PayLater Meledak, Bom Waktu Konsumsi Indonesia?

Paylater
Ilustrasi Paylater

Industri Buy Now Pay Later (BNPL) atau PayLater di Indonesia memasuki fase penting di sepanjang 2025. Tahun ini menjadi periode di mana pertumbuhan pengguna dan nilai transaksi tetap kuat, tetapi kondisi persaingan berubah menjadi adu strategi terutama di tengah regulasi yang kian ketat. 

Perusahaan fintech, bank konvensional, hingga pemain multifinance. kini sama-sama berebut pangsa pasar BNPL yang menjanjikan. Tren ini, menjadikan unit-economics dan retensi nasabah sebagai titik fokus utama dalam persaingan bisnis yang satu ini.

Proyeksi pasar BNPL Indonesia menunjukkan betapa besarnya peluang yang tengah digarap. Total pasar diperkirakan tumbuh 13,5% untuk mencapai USD 8,59 miliar pada 2025. 

Advertisement

Jumlah ini, menjadi salah satu laju pertumbuhan tercepat di kawasan Asia Tenggara, dan diprediksi terus berkembang hingga mencapai USD 13,59 miliar pada 2030. 

Paylater
Telkomsel Paylater

Namun, dibalik angka pertumbuhan itu, terdapat dinamika yang perlu dicermati: dari sisi kredit, baki debet utang PayLater masyarakat terus meroket sepanjang tahun ini. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total utang masyarakat Indonesia di layanan BNPL, yang mencakup kanal perbankan dan multifinance, mencapai sekitar Rp 29,59 triliun per April 2025. 

Utang tersebut sebagian besar bersumber dari perbankan, di mana kredit PayLater tercatat mencapai Rp 21,35 triliun per April 2025 dengan jumlah rekening aktif lebih dari 24 juta. Meskipun porsi tersebut masih relatif kecil terhadap total kredit perbankan nasional, yaitu sekitar 0,27%, pertumbuhannya secara tahunan sangat tinggi. 

Advertisement

Tren yang sama juga terlihat dalam data lanjutan sepanjang tahun. Per Juni 2025 utang PayLater masyarakat bahkan sempat dilaporkan menembus Rp 31,55 triliun, dengan kontribusi signifikan dari sektor multifinance sekitar Rp 8,56 triliun selain perbankan. Ini menunjukkan, adopsi BNPL yang tidak lagi terbatas pada transaksi e-commerce saja, tetapi telah meluas ke berbagai sektor konsumen.

Akses Paylater yang Terlalu Mudah 

Pertumbuhan angka utang BNPL dan lonjakan jumlah pengguna ini memperlihatkan fenomena ganda. Yaitu, kebutuhan masyarakat akan fleksibilitas pembayaran yang lebih tinggi di tengah tekanan inflasi dan belanja konsumtif, sekaligus potensi risiko perilaku utang yang kurang terkontrol. 

Layanan PayLater, yang kian mudah diakses melalui platform e-commerce dan aplikasi super-apps, menghadirkan daya tarik kuat terutama bagi segmen milenial dan Gen Z yang terbiasa dengan digital payments dan pilihan pembayaran instan. 

Advertisement

Economist for Digital Economy Study. Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda menjelaskan, selama masih ada credit gap di Indonesia, permintaan untuk BNPL, dan pembiayaan alternatif lainnya, akan tetap tumbuh positif. Menurutnya, selama ini permintaan untuk pembiayaan tetap tumbuh seiring dengan bertumbuhnya konsumsi rumah tangga dan kebutuhan. 

“Tidak semua masyarakat dapat dilayani oleh perbankan untuk mendapatkan pembiayaan. Maka mereka akan memilih pembiayaan alternatif termasuk dengan BNPL,” ujarnya, Jumat (12/12/2025). 

BNPL, jelas Huda, memang menawarkan kemudahan untuk administrasi, dan kecepatan dalam melakukan asesmen. Dimana dua hal tersebut mampu menarik generasi muda terutama gen milenial dan gen Z. 

Advertisement

Bahkan untuk transaksi pun, BNPL banyak digunakan untuk bertransaksi secara offline di beberapa merchant. Terlebih saat ini, perbankan juga sudah mulai menjual produk BNPL untuk nasabah mereka. 

BNPL dari perbankan bisa menjadi pengganti kartu kredit yang tengah menurun pertumbuhannya. Kartu kredit biasanya memerlukan dua hingga tiga pekan untuk waktu tunggunya, sedangkan BNPL hanya hitungan menit. 

