Pada Oktober 2021, Mark Zuckerberg membuat keputusan besar yang mengubah arah perusahaannya secara drastis. Ia mengumumkan bahwa Facebook resmi bertransformasi menjadi Meta, sebuah identitas baru yang dirancang untuk menunjukkan fokus penuh perusahaan terhadap masa depan virtual bernama metaverse. Saat itu, banyak yang memandang langkah ini sebagai visi berani yang bisa mengubah cara manusia berinteraksi di dunia digital.
Namun, seiring waktu berjalan, harapan itu berubah menjadi kenyataan pahit. Alih-alih menjadi teknologi revolusioner, proyek metaverse justru berkembang menjadi salah satu pertaruhan bisnis paling mahal dan paling meragukan dalam sejarah industri teknologi.
Kerugian Fantastis yang Membuat Investor Gelisah
Sejak 2021, Meta sudah menghabiskan lebih dari USD 70 miliar atau sekitar Rp 1.100 triliun untuk membiayai pembangunan metaverse dan ekosistem realitas virtualnya. Angka ini bukan sekadar besar, tetapi mengguncang investor, terutama karena belum ada tanda-tanda bahwa publik benar-benar tertarik menghabiskan waktu di dunia virtual yang dijanjikan Zuckerberg.
Baca Juga
Advertisement
Seiring kerugian yang membengkak, pertanyaan publik pun semakin keras:
Apakah metaverse benar-benar masa depan, atau hanya mimpi mahal Zuckerberg?
Horizon Worlds: Dunia Virtual yang Tak Memikat
Salah satu penyebab utama kegagalan proyek ini adalah Horizon Worlds, platform sosial virtual yang menjadi pusat metaverse Meta. Sayangnya, platform ini justru menjadi simbol dari apa yang salah dalam proyek tersebut.
Secara visual, banyak pengguna mengeluhkan tampilan karakter yang kaku dan grafis yang terasa seperti gim era 2000-an. Alih-alih menciptakan dunia imersif yang memukau, Horizon Worlds justru terlihat seperti proyek setengah matang yang jauh dari kualitas yang dijanjikan pada awal peluncuran.
Baca Juga
Advertisement
Dari sini, jelas bahwa Meta gagal menghadirkan pengalaman virtual yang cukup menarik untuk membuat orang bertahan, apalagi menghabiskan waktu berjam-jam seperti yang diharapkan Zuckerberg.Gelombang PHK dan Pemangkasan Anggaran Besar-BesaranKegagalan dalam menarik pengguna makin diperparah dengan kerugian finansial yang terus menumpuk. Menurut laporan Bloomberg, Meta kini tengah mempertimbangkan pemangkasan anggaran hingga 30% untuk tim yang fokus mengembangkan Horizon Worlds dan perangkat VR Quest.
Tidak hanya anggaran yang dipotong, tetapi juga terjadi gelombang PHK besar-besaran. Perusahaan disebut-sebut akan memulai pemutusan hubungan kerja baru pada awal Januari, meski keputusan final masih dalam pembahasan. Langkah ini menegaskan satu hal: metaverse bukan lagi prioritas utama Meta.
Pemangkasan ini juga menjadi sinyal kuat bahwa perusahaan mulai realistis dan mengakui bahwa mahar besar yang digelontorkan untuk metaverse tidak berbanding lurus dengan hasil yang dicapai.
Baca Juga
Advertisement
Zuckerberg Gagal Meyakinkan Publik
Salah satu alasan mengapa metaverse sulit diterima adalah karena Zuckerberg gagal menunjukkan manfaat nyata yang bisa dirasakan pengguna. Meski Metaverse didengungkan sebagai “masa depan internet,” banyak orang justru mempertanyakan nilai tambahnya.
Penggunaan headset VR, misalnya, masih dianggap merepotkan dan mahal. Sementara itu, pengalaman yang ditawarkan belum cukup menarik dibandingkan dengan penggunaan smartphone atau komputer yang jauh lebih nyaman.
Dengan kata lain, Zuckerberg berusaha mengarahkan publik ke masa depan yang belum mereka butuhkan—dan belum mereka inginkan.
Baca Juga
Advertisement
Ambisi Terlalu Besar, Teknologi Belum Siap
Jika ditelusuri lebih jauh, kegagalan ini juga disebabkan oleh ketidakseimbangan antara ambisi dan kesiapan teknologi. Untuk menciptakan metaverse yang benar-benar imersif, diperlukan perangkat keras dan perangkat lunak yang jauh lebih canggih dari yang saat ini tersedia.
Sayangnya, perkembangan teknologi VR belum cukup cepat untuk mendukung visi besar Zuckerberg. Akibatnya, proyek ini terasa tergesa-gesa, mahal, dan tidak memiliki pasar yang solid.
Akhir dari Metaverse?
Dengan semua kondisi tersebut—mulai dari kerugian triliunan, pemangkasan anggaran, PHK, hingga rendahnya minat publik—banyak analis menilai bahwa proyek metaverse Meta sudah berakhir bahkan sebelum berkembang. Beberapa menyebutnya sebagai salah satu kegagalan paling monumental di dunia teknologi modern.
Baca Juga
Advertisement
Walaupun Zuckerberg belum secara resmi menyatakan menyerah, arah perusahaan kini tampak bergerak menjauh dari fokus metaverse. Meta mulai menempatkan lebih banyak perhatian pada AI, teknologi yang jauh lebih matang dan lebih diminati publik saat ini.
Pada akhirnya, proyek metaverse menjadi pelajaran mahal tentang bagaimana visi besar tidak selalu sejalan dengan realitas pasar dan perkembangan teknologi.
Baca Juga
Advertisement
Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.