Waspada Tren ADIML dan GRWM, Celah Kejahatan Siber

Kenali Tren Resiko Ancaman Utama Cyber Pada Perangkat
Kenali tren resiko ancaman utama Cyber pada perangkat

Media sosial memang menjadi tempat berbagi apa saja. Semua tren berasal dari sana, termasuk tren A Day in My Life (ADIML) dan Get Ready with Me (GRWM). Namun hal yang tidak disadari pengguna media sasial adalah, tren tersebut bisa menjadi celah masuk kejahatan siber.

Menurut Group Head of Communications ITSEC Asia, Steve Saerang, penggunaan sosial media yang masif sangat rentan menjadi target atau incaran pelaku kejahatan siber. Oleh karena itu, kita harus tahu batasan mana yang bisa dipublikasi dan mana yang harus tetap dijaga di ranah pribadi.

“Misalnya sekarang trend, one day in my life, atau get ready with me. Nah, Kita harusnya tidak memperlihatkan nomor rumah, halaman depan rumah, bentuk rumah bagian depan, jalanan depan rumah, plat mobil. Itu kan informasi-informasi yang harusnya tetap kita keep di ranah private atau ranah pribadi. Tidak menjadi konsumsi publik. Karena once it goes out, begitu suatu waktu ada di ranah digital tidak bisa kita recover lagi gitu. Karena sudah menjadi konsumsi publik. Ini yang harus hati-hati,” kata Steve, dikutip dari wawancara eksklusif dengan Forum Wartawan Teknologi (FORWAT), Rabu, 1 Juli 2026.

Advertisement

kejahatan siber
Intellibron by ITSEC

Lalu apakah seseorang tidak bisa melakukan personal branding melalui media sosial? Menurut Steve, bisa dan boleh. Hanya saja, ada hal-hal yang tidak harus masuk di dalam bagian mempublikasikan apapun kegiatan atau kesehariannya dalam proses personal branding. Apalagi seorang jurnalis/wartawan, tempat dimana akses informasi penting berada, atau setidaknya menjadi orang pertama yang mengetahui informasi rahasia sebuah institusi, bahkan negara.

Oleh karena itu, kata Steve, seseorang, termasuk jurnalis tidak bisa menyatukan hal yang bersifat pribadi dengan pekerjaan. Bahkan harus punya perangkat pribadi yang terpisah dan tidak digunakan berbarengan dengan tugas atau aktivitas kantor.

“Sebaiknya kegiatan yang bersifat pribadi, dokumen yang pribadi kita akses dengan device pribadi juga. Sementara untuk kantor, ya memang peruntukannya untuk kantor kita akses menggunakan tools resmi, software resmi, aplikasi resmi, website yang sudah dicek ya, sudah di penetration test sebelumnya oleh IT security-nya. Sehingga ini yang membuat kita dapat menjaga device kantor itu tetap berada ada di keadaan maksimum untuk keamanannya dan kita tidak mengkompromis atau tidak mengkompromi membuka pintu bagi trade atau trade organization masuk ke dalam company atau organisasi kita melalui device yang kita gunakan,” jelas Steve.

Advertisement

Jurnalis Tidak Luput dari Target Kejahatan Siber

Di era digital yang serba terkoneksi, ancaman siber tidak lagi hanya menyasar perusahaan besar atau institusi pemerintahan. Jurnalis, yang memiliki akses langsung terhadap informasi sensitif dan jaringan luas, kini menjadi target empuk bagi para pelaku kejahatan siber. Fenomena ini semakin menguat seiring meningkatnya nilai data dan informasi di tengah ekosistem digital modern.

“Nilai informasi yang mereka miliki bahkan bisa lebih berharga dibandingkan upaya meretas sistem perusahaan. Inilah yang membuat jurnalis menjadi target potensial bagi hacker atau threat actor,” ujar Steve.

Lebih lanjut, threat actor tidak melihat profesi, senioritas, atau lokasi geografis. Mereka hanya mencari celah yang paling mudah untuk ditembus. Dalam banyak kasus, individu menjadi titik lemah dalam sistem keamanan yang sebenarnya sudah kuat di level organisasi.

Advertisement

Oleh karena itu, meskipun perusahaan media telah memiliki sistem keamanan berlapis seperti firewall dan proteksi jaringan, celah terbesar justru sering berasal dari perangkat pribadi jurnalis. Ketika perangkat ini tidak terlindungi dengan baik, maka seluruh ekosistem perusahaan bisa ikut terdampak,” paparnya.

Celah Keamanan Ada di Individu

Steve menjelaskan, seiring meningkatnya kompleksitas sistem keamanan perusahaan, titik lemah kini bergeser ke level individu. Banyak jurnalis yang belum sepenuhnya menerapkan praktik keamanan digital yang memadai dalam aktivitas sehari-hari.

Sebagai contoh, penggunaan WiFi publik tanpa proteksi, password yang lemah, serta tidak mengaktifkan multi-factor authentication menjadi celah umum yang sering dimanfaatkan oleh hacker. Padahal, kebiasaan sederhana ini bisa menjadi benteng awal dalam melindungi data pribadi dan profesional.

Advertisement

“Selain itu, penting untuk memisahkan data pribadi dan pekerjaan. Mengakses dokumen kantor menggunakan perangkat pribadi atau sebaliknya dapat membuka risiko keamanan yang signifikan. Idealnya, perangkat kerja hanya digunakan untuk aktivitas profesional dengan sistem yang sudah terverifikasi keamanannya,” kata dia.

Memasuki era kecerdasan buatan (AI), ancaman siber menjadi semakin kompleks dan sulit dideteksi. AI memungkinkan serangan dilakukan lebih cepat, lebih masif, dan lebih presisi. Hal ini membuat setiap individu, termasuk jurnalis, harus meningkatkan kewaspadaan.

Cyber hygiene kini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Kebiasaan seperti rutin mengganti password, menggunakan autentikasi berlapis, serta memastikan perangkat selalu diperbarui menjadi langkah dasar yang wajib dilakukan.

Advertisement

ITSEC Asia juga menekankan pentingnya edukasi berkelanjutan bagi jurnalis. Dengan pemahaman yang tepat, jurnalis tidak hanya mampu melindungi dirinya sendiri, tetapi juga dapat menyampaikan informasi yang edukatif kepada publik mengenai pentingnya keamanan digital.

“Pada akhirnya, keamanan siber adalah tanggung jawab bersama yang dimulai dari individu. Jurnalis sebagai garda depan informasi memiliki peran penting, tidak hanya dalam menyampaikan berita, tetapi juga dalam menjaga integritas dan keamanan data di era digital yang penuh tantangan ini,” tutup Steve.

Advertisement

Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.

Jurnalis teknologi dan gadget sejak 2005. Mulai dari Majalah Digicom, pernah di Tabloid Ponselku, pendiri techno.okezone.com, 5 tahun di Viva.co.id, 2 tahun di Uzone.id. Pernah bikin majalah digital Klik Magazine, sempat di perusahaan VAS Celltick Technologies. Sekarang jadi founder Gadgetdiva.id, bantuin Indotelko.com dan Gizmologi.id. Supermom dengan 2 orang superkids.