Kaspersky Ungkap Risiko di Balik Tren Karikatur AI yang Viral

Kaspersky Ai

Fenomena baru tengah melanda media sosial, di mana pengguna berbondong-bondong mengunggah foto pribadi untuk diubah oleh kecerdasan buatan (AI) menjadi ilustrasi atau karikatur unik. Tren ini menampilkan visualisasi kehidupan seseorang, mulai dari lingkungan kerja hingga momen keluarga, yang kini membanjiri platform seperti Instagram, TikTok, hingga LinkedIn sebagai konten hiburan yang menarik.

​Namun, di balik kreativitas tersebut, para pakar keamanan siber menyuarakan peringatan serius mengenai ancaman privasi. Praktik memberikan data diri demi sebuah gambar animasi dianggap dapat mengekspos informasi sensitif. Hal ini membuka celah bagi pelaku kejahatan siber untuk merancang skema penipuan yang sangat personal dan meyakinkan berdasarkan profil digital yang baru saja dibentuk.

​Analisis dari Kaspersky mengungkapkan bahwa proses pembuatan karikatur ini berbeda dengan filter foto biasa. Pengguna seringkali memberikan akses tanpa batas kepada AI dengan perintah yang mencakup “semua yang diketahui” tentang mereka. Akibatnya, elemen seperti identitas perusahaan, jabatan, hingga rutinitas harian ikut terserap dalam sistem demi menghasilkan gambar yang akurat.

Advertisement

​Kumpulan data tersebut menjadi aset berharga bagi penjahat siber untuk membangun profil korban yang mendetail. Dengan menggabungkan konteks pekerjaan, lokasi yang sering dikunjungi, dan hubungan keluarga, pelaku dapat menciptakan pesan penipuan yang terlihat sangat otentik. Hal ini secara signifikan meningkatkan risiko korban terjebak dalam membagikan uang atau informasi rahasia.

​Kondisi ini sangat mengkhawatirkan di wilayah Asia Pasifik, termasuk Indonesia, di mana tingkat adopsi teknologi AI sangat tinggi namun tidak dibarengi dengan literasi digital yang memadai. Banyak profesional menggunakan AI setiap minggu, tetapi mereka masih rentan terhadap teknik rekayasa sosial karena kurangnya pemahaman tentang cara kerja sistem keamanan data.

​Selain risiko penipuan langsung, masalah penyimpanan data juga menjadi sorotan. Tergantung pada kebijakan platform, foto asli, riwayat instruksi, hingga data teknis seperti alamat IP dapat disimpan secara permanen oleh penyedia layanan. Informasi ini sering digunakan untuk melatih model AI, yang berarti data pribadi Anda mungkin tetap tersimpan jauh lebih lama dari yang diperkirakan.

Advertisement

​Adrian Hia dari Kaspersky menekankan bahwa memberikan detail pribadi kepada AI demi sebuah ilustrasi cerdas sama saja dengan memberikan “cetak biru” serangan bagi penipu. Menurutnya, potret digital ini adalah peta berbahaya yang mengubah email phishing biasa menjadi serangan yang sangat personal sehingga sulit dideteksi bahkan oleh pengguna yang berhati-hati sekalipun.

​Untuk tetap aman sambil bereksperimen dengan kreativitas digital, pengguna disarankan untuk menjaga kebersihan data. Hindari memasukkan detail spesifik seperti alamat rumah atau jadwal harian ke dalam kolom isian AI. Selain itu, pastikan untuk tidak mengunggah foto yang memperlihatkan dokumen penting atau wajah anak di bawah umur, serta selalu periksa kebijakan privasi platform sebelum mulai menggunakannya.

Advertisement

Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.

Jurnalis teknologi dan gadget sejak 2005. Mulai dari Majalah Digicom, pernah di Tabloid Ponselku, pendiri techno.okezone.com, 5 tahun di Viva.co.id, 2 tahun di Uzone.id. Pernah bikin majalah digital Klik Magazine, sempat di perusahaan VAS Celltick Technologies. Sekarang jadi founder Gadgetdiva.id, bantuin Indotelko.com dan Gizmologi.id. Supermom dengan 2 orang superkids.