Industri kecerdasan buatan global tengah berada dalam fase yang unik. Untuk pertama kalinya, banyak perusahaan AI membangun model dasar (foundation model) mereka sendiri, bukan sekadar mengembangkan aplikasi turunan. Di sisi lain, muncul generasi baru pendiri startup yang sebelumnya merupakan veteran raksasa teknologi, lengkap dengan reputasi mentereng dan ambisi besar.
Namun di balik geliat tersebut, muncul satu pertanyaan penting: apakah semua laboratorium AI ini benar-benar ingin menghasilkan uang?
Kini, semakin sulit membedakan mana perusahaan yang serius mengejar keuntungan dan mana yang lebih fokus pada riset ilmiah semata. Sebab, di tengah banjir investasi AI bernilai miliaran dolar, hampir semua ide terdengar layak didanai.
Baca Juga
Advertisement
Untuk memudahkan pemetaan ambisi tersebut, muncul sebuah pendekatan berupa skala lima tingkat bagi perusahaan pembuat model AI. Skala ini bukan mengukur kesuksesan finansial, melainkan seberapa besar niat mereka untuk menghasilkan uang.
Level tertinggi adalah perusahaan yang sudah mencetak jutaan dolar setiap hari. Di bawahnya ada startup dengan rencana matang menjadi raksasa bisnis global. Lalu ada perusahaan dengan ide produk menjanjikan, meski belum jelas bentuknya. Berikutnya adalah mereka yang baru punya konsep kasar. Dan yang paling bawah adalah lab yang menganggap kekayaan sejati bukan soal uang, melainkan kepuasan ilmiah.
Perusahaan besar seperti OpenAI, Anthropic, dan Gemini jelas berada di level tertinggi. Namun menariknya, generasi baru startup AI justru berada di zona abu-abu.
Baca Juga
Advertisement
Humans&: Visi Besar, Produk Masih Kabur
Humans& menjadi sorotan baru di dunia AI. Para pendirinya menawarkan pendekatan segar untuk generasi model AI berikutnya, dengan fokus pada komunikasi dan koordinasi antar sistem, bukan sekadar memperbesar skala model.
Meski begitu, mereka masih cukup tertutup soal bagaimana teknologi ini akan menghasilkan uang. Sejauh ini, Humans& hanya memberi gambaran tentang alat kerja berbasis AI yang akan menggantikan Slack, Jira, hingga Google Docs sekaligus mendefinisikan ulang cara orang bekerja di era digital.
Konsep tersebut terdengar futuristik, namun juga membingungkan. Meski demikian, karena ada arah menuju produk nyata, Humans& dinilai berada di Level 3: penuh potensi, tapi belum konkret.
Baca Juga
Advertisement
Thinking Machines Lab: Ambisi Besar yang Mulai Goyah
Thinking Machines Lab (TML) awalnya tampak sebagai kandidat kuat Level 4. Dipimpin Mira Murati, mantan CTO OpenAI, startup ini bahkan berhasil menggalang dana awal hingga US$2 miliar angka fantastis untuk perusahaan baru.
Namun situasi berubah cepat. Kepergian salah satu pendiri sekaligus CTO Barret Zoph, diikuti beberapa karyawan lain, memicu spekulasi soal arah perusahaan. Bahkan hampir separuh tim eksekutif awal kini sudah tak lagi di sana.
Banyak yang menduga, rencana besar TML ternyata tidak sematang yang dibayangkan. Meski belum cukup bukti untuk menurunkan peringkat mereka, tanda-tanda keraguan mulai terlihat.
Baca Juga
Advertisement
World Labs: Dari Riset ke Peluang Bisnis Nyata
World Labs, perusahaan AI milik profesor Stanford Fei-Fei Li, awalnya dipandang sebagai proyek riset kelas dunia. Dengan reputasi akademik luar biasa, Li sebenarnya bisa menghabiskan hidupnya hanya dengan penghargaan ilmiah.
Namun sejak berdiri pada 2024 dan mengantongi pendanaan US$230 juta, World Labs melaju cepat. Mereka kini sudah merilis model AI yang mampu menciptakan dunia virtual lengkap, serta produk komersial berbasis teknologi tersebut.
Lebih menarik lagi, industri game dan efek visual mulai menunjukkan permintaan besar terhadap teknologi world-modeling ini sementara lab AI besar lainnya belum punya pesaing sepadan. Kondisi ini menempatkan World Labs di Level 4, bahkan berpotensi naik ke Level 5 dalam waktu dekat.
Baca Juga
Advertisement
Safe Superintelligence: Ilmiah Dulu, Bisnis Belakangan
Safe Superintelligence (SSI) yang didirikan mantan kepala ilmuwan OpenAI, Ilya Sutskever, menjadi contoh klasik Level 1. Fokus utamanya adalah membangun AI supercerdas dengan aman, tanpa tekanan komersial.
Sutskever bahkan menolak upaya akuisisi dari Meta demi menjaga independensi risetnya. Tak ada produk, tak ada siklus penjualan hanya penelitian murni. Meski begitu, SSI tetap berhasil mengumpulkan dana fantastis hingga US$3 miliar.
Namun Sutskever sendiri mengakui bahwa perubahan arah bisa saja terjadi. Jika riset berjalan terlalu lama atau justru berkembang sangat pesat, SSI mungkin akan masuk ke dunia komersial lebih cepat dari dugaan.
Baca Juga
Advertisement
Ambisi yang Kini Jadi Drama Industri AI
Kebingungan soal niat bisnis inilah yang memicu banyak drama di industri AI saat ini. Perubahan OpenAI dari non-profit ke entitas komersial, misalnya, terjadi begitu cepat hingga mengejutkan banyak pihak.
Pada akhirnya, di era ketika uang mengalir deras ke teknologi kecerdasan buatan, pertanyaan bukan lagi siapa yang bisa membuat AI canggih melainkan siapa yang benar-benar ingin menjadikannya bisnis besar. Dan di situlah, masa depan industri AI akan ditentukan.
Baca Juga
Advertisement
Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.