TikTok Live mati pada 28 Agustus 2025. Bagi sebagian orang, itu hanya fitur digital yang terhenti. Tetapi bagi ribuan pelaku bisnis, dari pedagang pakaian, penjual tas preloved, sampai pelaku usaha makanan beku, padamnya live bukan sekadar masalah teknis. Ia menjelma luka ekonomi, meninggalkan dapur tanpa api bagi pelaku bisnis yang selama ini mengandalkan jualan di live stream Tiktok. Empat hari tanpa siaran terasa panjang.
Di Bandung, Bunama Store, salah satu pelaku bisnis fasyen yang aktif berjualan melalui Tiktok Live melalui para affiliator yang sampai 1.000 harus menerima ketika layar ponselnya menampilkan peringatan: fitur live tidak tersedia. Aliran utama bisnis baru saja terhenti.

Bunama bukan toko kecil. Bisnis yang didirikan oleh Cepi Wiracandra ini produksinya mencapai 4.000 potong pakaian per hari, dengan 60 karyawan tetap dan ratusan penjahit rumahan di Majalaya, Leuwi Panjang, hingga Batujajar yang menggantungkan hidup pada pesanan mereka.
Baca Juga
Advertisement
Sebelum 28 Agustus, Bunama terbiasa menerima 6.000 pesanan per hari. Pada momen khusus seperti tanggal kembar, penjualannya bahkan bisa menembus belasan ribu. Semua itu lahir dari siaran live: host menyapa, penonton berkomentar, dan produk berpindah ke keranjang kuning hanya dengan sekali klik.
Interaksi sederhana itu adalah denyut utama bisnis. Namun begitu live terkunci, omzet jatuh lebih dari separuh. “Kami ambil langkah dengan lebih kreatif menghadirkan showcase dan video singkat tetapi ternyata kurang mampu menggantikan energi interaktif yang ditawarkan live. Bayangkan, ratusan orang tiba-tiba tidak bisa makan hanya karena satu tombol dikunci,” ujar Sahal Lisanul Anwar, Marketing Manager Bunama mewakili pemilik menjawab pertanyaan Gadgetdiva melalui telepon.

Cerita lain datang dari Jakarta. Anik, pemilik akun Tiktok Storembakyu3, yang khusus menjual tas bermerek dari US, baik preloved maupun baru. Tas-tas kelas menengah seperti Coach, Fossil, atau Kate Spade dan sebagainya menjadi fokus jualan Anik selama 4 tahun terakhir.
Setiap live di Tiktok dia selalu tampil ramah di layar, menyapa pembeli dengan nama, menjawab pertanyaan tentang kualitas produk, dan menyelipkan canda agar suasana cair. Baginya, live bukan hanya tentang transaksi, melainkan juga percakapan. “Saya resign sebagai pengajar hanya untuk fokus di sini. Jualan Live di Tiktok adalah hidup saya,” kata perempuan ayu ini lirih.
Baca Juga
Advertisement
Namun malam itu, Anik, tak bisa menekan tombol siaran. Ia mencoba berulang kali, bahkan dia sempat mengikuti usulan temannya dengan VPN, tetapi hasilnya mengecewakan. Jumlah penonton yang biasanya ratusan susut tinggal puluhan. Algoritma Tiktok -nya jadi berantakan.

Penjualan jatuh drastis, sementara dua karyawannya menunggu gaji dan stok tas menumpuk di gudang. “Kerugiannya bukan hanya uang. Saya kehilangan kepercayaan pembeli. Mereka terbiasa ngobrol langsung, sekarang seperti bicara dengan dinding,” ucapnya.
Dari berbagai daerah, kisah serupa terdengar. Penjual makanan beku merugi karena stok di freezer tak terserap pasar. Pedagang kosmetik gagal meluncurkan produk baru. Penjual kerajinan tangan tak lagi bisa menunjukkan detail barang lewat kamera. Banyak yang mengaku kehilangan hingga 80 persen omzet dalam empat hari.
Baca Juga
Advertisement
TikTok akhirnya bersuara pada 2 September 2025. Edwin Marcel L., Senior Manager Communications ByteDance, sebagai juru bicara Tiktok melalui pesan WhatsApp menyampaikan permintaan maaf terlambat menjawab beberapa kali pesan yang dikirim media padanya. Melalui pesan tersebut dia juga mengumumkan bahwa TikTok Live kembali aktif. (Baca juga)
Ia menegaskan ada pengamanan tambahan, tetapi tak merinci apa yang sebenarnya terjadi. Di sisi lain, Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafidz, menegaskan bahwa keputusan menonaktifkan live datang langsung dari TikTok. “Pemerintah hanya menghimbau, kami memahami banyak UMKM terdampak, tapi kami berharap ini tidak berlangsung lama,” katanya saat ditanya wartawan usai Rapat Kabinet di Komplek Istana Kepresidenan Jakarta, Minggu (31/8).
Benarkah semua keputusan ada di tangan perusahaan global itu? Atau ada tekanan dari luar, melihat situasi politik yang memanas kala demo besar pecah? Bagi para pelaku bisnis, jawaban itu tak lagi penting. Yang mereka tahu hanyalah, bisnis mereka terdampak.
Baca Juga
Advertisement
Bagi para pedagang, jawaban itu tak penting lagi. Kerugian sudah telanjur menumpuk. Ratusan pesanan dibatalkan, ada yang stoknya sampai kedaluwarsa, dan kepercayaan pelanggan menurun.
Hari ini, live kembali menyala, penjual berbondong-bondong menekan tombol siaran. Notifikasi pesanan berdenting lagi, komentar kembali deras, dan wajah-wajah host kembali cerah. Namun, luka empat hari itu tak hilang begitu saja. Banyak pelanggan yang sempat berpindah ke toko lain, banyak rencana promo yang gagal, dan banyak karyawan yang sempat cemas apakah besok masih bisa bekerja.
Paradiva, kisah ini mengingatkan betapa rapuhnya fondasi ekonomi digital kita. Para pelaku UMKM menggantungkan hidup pada platform global yang kendalinya berada jauh dari jangkauan mereka. Satu keputusan bisa menyesakkan ribuan keluarga.
Baca Juga
Advertisement
Sahal mengusulkan, ke depan ada pemisahan jelas antara fitur live sosial atau hiburan dan fitur bisnis, agar pedagang tak menjadi korban ketika terjadi kebijakan sepihak saat kondisi keamanan tidak kondusif seperti sekarang. Anik pun menyampaikan hal senada, baiknya ada alternatif, agar para seller tak hanya punya satu panggung yang bisa padam sewaktu-waktu.
“Kalau akun kami jelas verifikasi sebagai penjual, seharusnya tidak dipukul rata. Jangan lagi kami para pelaku bisnis jadi korban,” tandas Sahal.
Hari-hari setelah 2 September memang kembali normal. Namun ingatan tentang 28 Agustus akan selalu membekas. Bagi para pedagang kecil, padamnya TikTok Live bukan sekadar gangguan teknis. Ia adalah peringatan bahwa di balik layar ponsel yang sunyi, ada ribuan dapur yang ikut meredup.
Baca Juga
Advertisement
TikTok Live memang sudah kembali, tetapi luka yang ditinggalkannya masih terasa. Dan bagi Anik, Bunama, serta ribuan UMKM lainnya, harapan mereka sederhana: semoga tak ada lagi hari ketika pasar digital mendadak padam, meninggalkan hanya kesunyian dan kerugian.
Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.