Hubungan antara China dan Amerika Serikat semakin memanas, kini merambah ke orbit luar angkasa. Pemerintah dan militer China dikabarkan tengah dilanda kekhawatiran serius terhadap Starlink, layanan internet satelit milik Elon Musk yang dioperasikan oleh SpaceX.
Pasalnya, mereka meyakini bahwa jaringan satelit tersebut bukan hanya penyedia konektivitas global, tetapi juga berpotensi menjadi alat mata-mata bagi kepentingan strategis Amerika Serikat.
Kecurigaan ini bukan tanpa dasar. Menurut laporan Associated Press, setidaknya terdapat lebih dari selusin makalah yang diterbitkan oleh institusi militer dan pemerintah China. Dalam makalah-makalah itu, para peneliti merinci berbagai taktik untuk mengidentifikasi, melacak, bahkan menghancurkan satelit milik Starlink yang kini jumlahnya telah mencapai ribuan di orbit rendah Bumi.
Baca Juga
Advertisement
Starlink Dianggap Ancaman Serius
Starlink dirancang untuk menyediakan internet berkecepatan tinggi ke daerah-daerah terpencil. Namun, keunggulan teknologinya membuat negara-negara seperti China melihatnya sebagai instrumen strategis yang bisa dimanfaatkan oleh militer AS dalam perang informasi dan pengintaian.
Salah satu profesor dari National University of Defence Technology di China bahkan menulis, “Seiring Amerika Serikat mengintegrasikan Starlink ke dalam aset luar angkasa militer mereka, negara-negara lain pun mulai menganggapnya sebagai ancaman dalam domain nuklir, luar angkasa, dan dunia siber.”
Pernyataan tersebut merujuk pada kedekatan antara SpaceX dan Pentagon, termasuk kerja sama untuk menyediakan konektivitas dalam operasi militer dan pengembangan teknologi luar angkasa.
Baca Juga
Advertisement
Strategi: Dari Pemantauan Hingga Sabotase
Meski Starlink belum tersedia di daratan Tiongkok, satelitnya tetap melintas di atas wilayah udara negara tersebut. Fakta inilah yang memicu ketegangan. Untuk mengantisipasi, para peneliti China memulai studi mendalam tentang celah dan potensi kelemahan sistem satelit Starlink.
Pada tahun 2023, para ahli dari National Defence University di Beijing melakukan simulasi cakupan sinyal Starlink di beberapa area strategis, termasuk ibu kota Beijing, Taiwan, dan Kutub Utara. Hasilnya mengejutkan: Starlink memiliki cakupan sinyal konstan di atas wilayah-wilayah tersebut.
Sementara itu, tim dari Industrial Control Systems Cyber Emergency Response Team memetakan rantai pasokan Starlink guna mengidentifikasi titik-titik rentan untuk sabotase. Dalam laporan mereka disebutkan, “SpaceX memiliki lebih dari 140 pemasok tingkat satu, ditambah banyak subkontraktor tingkat dua dan tiga. Sayangnya, pengawasan keamanan siber mereka masih minim.”
Baca Juga
Advertisement
Lebih lanjut, teknisi dari People’s Liberation Army mengusulkan metode ekstrem: membuat armada satelit khusus untuk mengikuti jejak Starlink, merekam data sinyal, dan bahkan menyemprotkan zat korosif guna merusak baterai satelit dan mengganggu panel surya.
Tak hanya itu, strategi lain yang terdengar seperti fiksi ilmiah pun turut dipertimbangkan. Di antaranya adalah penggunaan teleskop optik kecil untuk memantau konstelasi Starlink secara langsung dan pengembangan sistem laser untuk membakar satelit saat mengorbit.
Perang Teknologi yang Tak Terlihat
Langkah-langkah yang dipertimbangkan China mencerminkan perubahan dalam lanskap konflik modern: dari serangan militer konvensional menuju perang berbasis teknologi dan informasi. Dengan ribuan satelit yang kini mengorbit Bumi, kontrol atas ruang angkasa menjadi bagian penting dari kekuatan geopolitik.
Baca Juga
Advertisement
Starlink sendiri telah digunakan dalam konflik nyata. Misalnya, dalam perang antara Rusia dan Ukraina, sistem ini menjadi tulang punggung komunikasi pasukan Ukraina. Hal ini kian memperkuat keyakinan Beijing bahwa jaringan tersebut memiliki potensi militer yang besar.
Di sisi lain, akademisi dan pengamat kebijakan luar negeri di China juga menyarankan pendekatan non-militer. Beberapa menyarankan pemerintah untuk menempuh jalur diplomatik dan mendorong regulasi internasional guna membatasi dominasi perusahaan seperti SpaceX di luar angkasa.
Elon Musk di Tengah Perseteruan
Sebagai sosok di balik Starlink, Elon Musk pun menjadi sorotan. Selain dikenal sebagai inovator, ia juga memiliki hubungan bisnis dan politik yang luas di AS. Kedekatannya dengan pemerintah AS menjadi alasan mengapa banyak negara, termasuk China, merasa curiga terhadap agenda tersembunyi di balik proyek-proyek luar angkasa Musk.
Baca Juga
Advertisement
Namun, hingga kini belum ada bukti konkret bahwa Starlink digunakan langsung untuk misi mata-mata. Musk sendiri kerap menyatakan bahwa misi utamanya adalah menyediakan akses internet global, terutama di wilayah-wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau.
Terlepas dari klaim dan spekulasi, satu hal menjadi jelas: satelit bukan lagi sekadar alat komunikasi. Mereka telah menjadi bagian dari strategi geopolitik global. Dengan meningkatnya ketegangan antara China dan AS, konflik ini bukan hanya soal bisnis atau teknologi — ini adalah pertarungan dominasi di era digital yang melibatkan data, orbit, dan keamanan global.
Baca Juga
Advertisement
Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.