Tahun 2025 menjadi momentum penting bagi industri perbankan nasional. Di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi digital, Indonesia bersiap memasuki fase implementasi penuh open banking, sebuah konsep yang diyakini akan mengubah cara bank, fintech, dan nasabah berinteraksi dalam ekosistem keuangan digital.
Laporan e-Conomy SEA 2024 mencatat bahwa nilai ekonomi digital Indonesia telah mencapai USD 90 miliar pada 2024 dan diproyeksikan melonjak hingga USD 200 miliar pada 2030. Pertumbuhan ini, salah satunya, didorong oleh meningkatnya transaksi pembayaran digital yang semakin masif di berbagai lapisan masyarakat. Namun demikian, di balik angka yang impresif tersebut, tantangan struktural masih membayangi sektor perbankan.
Sistem Lama Jadi Tantangan Transformasi
Di satu sisi, ekspektasi nasabah terhadap layanan keuangan kini semakin tinggi. Mereka menginginkan transaksi yang instan, terintegrasi, dan bisa dilakukan dalam satu ekosistem digital tanpa hambatan. Namun di sisi lain, banyak bank masih bergantung pada legacy banking system yang kurang fleksibel dan minim konektivitas.
Baca Juga
Advertisement
Akibatnya, alih-alih menjadi pendukung transformasi, infrastruktur tradisional justru kerap menjadi penghambat. Di sinilah open banking hadir sebagai solusi, dengan memungkinkan pertukaran data antar platform secara aman dan terstandarisasi, tentunya dengan persetujuan penuh dari nasabah.
Melalui pendekatan ini, nasabah tidak lagi harus berpindah-pindah aplikasi yang tidak saling terhubung. Sebaliknya, mereka dapat menikmati pengalaman transaksi digital yang lebih praktis, efisien, dan personal.
Open Banking Jadi Agenda Utama 2025
Perhimpunan Bank Nasional (PERBANAS) dalam laporan Tech-Banking Trend in 2025 menempatkan open banking sebagai salah satu tren teknologi utama di industri perbankan. Arah ini juga sejalan dengan visi Bank Indonesia dalam membangun sistem pembayaran nasional yang efisien, aman, dan inklusif.
Baca Juga
Advertisement
Sebagai catatan, konsep open banking pertama kali diperkenalkan melalui Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2019. Kemudian, pada 16 Agustus 2021, Bank Indonesia memperkuatnya dengan menetapkan standar Open API Pembayaran. Fase adopsi awal dimulai pada 2022 dengan melibatkan 16 bank dan lembaga keuangan, dan ditargetkan seluruh bank telah mengadopsinya secara penuh pada 2025.
Menurut definisi Bank Dunia, open banking adalah praktik berbagi data konsumen antar bank dan lembaga keuangan lain berdasarkan persetujuan nasabah, termasuk dengan pihak ketiga seperti perusahaan fintech.
Pendekatan Regulasi dan Kolaborasi Pasar
Secara global, implementasi open banking umumnya terbagi menjadi dua pendekatan, yakni regulator-driven dan market-driven. Indonesia, bersama Malaysia dan Filipina, termasuk dalam kategori regulator-driven.
Baca Juga
Advertisement
Meski demikian, seiring berjalannya waktu, kolaborasi antara bank tradisional dan penyedia layanan pihak ketiga (third party provider/TPP) semakin menguat. Hal ini menandai pergeseran menuju inovasi berbasis pasar, seperti real-time payment, embedded finance, hingga solusi kredit yang lebih inklusif.
Dalam kerangka BSPI 2025, bank berperan sebagai pengendali data, sementara fintech bertindak sebagai pengguna data. Kolaborasi ini memungkinkan pihak ketiga memanfaatkan fungsi inti perbankan, seperti pembukaan rekening dan layanan pembayaran, baik secara langsung maupun melalui platform Open API sebagai enabler.
Peran API dalam Ekosistem Digital
Application Programming Interface (API) menjadi tulang punggung open banking. Secara sederhana, API berfungsi sebagai jembatan antara aplikasi frontend dan sistem backend, memungkinkan pertukaran data dalam skala besar secara cepat dan aman.
Baca Juga
Advertisement
Dengan API, data dapat diakses secara real-time sesuai kebutuhan layanan, tanpa harus membuka keseluruhan sistem internal bank. Namun, semakin besar volume data dan trafik API, semakin tinggi pula tuntutan terhadap kesiapan infrastruktur.
Hambatan dan Tantangan Implementasi
Meski menjanjikan, implementasi open banking masih menghadapi sejumlah tantangan. Dari sisi teknis, kendala meliputi mekanisme aliran data, pengelolaan persetujuan nasabah, hingga standarisasi interoperabilitas API yang masih terus disempurnakan oleh regulator.
Selain itu, kualitas infrastruktur digital yang belum merata, terutama di wilayah pedesaan, turut memengaruhi adopsi open banking secara luas. Di sisi penyedia layanan, bank dituntut melakukan investasi besar pada infrastruktur TI, keamanan data, serta pengembangan talenta digital.
Baca Juga
Advertisement
Peluang Baru bagi Industri Perbankan
Di balik tantangan tersebut, peluang yang terbuka juga sangat besar. Sebagai pengendali data, bank dapat memanfaatkan database nasabah untuk menghadirkan produk yang lebih relevan dan personal. Bahkan, integrasi data dengan pihak ketiga berpotensi menciptakan sumber pendapatan baru.
Namun, untuk mewujudkan itu semua, bank membutuhkan infrastruktur data modern yang andal.
Distributed Database, Fondasi Open Banking Masa Depan
Database tradisional yang bersifat vertikal kerap kesulitan melakukan scaling tanpa downtime. Sebaliknya, distributed database menawarkan pendekatan yang lebih fleksibel dengan mereplikasi data ke berbagai node.
Baca Juga
Advertisement
Dengan arsitektur ini, layanan tetap berjalan meski salah satu node mengalami gangguan. Bank juga dapat menambah kapasitas dengan menambahkan node baru, sehingga mampu menangani lonjakan trafik API, terutama pada periode puncak.
Lebih jauh, distributed database dengan kapabilitas Hybrid Transactional and Analytical Processing (HTAP) memungkinkan analisis data dan machine learning dilakukan secara real-time. Hal ini sangat krusial untuk kebutuhan seperti deteksi fraud dan personalisasi layanan open banking.
Tak kalah penting, arsitektur terdistribusi juga membantu bank mematuhi regulasi data residency, menjaga keamanan data melalui enkripsi dan kontrol akses granular, serta membangun kepercayaan nasabah.
Baca Juga
Advertisement
Dengan fondasi infrastruktur yang tepat, open banking tidak hanya menjadi kewajiban regulasi, tetapi juga peluang strategis bagi bank untuk tetap relevan dan kompetitif, sebelum melangkah lebih jauh menuju era Open Finance.
Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.