus berlanjut hingga 2024–2025. Tracxn melaporkan terjadi pendanaan penurunan menjadi US$1,3 miliar pada 2023 dan hanya US$323 juta pada 2024.
Sementara data semester pertama 2025 memperlihatkan sentimen investor yang tetap berhati-hati dengan angka pendanaan yang jauh lebih kecil. Tren ini bukan hanya penurunan jumlah transaksi, tetapi juga diiringi pengetatan due diligence dan tuntutan profitabilitas yang lebih nyata terhadap startup.
Baca Juga
Advertisement

Perubahan iklim investasi ini, diperparah oleh sejumlah guncangan korporasi yang melukiskan risiko tata kelola dan pergeseran model bisnis. eFishery yang pernah dipuja sebagai unicorn agritech lokal, kasusnya bergulir menjadi skandal finansial besar.
Situasi kemudian diikuti pula oleh laporan penurunan operasional, pengurangan besar-besaran staf, dan pengakuan manipulasi laporan keuangan yang mengguncang kepercayaan investor terhadap industri startup di Indonesia. Di sisi lain, TaniHub dan anak-anak bisnisnya juga pernah berada di sorotan publik dan regulator.
Sejak 2024, beberapa unit pembiayaan terkait menghadapi masalah izin dan pengawasan yang ketat (mis. pencabutan izin P2P), yang menambah daftar peringatan tentang risiko tata kelola dan praktik pembiayaan di startup yang menggabungkan layanan keuangan. Kasus-kasus semacam ini memperlihatkan bahwa ekspektasi ‘scale at all costs‘ kini berhadapan dengan regulasi yang lebih tegas dan kehati-hatian modal.
Baca Juga
Advertisement
Akibatnya, atmosfer startup di Indonesia sedang bergeser dari hype menuju fase yang lebih matang dan menuntut. Investor kini meminta metrik unit economics yang jelas, regulator menuntut kepatuhan lebih ketat. Selain itu, sang founder atau pendiri dipaksa mengutamakan efisiensi operasional serta tata kelola yang transparan.
Membaca arah siklus pasar Startup di Indonesia
Co-Founder dan Managing Partner East Ventures Willson Cuaca mengungkapkan, perubahan yang terjadi di atmosfer startup Indonesia tak bisa dipisahkan dari dinamika pasar global. Menurutnya, pada 2009, hingga Maret 202, suku bunga di Amerika, relatif kecil.
Selama periode ini, ia menjelaskan, investor cenderung mengalirkan uangnya ke bidang usaha yang menjanjikan return yang lebih tinggi. Namun, situasi berubah ketika Amerika mulai memutuskan menaikkan suku bunga secara agresif sejak Maret 2022 hingga pertengahan 2023.
Baca Juga
Advertisement
“Dari situ, investor mulai menarik uangnya dari pasar investasi yang spekulatif, seperti startup teknologi,” ujar Willson, pada Tech in Asia Conference 2025, di Jakarta, Rabu (22/10/2025).
Menurutnya, tak bisa dimungkiri lansekap startup di Indonesia, kini memang sudah bergeser. Hype dan euforia yang masih menyelimuti ekosistem startup, kini terasa lebih humble dan investor pun diwarnai oleh rasa kehati-hatian.
“Apa yang terjadi di Indonesia, juga terkait dengan rangkaian berita negatif yang datang silih berganti. Sehingga menimbulkan sentimen negatif,” ujar Willson.
Baca Juga
Advertisement
Hal senada, juga disampaikan pendiri perusahaan modal ventura Init-6, Achmad Zaky. Dalam kesempatan yang sama, Zaky mengungkapkan, perputaran pasar yang berdampak besar dalam dinamika startup Indonesia, tak lepas dari tingkat suku bunga Amerika.
“Amerika memang masih menjadi pusat kapital dunia. Saat ini, para investor masih cenderung menahan uang untuk menunggu kesempatan berinvestasi di startup yang benar-benar bagus,” ujar Zaky.
Menurut Zaky, sebenarnya masih banyak startup Indonesia yang tumbuh secara positif. Beberapa di antaranya, adalah Kopi Kenangan, Kitabisa, Sociolla, HaloDoc, Xendit, Julo, Astri, dan IDN.
Baca Juga
Advertisement
Namun, pemberitaan tentang mereka, tertutupi oleh pemberitaan rangkaian fraud dari eFishery, TaniHub, dan Investree. Selain itu, ada pula startup yang juga gulung tikar, seperti Zenius, Sorabel, dan Fabelio.
Momentum baru AI
Zaky melanjutkan, saat ini sudah saatnya ekosistem startup di Indonesia lebih memfokuskan energinya pada bagaimana para pemain ini bisa berhasil berkembang. “Momentum AI saat ini, bisa menjadi kunci atau napas baru bagi industri ini untuk bangkit dari rentetan sentimen negatif yang lalu,” katanya.
Willson dari East Venture juga mengungkapkan, ke depan, para founder startup di Indonesia bisa memanfaatkan hype pemanfaatan teknologi AI yang kini terus bergulir. “Saat ini, momen AI haruslah di-capture atau dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para pelaku startup,” ujarnya.
Baca Juga
Advertisement
Founder, lanjutnya, juga makin dituntut untuk memiliki integritas. Hal ini, merupakan bagian dari pembelajaran rentetan fraud yang terjadi kemarin. Willson menyarankan, para startup membangun konsep pemanfaatan AI yang lebih fokus pada kebutuhan pasar dan memiliki product market fit (PMF) yang jelas.
Sementara, Zaky juga menyarankan, para pelaku startup yang terjun di pasar AI untuk fokus pada bagaimana AI bisa memberikan solusi nyata bagi permasalahan sehari-hari yang dihadapi pasar Indonesia.
“Kita, di Indonesia terbilang beruntung karena masih banyak sekali masalah dalam keseharian yang bisa di-resolve dengan pemanfaatan AI,” kata Zaky.
Baca Juga
Advertisement
Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.