Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menegaskan bahwa peningkatan partisipasi perempuan di bidang sains dan teknologi menjadi kunci penting dalam memenuhi kebutuhan talenta digital nasional. Hal ini dinilai krusial, terutama di tengah ambisi Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi digital yang berkelanjutan dalam beberapa tahun ke depan.
Menurut Meutya, Indonesia diproyeksikan membutuhkan sekitar 12 juta talenta digital pada tahun 2030. Namun, tantangan utama yang dihadapi bukan semata soal jumlah sumber daya manusia, melainkan juga soal akses dan kesempatan yang setara, khususnya bagi anak perempuan untuk terlibat dan berkembang di sektor teknologi.
“Indonesia diproyeksikan membutuhkan 12 juta talenta digital pada 2030. Tantangannya bukan hanya soal jumlah, tetapi juga bagaimana memastikan anak perempuan memiliki akses yang sama untuk terlibat dan tumbuh di bidang ini,” ujar Meutya, sebagaimana dikutip dari keterangan pers kementerian, Minggu.
Baca Juga
Advertisement
Pernyataan tersebut disampaikan Meutya saat menghadiri AWS Girls’ Tech Day yang digelar di Bekasi, Sabtu (7/2). Dalam kesempatan itu, ia menyoroti fenomena leaky pipeline, yaitu kondisi di mana jumlah perempuan yang terlibat di bidang teknologi terus menyusut seiring meningkatnya jenjang pendidikan dan karier.
Berdasarkan data yang dipaparkan, partisipasi perempuan dalam berbagai pelatihan digital di Indonesia sebenarnya sudah mencapai 36 persen. Namun demikian, hanya sekitar 17 persen yang benar-benar melanjutkan ke jenjang karier profesional di sektor teknologi. Angka ini menunjukkan adanya kesenjangan signifikan antara proses pembelajaran dan realisasi kesempatan kerja.
Lebih jauh, Meutya mengungkapkan bahwa keterlibatan perempuan dalam peran teknis yang lebih mendalam, seperti kecerdasan artifisial (AI) dan rekayasa perangkat lunak, masih berada di kisaran 15 hingga 18 persen. Padahal, sektor-sektor tersebut menjadi tulang punggung transformasi digital nasional.
Baca Juga
Advertisement
“Di Indonesia, peran teknis mendalam seperti AI dan engineering baru melibatkan sekitar 15 hingga 18 persen perempuan. Karena itu, kita harus memastikan bahwa akses digital tidak berhenti pada pelatihan, tetapi benar-benar berkembang menjadi keterampilan dan peluang kerja nyata,” tegasnya.
Selain tantangan struktural, Meutya juga menyoroti berbagai faktor non-teknis yang kerap menghambat perempuan untuk menekuni bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). Beberapa di antaranya adalah stereotip gender, rasa kurang aman di ruang digital, serta minimnya figur panutan perempuan di sektor teknologi.
Akibatnya, tidak sedikit perempuan yang memilih mundur atau beralih ke bidang lain, meskipun memiliki potensi dan kemampuan yang mumpuni. Kondisi inilah yang kemudian memperkuat fenomena leaky pipeline dan memperlebar kesenjangan gender di industri teknologi.
Baca Juga
Advertisement
Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah terus mendorong berbagai upaya strategis. Di antaranya dengan membuka akses yang lebih luas terhadap pengetahuan digital, mendukung pengembangan talenta perempuan sejak usia dini, serta menciptakan ruang digital yang aman, inklusif, dan ramah perempuan.
Tak hanya itu, pemerintah juga aktif menjalin sinergi dengan pelaku industri teknologi, baik nasional maupun global. Kolaborasi ini diarahkan untuk meningkatkan kapasitas talenta digital perempuan sekaligus membuka jalur transisi yang lebih jelas dari dunia pendidikan ke dunia kerja.
Dalam kesempatan yang sama, Menkomdigi mengapresiasi pelaksanaan Program AWS Girls’ Tech Day, yang dinilai sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong inklusivitas digital. Program ini memfasilitasi sekitar 400 siswi, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, untuk mengenal dan mempelajari teknologi seperti AI, coding, dan robotika.
Baca Juga
Advertisement
Menurut Meutya, pengenalan teknologi sejak dini sangat penting untuk menumbuhkan rasa percaya diri dan minat anak perempuan terhadap dunia digital. Dengan pendekatan yang tepat, diharapkan semakin banyak perempuan yang berani mengambil peran strategis di sektor teknologi di masa depan.
“Jangan takut mencoba teknologi dan jangan takut salah. Masa depan Indonesia membutuhkan kreativitas, empati, dan keberanian kalian,” pesan Meutya kepada para peserta program.
Ke depan, pemerintah berharap ekosistem digital Indonesia dapat tumbuh secara lebih inklusif. Dengan meningkatnya partisipasi perempuan di bidang teknologi, kebutuhan talenta digital nasional diharapkan dapat terpenuhi, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi digital yang lebih adil dan berkelanjutan.
Baca Juga
Advertisement
Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.