Forum Ekonomi Dunia atau World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, tahun ini terasa jauh berbeda. Jika sebelumnya dikenal sebagai ajang diskusi isu global seperti perubahan iklim dan kemiskinan, kini suasananya justru menyerupai konferensi teknologi berskala raksasa.
Sejumlah tokoh besar industri teknologi tampil bergantian di panggung utama. Mulai dari CEO Tesla Elon Musk, CEO Nvidia Jensen Huang, CEO Anthropic Dario Amodei, hingga CEO Microsoft Satya Nadella. Tak heran, topik utama yang mendominasi hampir semua sesi adalah kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Namun menariknya, pembahasan AI bukan hanya soal potensi masa depan yang gemilang. Para CEO juga secara terbuka mengakui kekhawatiran bahwa industri ini bisa saja tengah membangun “gelembung besar” yang suatu hari berisiko pecah. Di tengah optimisme tinggi, muncul pula sindiran tajam antar pemain industri bahkan kepada mitra bisnis mereka sendiri.
Baca Juga
Advertisement
Dalam podcast TechCrunch Equity, jurnalis TechCrunch Kirsten Korosec dan Sean O’Kane mengulas perubahan drastis wajah Davos tahun ini.
Menurut Kirsten, topik-topik klasik seperti perubahan iklim justru semakin sepi peminat. Sebaliknya, perusahaan teknologi besar seperti Meta dan Salesforce kini mendominasi area utama Davos dengan gerai dan paviliun megah. Bahkan Amerika Serikat membuka “USA House” terbesar yang disponsori McKinsey dan Microsoft.
“Secara visual terasa sangat berbeda. Davos seperti diambil alih industri teknologi,” ujar Kirsten.
Baca Juga
Advertisement
Kehadiran Elon Musk juga menjadi sorotan tersendiri. Pasalnya, selama bertahun-tahun ia dikenal enggan menghadiri Davos. Meski isi pembicaraannya dinilai tak terlalu substansial, kehadirannya tetap mengundang perhatian publik.
Di sisi lain, diskusi AI di Davos tak bisa dilepaskan dari isu geopolitik global. Salah satu pernyataan paling kontroversial datang dari CEO Anthropic, Dario Amodei. Ia secara terbuka mengkritik keputusan pemerintah Amerika Serikat yang mengizinkan Nvidia mengirim chip AI ke China.
Menurutnya, pusat data AI bukan sekadar infrastruktur teknologi biasa.
Baca Juga
Advertisement
“Data center AI itu seperti sebuah negara yang penuh orang jenius,” kata Amodei.
Ia mempertanyakan logika mengirim teknologi canggih ke China di tengah kekhawatiran soal persaingan global. Baginya, itu sama saja dengan memberikan kekuatan besar kepada negara pesaing.
Pernyataan ini cukup menarik mengingat Anthropic sendiri merupakan salah satu pelanggan besar Nvidia. Ketegangan antara mitra sekaligus kompetitor ini menjadi gambaran nyata panasnya persaingan industri AI saat ini.
Baca Juga
Advertisement
Sementara itu, CEO Microsoft Satya Nadella menggunakan istilah unik dengan menyebut pusat data AI sebagai “pabrik token”. Istilah tersebut menggambarkan bagaimana data center menghasilkan unit komputasi yang menjadi bahan bakar model AI modern.
Sean O’Kane mencatat, sepanjang Davos tahun ini, para CEO teknologi terlihat lebih blak-blakan dari biasanya. Mereka tak segan menyindir satu sama lain secara terbuka, sesuatu yang jarang terjadi sebelumnya.
“Kali ini ketegangannya terasa nyata. Mereka duduk bersebelahan sambil saling ‘menusuk’ lewat pernyataan publik,” ujarnya.
Baca Juga
Advertisement
Di balik sindiran tersebut, tersimpan kekhawatiran yang sama: siapa yang akan memimpin industri AI, dan siapa yang akan tertinggal.
Nadella sendiri menekankan pentingnya adopsi AI secara luas. Ia bahkan secara tersirat mengingatkan bahwa tanpa penggunaan massal, industri ini bisa berubah menjadi gelembung yang akhirnya meledak.
“Lebih banyak orang harus menggunakan AI, atau kita akan menghadapi bubble,” ungkapnya.
Baca Juga
Advertisement
Namun pendekatan Microsoft berbeda dengan Anthropic. Nadella mendorong distribusi AI yang lebih merata ke berbagai negara dan komunitas, bukan hanya terpusat di wilayah kaya.
Sebaliknya, CEO Nvidia Jensen Huang justru menyoroti kurangnya investasi global di sektor AI. Menurutnya, dunia perlu menggelontorkan dana lebih besar untuk membangun infrastruktur yang mampu menopang lonjakan teknologi ini.
Ia bahkan mengaitkan ekspansi AI dengan penciptaan lapangan kerja baru meski sejumlah pihak mempertanyakan apakah pertumbuhan ini akan berkelanjutan atau hanya bersifat sementara.
Baca Juga
Advertisement
Kirsten menambahkan, saat ini hampir tak ada yang membahas kemungkinan perlambatan industri AI. Semua fokus pada ekspansi besar-besaran, tanpa membicarakan fase jenuh yang bisa datang sewaktu-waktu.
Yang paling mencolok, menurut para jurnalis, adalah momen langka ketika para raksasa teknologi ini berkumpul di satu ruangan, berbicara terbuka tentang ambisi, kekhawatiran, dan strategi mereka.
Biasanya, figur seperti Sam Altman, Nadella, atau Musk muncul terpisah di berbagai konferensi. Namun Davos kali ini memperlihatkan persaingan itu secara langsung, tanpa filter.
Baca Juga
Advertisement
Singkatnya, Davos 2026 menandai satu hal penting: AI bukan lagi sekadar inovasi teknologi, melainkan kekuatan ekonomi dan politik global. Di balik janji masa depan cerah, tersimpan rivalitas sengit, risiko gelembung industri, serta perebutan dominasi dunia digital.
Dan satu hal jelas pertarungan AI baru saja benar-benar dimulai.
Baca Juga
Advertisement
Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.