Hal senada, diungkapkan pula oleh Consumer and Retail Strategist, Yongki Susilo. Menurutnya, mudahnya mengakses layanan Paylater bisa menjadi jebakan bagi kelas menengah. “Dulu bila ingin mengambil kredit, harus memenuhi kualifikasi tertentu. Harus memiliki sumber pendapatan yang jelas dan kemampuan membayar,” ujarnya, Jumat (12/12/2025). 

Advertisement

Tapi, Yongki melanjutkan, dengan Paylater hal-hal tersebut tereliminasi dan prosesnya jauh lebih mudah. “Ekonomi yang berat membuat kelas menengah di Indonesia, cenderung makan tabungan. Ketika tidak lagi memiliki tabungan, hutang pun ikut naik,” katanya. 

Paylater, Potensi alarm perekonomian?

Dengan persaingan antar-pemain yang kini semakin intens, dari integrasi layanan di e-commerce hingga kolaborasi dengan super-apps, pertanyaan pun muncul. Apakah ledakan PayLater ini berpotensi menjadi alarm bagi perekonomian Indonesia? 

Nailul dari CELIOS menyampaikan, ketika pertumbuhan PayLater ini terlampau besar pertumbuhannya, potensi gagal bayarnya juga mengikuti. Terutama bagi BNPL yang bukan dari perbankan. 

Advertisement

Tapi, menurut dia, untuk saat ini tingkat non performing financing (NPF) atau pembiayaan bermasalah yang saat ini berada di kisaran 2,5% – 3,8%, masih terbilang aman. 

Angka ini selaras dengan data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mencatat, total kredit macet (NPL/NPF) PayLater perbankan berada di angka 2,5%. Sementara tingkat pembiayaan bermasalah (Non-Performing Financing/NPF gross) BNPL perusahaan pembiayaan turun menjadi 2,79%, di Oktober 2025, dari 2,92% di September 2025. 

Namun, Huda mengingatkan, nilai NPF yang cenderung fluktuatif tetap harus diwaspadai karena ada kemungkinan bisa meningkat seiring meningkatnya penyaluran pembiayaan BNPL. “Terutama untuk BNPL dari perusahaan pembiayaan dan pinjaman daring,” kata Nailul. 

Advertisement

Sementara, bagi BNPL perbankan nampaknya akan sedikit lebih baik dalam menjaga gagal bayar. Hal ini, karena data yang digunakan dan para nasabahnya juga sudah tertarget dari nasabah perbankan mereka sendiri.

Consumer and Retail Strategist, Yongki Susilo pun mengamini hal ini. Menurutnya, tingkat pertumbuhan NPF/NPL dari BNPL juga terbilang masih aman untuk saat ini. Meski, harus diakui angkanya masih naik-turun. 

Tapi, di sisi lain, ia mengungkapkan, ada secercah harapan bagi perekonomian Indonesia. Karena, Bank Indonesia (BI), pada Selasa (9/12/2025), merilis hasil Survei Konsumen pada November 2025 yang menunjukkan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi meningkat dibandingkan dengan bulan sebelumnya. 

Advertisement

Ini tampak dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sebesar 124 atau di atas level optimistis sebesar 100. Angka tersebut meningkat dibandingkan torehan IKK pada Oktober 2025 yang sebesar 121,1. 

Dengan demikian, IKK telah mencatatkan peningkatan selama dua bulan beruntun, setelah pada September 2025 sempat merosot ke titik terendahnya dalam tiga tahun terakhir, yakni 115. “Hal ini, memberikan secercah optimisme dan membuat pengusaha berinvestasi karena konsumen ternyata mulai berbelanja,” kata Yongki. 

Menurutnya, level nilai belanja masyarakat di Oktober dan November 2025 memang masih di bawah level 2024, akan tetapi naiknya pertumbuhan menjadi indikator pemulihan roda ekonomi. 

Advertisement

Hal ini, Yongki melanjutkan, juga menjadi titik balik yang telah lama ditunggu dan menjadi harapan untuk masuk ke periode pertumbuhan lebih tinggi di tahun 2026 dan selanjutnya. Ia pun optimistis, peningkatan belanja diproyeksikan akan terus naik hingga akhir tahun. 

Dimana akan ada kemeriahan Natal dan Tahun Baru 2026, yang kemudian akan berlanjut dengan kemeriahan Chinese New Year, hingga Ramadhan dan Idul Fitri 2026 di Q1 2026.

Advertisement

Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.