Guru Besar IPB Optimistis Indonesia Mampu Jadi Pemain Revolusi Kuantum 2.0

Revolusi Kuantum 2.0
Guru Besar Fisika Teori IPB Univesity dalam acara Kopi Sains di Jakarta, Jumat (19/9). [Foto: Nadhira/GadgetDiva].

Guru Besar Fisika Teori IPB Univesity Husin Alatas menyatakan optimistis bahwa Indonesia bisa ikut berkontribusi dalam revolusi kuantum 2.0. Meskipun sebelumnya sempat tertinggal. 

“Saya meyakini bahwa bangsa kita mau ikut. Ini bukan basa-basi. Saya meyakini bahwa bangsa kita mau ikut. Tinggal pertanyaannya, apakah ada political will, apakah ada semangat, apakah ada motivasi untuk mengembangkannya?” ungkap Husin dalam acara Kopi Sains di Jakarta, Jumat (19/9). 

Revolusi kuantum 2.0 merupakan suatu tingkatan dalam perkembangan teknologi yang mencakup komputasi kuantum, komunikasi kuantum dan aplikasi sains kuantum. Tujuannya untuk mempercepat inovasi dan riset di berbagai bdiang. 

Advertisement

Husin melihat bahwa revolusi kuantum 2.0 merupakan suatu keniscayaan. Dunia 10 tahun ke depan akan jauh lebih cepat berubah jika dibandingkan dengan 50 tahun ke belakang. Kalau Indonesia tidak cepat mengkonsolidasikan diri maupun berokrestasi sebagai sebuah bangsa, maka kemungkinan akan kembali tertinggal. 

Ia menganalogikan peluang Indonesia sebagai efek tunneling atau efek terobosan yang ada pada teori kuantum. Efek ini mampu memberikan lompatan yang jauh meski energinya kecil. 

“Apa artinya efek terobosan? Kalau saya bisa lopat 1 meter, maka secara kuantum saya bisa lompat 100 meter. Jadi, meskipun energi saya kecil, tapi saya bisa melampaui penghalan yang energinya besar,” imbuh Husin. 

Advertisement

Lantas, apa langkah yang harus dilakukan pemerintah supaya Indonesia siap mencapai era kuantum 2.0? Pertama, ia menekankan pentingnya political will sebagai kunci utama. 

“Pertama, political will. Political will bahwa akan ada kebijakan-kebijakan politik yang berpihak pada pengembangan teknologi-teknologi cutting edge ini,” jelasnya. 

Setelah political will terbentuk, langkah selanjutnya ialah mempersiapkan fasilitas dan mempersiapkan SDM. Menurutnya, mempersiapkan SDM lebih sulit daripada mempersiapkan fasilitas. 

Advertisement

“Mempersiapkan SDM itu lebih sulit ketimbang mempersiapkan fasilitas. Kenapa? Karena fasilitas bisa dibeli. Kalau SDM, harus kita bangun sendiri, harus kita cetak dan itu butuh waktu 5 tahun, 10 tahun,” pungkas Husin. 

Kendati demikian, Husin tetap optimis dengan kemampuan bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, harus ada dukungan masyarakt dalam mendorong terwujudnya political will. 

“Tapi, bukan berarti kita tidak bisa. Kita bisa. Kita ini siap sebetulnya sebagai sebuah bangsa. Kita optimis. Tapi kalau enggak ada syarat yang pertama, enggak bisa jalan dan political will juga bisa direalisasi kalau ada dorongan dari masyarakat,” katanya. 

Advertisement

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pemanfaatan dan Diseminasi Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Yudi Darma sependapat dengan Husin. Ia mendorong para mahasiswa untuk berpartisipasi mendalami fenomena kuantum, kuantum sains dan kuantum teknologi. 

“Kami menunggu partisipasi semua, terutama mahasiswa untuk mau berkontri busi dan berpartisipasi mendalami fenomena kuantum, kuantum sains dan kuantum teknologi,” tegasnya.

Meskipun ia mengakui bahwa Indonesia masih tertinggal dalam teknologi kuantum. Hal ini disebabkan rasio peneliti kuantum belum bisa mengejark negara-negara maju. 

Advertisement

“Rasio peneliti kuantum kita dibandingkan beberapa negara maju, memang kita juga tertinggal. Tadi saya ditanya, mungkin lapangan kerjanya nggak menjanjikan, pak. Mungkin sekarang iya, tapi mudah-mudahan kondisi semakin bagus, semakin baik,” tandas Yudi. 

Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.