OpenAI Tutup Sora Secara Mendadak: Biaya Membengkak hingga Tekanan Deepfake Jadi Pemicu?

Openaitutupsora

Langkah mengejutkan datang dari OpenAI. Perusahaan yang dikenal sebagai pelopor kecerdasan buatan ini secara resmi menghentikan Sora, model AI pembuat video dari teks yang sebelumnya sempat mencuri perhatian dunia.

Pengumuman tersebut disampaikan pada Selasa (24/3/2026) dan langsung memicu beragam spekulasi di kalangan industri teknologi. Pasalnya, Sora sebelumnya digadang-gadang sebagai salah satu inovasi besar yang berpotensi mengubah cara produksi konten visual secara global.

Namun, di tengah ekspektasi tinggi tersebut, proyek ambisius ini justru dihentikan. Lantas, apa sebenarnya alasan di balik keputusan mendadak ini?

Advertisement

Biaya Operasional yang Tak Lagi Seimbang

Pada awalnya, banyak pihak menduga bahwa penutupan Sora berkaitan dengan isu privasi atau keamanan data. Akan tetapi, laporan dari The Wall Street Journal mengungkapkan faktor utama yang lebih mendasar, yakni biaya operasional yang sangat tinggi.

Seiring berjalannya waktu, antusiasme pengguna terhadap Sora mulai menurun. Dari yang sempat mencapai sekitar satu juta pengguna aktif, jumlah tersebut turun drastis hingga di bawah 500.000. Penurunan ini menjadi masalah serius karena tidak diikuti dengan efisiensi biaya.

Di sisi lain, OpenAI tetap harus mengeluarkan dana sekitar 1 juta dolar AS per hari untuk menjaga operasional Sora. Biaya tersebut terutama digunakan untuk kebutuhan komputasi tinggi, termasuk penggunaan GPU berperforma tinggi yang menjadi tulang punggung teknologi video berbasis AI.

Advertisement

Akibatnya, secara bisnis, Sora dinilai tidak lagi efisien. Oleh karena itu, OpenAI memilih untuk mengalihkan sumber daya ke pengembangan teknologi lain yang dinilai lebih menjanjikan, khususnya model berbasis teks dan penalaran.

Strategi Pesaing Jadi Sinyal Penting

Di tengah upaya OpenAI mengembangkan teknologi video AI, pesaingnya, Anthropic, justru mengambil pendekatan berbeda. Perusahaan ini memilih fokus pada pengembangan model berbasis teks dan pemrograman.

Strategi tersebut terbukti efektif. Produk mereka, seperti Claude Code, berhasil menarik perhatian pasar, khususnya di kalangan developer dan perusahaan teknologi. Hal ini karena solusi yang ditawarkan lebih relevan dengan kebutuhan industri saat ini.

Advertisement

Kondisi ini menjadi sinyal penting bagi OpenAI. Mengembangkan berbagai lini sekaligus ternyata tidak selalu memberikan hasil optimal. Sebaliknya, fokus pada sektor inti justru dapat memperkuat posisi di pasar.

Sebagai respons, OpenAI akhirnya memutuskan untuk memprioritaskan pengembangan model bahasa (LLM) yang dianggap lebih fundamental dan memiliki potensi bisnis jangka panjang yang lebih besar.

Dampak ke Kerja Sama dengan Disney

Keputusan ini juga berdampak pada kerja sama besar yang sebelumnya dijalin dengan The Walt Disney Company. Pada Desember lalu, Disney dikabarkan berencana menginvestasikan hingga 1 miliar dolar AS ke OpenAI.

Advertisement

Kolaborasi tersebut bertujuan untuk membawa karakter-karakter ikonik Disney ke dalam ekosistem Sora. Bahkan, rencana ini juga diharapkan dapat memperkuat layanan streaming seperti Disney+ melalui pengalaman konten yang lebih interaktif.

Namun, rencana ambisius tersebut harus terhenti secara tiba-tiba. Menurut laporan, Disney bahkan baru mengetahui keputusan penutupan Sora kurang dari satu jam sebelum pengumuman resmi dirilis ke publik.

Meski demikian, pihak Disney tetap merespons secara diplomatis. Mereka menyatakan tetap menghormati keputusan OpenAI dan membuka peluang untuk kerja sama teknologi di masa depan, selama dilakukan secara bertanggung jawab.

Advertisement

Tekanan IPO dan Risiko Deepfake

Selain faktor biaya dan strategi bisnis, penghentian Sora juga diduga berkaitan dengan rencana OpenAI menuju penawaran saham perdana atau IPO. Dengan valuasi yang disebut mencapai ratusan miliar dolar AS, perusahaan tentu perlu menunjukkan efisiensi operasional kepada calon investor.

Dalam konteks ini, menghentikan produk yang belum memberikan keuntungan optimal menjadi langkah yang cukup logis.

Di sisi lain, Sora juga memunculkan kekhawatiran besar terkait penyalahgunaan teknologi, terutama dalam bentuk deepfake. Kemampuannya menghasilkan video realistis, termasuk karakter populer, menimbulkan pertanyaan serius tentang hak cipta dan etika penggunaan AI.

Advertisement

Tekanan regulasi pun semakin meningkat. Oleh karena itu, penghentian Sora dapat menjadi langkah strategis untuk mengurangi risiko hukum sekaligus meredakan kekhawatiran publik.

Sebelumnya, Kepala Proyek Sora, Bill Peebles, juga sempat menyinggung keterbatasan pasokan chip sebagai salah satu tantangan dalam pengembangan teknologi ini.

Fokus Baru OpenAI

Sebagai penutup, langkah OpenAI menghentikan Sora menandai perubahan arah strategi perusahaan. Alih-alih mempertahankan proyek yang belum matang secara komersial, mereka memilih fokus pada teknologi yang lebih stabil dan berpotensi menghasilkan keuntungan jangka panjang.

Advertisement

Kini, OpenAI mengarahkan pengembangan ke model berbasis teks dan penalaran, yang dinilai lebih relevan dengan kebutuhan industri saat ini.

Meskipun keputusan ini mengejutkan banyak pihak, langkah tersebut mencerminkan dinamika cepat dalam industri AI. Di tengah persaingan yang semakin ketat, efisiensi, fokus, dan strategi jangka panjang menjadi kunci utama untuk bertahan dan berkembang.

Advertisement

Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.