Yayasan Jantung Indonesia (YJI) secara resmi memulai langkah strategis berskala nasional melalui peluncuran program deteksi dini Penyakit Jantung Rematik (PJR) yang menyasar anak-anak usia sekolah dasar. Upaya penyelamatan ini diawali dengan rangkaian agenda pemeriksaan perdana (kick-off) yang diselenggarakan di wilayah Kota Batu dan Kabupaten Malang, Jawa Tengah, pada akhir Mei 2026.
Penyakit Jantung Rematik merupakan ancaman kesehatan laten yang muncul akibat komplikasi infeksi bakteri streptokokus yang tidak ditangani dengan tepat, sehingga memicu kerusakan permanen pada katup jantung. Berdasarkan data medis, sebanyak 60 persen kasus radang tenggorokan yang terjadi berulang berisiko fatal berkembang menjadi PJR, di mana lebih dari separuh penderita umumnya tidak menunjukkan gejala luar hingga memasuki stadium lanjut.
Ketua Bidang Medis sekaligus Direktur Proyek Skrining PJR YJI, dr. Ario Soeryo Kuntjoro, Sp.JP(K), menjelaskan bahwa seluruh data yang dihimpun dari program ini akan dianalisis secara mendalam untuk diterbitkan dalam jurnal ilmiah internasional. Hasil temuan lapangan tersebut nantinya bakal digunakan sebagai landasan ilmiah kuat untuk mengadvokasi kebijakan pemeriksaan kesehatan jantung wajib di lingkungan sekolah seluruh Indonesia.
Baca Juga
Advertisement
Pada kesempatan yang sama, pihak YJI menegaskan komitmennya untuk memperluas jangkauan deteksi dini ke wilayah-wilayah yang minim fasilitas kesehatan karena langkah preventif ini terbukti efektif memangkas beban penyakit hingga 80 persen. Dalam mengawal aspek teknis operasional di lapangan, yayasan non-profit ini turut menjalin kemitraan strategis dengan Perkumpulan Ahli Teknisi Kardiovaskuler (PATKI).
Secara terperinci, program nasional ini mengemban visi utama untuk mengidentifikasi kasus jantung sejak dini pada anak, melatih kompetensi tenaga medis di daerah, membangun basis data terpadu di tingkat nasional, serta menyusun model penanganan yang komprehensif. Dalam jangka panjang, gerakan kolektif ini diharapkan mampu menekan angka kematian dini pada anak dan menghemat anggaran belanja kesehatan negara.
Pada aksi perdana di wilayah Malang, tim medis menargetkan pemeriksaan terhadap 608 murid yang duduk di bangku kelas 5 dan 6 Sekolah Dasar. Pelaksanaan kegiatan dibagi menjadi dua sesi, di mana hari pertama menyasar 260 pelajar di Kota Batu, kemudian dilanjutkan pada hari berikutnya dengan memeriksa 348 siswa-siswi yang tersebar di wilayah Kabupaten Malang.
Baca Juga
Advertisement
Kelancaran program skrining massal ini didukung penuh oleh penyediaan perangkat pemindai ultrasound portabel canggih tipe Lumify bantuan dari Philips Foundation melalui koordinasi global bersama World Heart Federation (WHF). Secara keseluruhan, proyek percontohan ini ditargetkan mampu memeriksa sekitar 8.000 anak SD yang tersebar di empat daerah prioritas, yakni Malang, Bekasi, Tulang Bawang, dan Minahasa Utara.
Guna mengoptimalkan dampak gerakan, YJI juga menghadirkan Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah untuk mengedukasi para guru serta wali murid mengenai pengenalan gejala awal PJR dan Penyakit Jantung Bawaan (PJB). Edukasi ini dinilai krusial karena kepedulian serta peran aktif orang dewasa di lingkungan sekolah dan rumah menjadi kunci utama keberhasilan pengobatan anak secara berkesinambungan.
Baca Juga
Advertisement
Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.