Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) terus mengalami pergeseran fungsi. Jika sebelumnya AI lebih dikenal sebagai alat bantu produktivitas dan pencarian informasi, kini perannya semakin meluas. Hal ini tercermin dalam survei terbaru Kaspersky yang mengungkap bahwa lebih dari 30 persen pengguna di Indonesia memilih berinteraksi dengan AI ketika merasa sedih.
Temuan ini menunjukkan bahwa AI tidak lagi sekadar asisten digital, melainkan mulai dipandang sebagai pendamping emosional, terutama di kalangan generasi muda. Namun, di balik kemudahan dan kenyamanan tersebut, para ahli keamanan siber mengingatkan adanya potensi risiko terhadap privasi dan keamanan data pribadi.
AI Semakin Populer Selama Musim Liburan
Berdasarkan survei yang dilakukan Kaspersky pada November 2025, popularitas AI selama musim liburan 2025/2026 terbilang sangat tinggi. Secara global, sebanyak 74 persen responden menyatakan berencana memanfaatkan AI dalam berbagai aktivitas liburan mereka.
Baca Juga
Advertisement
Sementara itu, antusiasme terbesar datang dari kelompok usia muda. Sebanyak 86 persen responden berusia 18 hingga 34 tahun mengaku akan menggunakan AI selama masa liburan. Angka ini menegaskan bahwa Generasi Z dan milenial menjadi pendorong utama adopsi teknologi kecerdasan buatan dalam kehidupan sehari-hari.
Peran AI dalam Merencanakan Liburan
Dalam praktiknya, AI banyak dimanfaatkan untuk menyederhanakan proses perencanaan liburan. Lebih dari separuh pengguna AI mengaku menggunakan teknologi ini untuk mencari resep makanan (56 persen) serta rekomendasi restoran dan akomodasi (54 persen).
Selain itu, AI juga berfungsi sebagai sumber inspirasi. Sekitar 50 persen responden memanfaatkan AI untuk bertukar ide terkait hadiah, konsep perayaan, hingga dekorasi Natal dan Tahun Baru. Jumlah yang sama juga mengandalkan AI untuk mendapatkan ide tentang cara menghabiskan waktu luang selama liburan.
Baca Juga
Advertisement
Di sisi lain, AI turut berperan sebagai asisten belanja digital. Sekitar separuh responden menganggap AI mampu membantu membuat daftar belanja, membandingkan harga, hingga menganalisis ulasan produk. Generasi muda bahkan menunjukkan minat besar terhadap AI sebagai perencana anggaran, dengan 50 persen responden usia 18–34 tahun mempercayakan pengelolaan keuangan mereka pada teknologi ini.
Sebaliknya, kelompok usia di atas 55 tahun cenderung lebih berhati-hati. Hanya 31 persen dari mereka yang bersedia menggunakan AI untuk mengatur pengeluaran, sementara mayoritas lebih memilih memanfaatkannya untuk mencari resep dan ide hadiah.
Kemudahan yang Disertai Risiko Keamanan
Meski menawarkan kenyamanan, penggunaan AI tetap menyimpan risiko. Informasi yang dihasilkan chatbot belum tentu sepenuhnya akurat atau aman. Kaspersky menekankan pentingnya memeriksa setiap tautan yang disarankan oleh AI, karena berpotensi mengarah ke situs berbahaya atau upaya phishing.
Baca Juga
Advertisement
Oleh karena itu, para ahli keamanan siber menyarankan penggunaan solusi keamanan digital yang dilengkapi teknologi deteksi phishing berbasis AI guna meminimalkan risiko kebocoran data.
AI sebagai Pendamping Emosional
Menariknya, survei ini juga menyoroti peran baru AI sebagai pendamping emosional. Secara global, 29 persen pengguna AI mengaku bersedia berbicara dengan chatbot ketika merasa tidak bahagia. Namun, di Indonesia, angkanya lebih tinggi, yakni mencapai 31 persen.
Minat terbesar kembali datang dari Generasi Z dan milenial. Sebanyak 35 persen responden dari kelompok usia ini memilih AI sebagai tempat berbagi perasaan. Sebaliknya, hanya 19 persen responden berusia 55 tahun ke atas yang tertarik memanfaatkan AI untuk dukungan emosional.
Baca Juga
Advertisement
Fenomena ini menandakan perubahan cara masyarakat memandang teknologi, khususnya dalam konteks kesehatan emosional dan kenyamanan psikologis.
Privasi Tetap Menjadi Perhatian Utama
Kaspersky mengingatkan bahwa meskipun percakapan dengan AI terasa personal, sebagian besar chatbot dimiliki oleh perusahaan komersial yang memiliki kebijakan pengumpulan data masing-masing. Oleh karena itu, pengguna disarankan untuk tetap waspada.
Beberapa langkah yang disarankan antara lain meninjau kebijakan privasi sebelum menggunakan layanan AI, menghindari berbagi informasi sensitif seperti data identitas dan keuangan, serta memilih layanan AI dari perusahaan yang memiliki reputasi baik dalam hal keamanan dan privasi.
Baca Juga
Advertisement
Selain itu, pengguna juga dianjurkan untuk memperlakukan percakapan dengan AI layaknya unggahan di ruang publik digital, bukan komunikasi yang sepenuhnya rahasia.
Sikap Kritis Tetap Dibutuhkan
Menanggapi tren ini, Vladislav Tushkanov, Manajer Grup di Kaspersky AI Technology Research Center, menegaskan bahwa meskipun kemampuan model AI terus berkembang, pengguna tetap perlu bersikap kritis.
“Model AI belajar dari data yang sebagian besar bersumber dari internet. Artinya, mereka juga bisa mengulang kesalahan dan bias. Karena itu, penting untuk menyikapi saran AI dengan skeptisisme yang sehat dan menghindari berbagi informasi secara berlebihan,” ujarnya.
Baca Juga
Advertisement
Survei ini melibatkan 3.000 responden dari 15 negara, termasuk Indonesia, dan menjadi gambaran nyata bagaimana AI kini semakin terintegrasi dalam aspek praktis hingga emosional kehidupan manusia.
Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.