Sebuah riset global dari Kaspersky yang melibatkan 7.600 peserta di 19 negara membongkar fakta bahwa intimidasi siber mayoritas datang dari orang terdekat. Walau 40% korban mengaku diserang oleh orang asing, hampir separuh dari total kasus justru dilakukan oleh lingkaran sosial sendiri. Teman menyumbang angka tertinggi sebesar 15%, diikuti oleh pasangan, rekan kerja, keluarga, serta mantan kekasih. Fenomena kedekatan pelaku ini tercatat sangat tinggi di beberapa negara, termasuk Indonesia dan Amerika Serikat.
Pelecehan yang bersumber dari ekosistem sosial terdekat ini cenderung memicu korban untuk lebih vokal dalam bersuara. Namun, kondisi ini juga menyimpan bahaya laten karena penyalahgunaan teknologi bisa dianggap sebagai hal yang lumrah. Akibatnya, tindakan saling balas dan intimidasi yang berulang berpotensi mengakar kuat dan mengaburkan batasan perilaku yang sehat dalam hubungan sehari-hari.
Riset ini juga menyoroti adanya jurang pemisah yang lebar antar-generasi dalam memahami kejahatan siber berbasis teknologi ini. Kelompok Gen Z, yang sejak kecil sudah karib dengan gawai, memiliki tingkat pemahaman istilah bahaya digital mencapai 81%. Angka pemahaman tersebut merosot hingga tersisa 64% ketika diukur pada kelompok generasi Baby Boomers yang lebih tua.
Baca Juga
Advertisement
Ketimpangan juga terlihat jelas dalam aspek jaminan rasa aman berdasarkan gender di ruang digital. Sebanyak 62% perempuan mengaku merasa rentan dan cemas saat berselancar di dunia maya, berbanding terbalik dengan persentase pria yang berada di angka 54%. Data ini menegaskan bahwa internet belum menjadi tempat yang ramah dan setara bagi semua penggunanya.
Bagi masyarakat Indonesia sendiri, ancaman perangkat pengintai (stalkerware) tercatat sangat nyata dengan deteksi hampir menyentuh angka seribu kasus sepanjang 2024–2025. Di sisi lain, kecemasan publik sangat mendominasi di mana 79% warga merasa tidak aman di internet. Meski tingkat pengetahuan masyarakat terhadap isu ini tergolong tinggi, penetrasi aplikasi mata-mata yang masif mendesak adanya penguatan literasi digital dan sistem perlindungan korban yang lebih kokoh.
Pakar Keamanan Kaspersky, Tatyana Shishkova, menjelaskan bahwa dominasi pelaku dari lingkaran dalam mengubah total peta strategi proteksi diri. Ancaman ini menjadi sangat samar karena menyusup lewat perangkat pribadi, kepercayaan emosional, serta akses akun yang dibagi bersama. Oleh sebab itu, pengetatan izin aplikasi dan penerapan sistem keamanan yang solid menjadi benteng utama agar konflik tidak membesar.
Baca Juga
Advertisement
Senada dengan hal itu, Dr. Leonie Maria Tanczer dari UCL memaparkan bahwa kejahatan siber sering kali merusak ruang personal yang seharusnya aman. Ketika rasa percaya disalahgunakan, platform digital justru mempercepat terjadinya aksi balas dendam dan intimidasi yang sulit dihentikan. Memahami siklus negatif ini sangat krusial agar mata rantai kekerasan siber di dalam hubungan interpersonal bisa diputus.
Sebagai langkah konkret, Kaspersky bersama Coalition Against Stalkerware aktif menggandeng berbagai sektor untuk menekan angka kekerasan domestik digital. Masyarakat diimbau untuk peka terhadap tanda-tanda kontrol berlebih, mengamankan kata sandi pribadi, dan tidak membagikan akses gawai sembarangan. Selain itu, mendokumentasikan bukti kejahatan serta mencari bantuan profesional adalah langkah penyelamatan yang sangat disarankan.
Baca Juga
Advertisement
Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.