OpenAI Rombak Tim Pembentuk Kepribadian AI, Begini Strategi Barunya

Openai

OpenAI kembali membuat langkah besar dalam struktur organisasinya. Kali ini, perusahaan yang berada di balik GPT-4 hingga GPT-5 itu merombak salah satu tim riset kuncinya, yakni Model Behavior Team.

Tim kecil berisi sekitar 14 peneliti tersebut sebelumnya memegang peranan penting dalam menentukan bagaimana model AI berinteraksi dengan pengguna. Mulai dari mengurangi bias politik, meminimalisir sikap sycophancy—yakni kecenderungan AI untuk selalu menyetujui pendapat pengguna—hingga membantu mendefinisikan sikap perusahaan terkait isu kesadaran AI.

Langkah perombakan ini terkonfirmasi setelah Chief Research Officer OpenAI, Mark Chen, menyatakan bahwa Model Behavior Team akan digabungkan dengan Post Training Team. Unit riset ini jauh lebih besar dan berfokus pada peningkatan model setelah fase pra-pelatihan. Dengan penggabungan tersebut, Model Behavior Team kini akan langsung melapor ke Max Schwarzer, pemimpin Post Training Team di OpenAI.

Advertisement

Fokus Baru untuk Perkembangan AI

Menurut Chen, keputusan ini bertujuan agar riset mengenai perilaku model AI semakin dekat dengan pengembangan inti. Ia menekankan bahwa kepribadian AI kini menjadi faktor krusial dalam evolusi teknologi OpenAI.

Langkah ini bukan tanpa alasan. Belakangan, OpenAI memang banyak disorot karena perubahan perilaku model terbarunya, GPT-5. Meskipun berhasil menekan sycophancy, GPT-5 dianggap sebagian pengguna terasa lebih “dingin” dan kurang bersahabat dibandingkan generasi sebelumnya.

Respon publik memaksa perusahaan membuka kembali akses ke model lama seperti GPT-4o, sekaligus memperbarui GPT-5 agar tetap ramah kepada pengguna tanpa mengorbankan kualitas respons.

Advertisement

Peran Besar Model Behavior Team

Sejak berdiri, Model Behavior Team selalu terlibat dalam pengembangan produk besar OpenAI. Mereka ikut membentuk perilaku pada GPT-4, GPT-4o, GPT-4.5, hingga GPT-5. Tim ini juga berperan di balik sejumlah eksperimen yang memastikan interaksi AI tidak hanya pintar, tapi juga etis dan bermanfaat bagi pengguna.

Bahkan, sebelum memimpin tim ini, Joanne Jang, pemimpin awal Model Behavior, telah lebih dulu berkontribusi dalam proyek besar OpenAI, seperti DALL-E 2, generator gambar AI yang populer di kalangan kreator digital.

Seiring perombakan, Joanne Jang kini dipastikan berpindah posisi. Ia dipercaya untuk memimpin proyek baru bernama OAI Labs, sebuah divisi yang difokuskan pada eksplorasi antarmuka baru untuk kolaborasi manusia dan AI.

Advertisement

Dalam unggahan di X (sebelumnya Twitter), Jang menuliskan bahwa dirinya siap “memulai sesuatu yang baru di OpenAI.” Kini, ia menjabat sebagai General Manager OAI Labs, dan untuk sementara waktu akan langsung melapor kepada Mark Chen.

Dalam pernyataannya, Jang menyebutkan antusiasmenya untuk menggali cara baru dalam memanfaatkan AI. Ia menilai paradigma lama yang menempatkan AI hanya sebagai teman ngobrol atau agen otonom perlu diperluas.

“Saya melihat sistem AI sebagai instrumen untuk berpikir, berkarya, bermain, belajar, dan terhubung,” ujar Jang.

Advertisement

Pernyataan tersebut memberi gambaran bahwa OAI Labs akan menjadi ruang eksperimen yang lebih bebas, dengan fokus pada menciptakan interaksi alami antara manusia dan mesin cerdas.

Mengapa Perubahan Ini Penting?

Bagi OpenAI, perilaku model bukan sekadar fitur tambahan, melainkan aspek inti yang menentukan apakah AI bisa diterima masyarakat luas. Dalam dunia di mana AI semakin hadir di berbagai aspek kehidupan—dari pendidikan, pekerjaan, hingga hiburan—karakter model AI bisa menjadi pembeda besar antara keberhasilan atau kegagalan sebuah teknologi.

Menggabungkan Model Behavior Team ke Post Training Team memungkinkan riset tentang kepribadian AI berjalan lebih selaras dengan pengembangan teknis. Dengan begitu, setiap pembaruan model tidak hanya cerdas secara teknis, tetapi juga seimbang secara etika dan pengalaman pengguna.

Advertisement

Selain itu, kehadiran OAI Labs menjadi sinyal kuat bahwa OpenAI tidak berhenti di paradigma lama. Perusahaan ini tampaknya ingin menjajaki cara baru bagaimana manusia berinteraksi dengan mesin, entah itu lewat antarmuka kreatif, eksperimen edukatif, atau bahkan bentuk kolaborasi yang sama sekali baru.

Tantangan ke Depan

Meski begitu, perjalanan OpenAI tidak akan mudah. Kritik terhadap GPT-5 menunjukkan bahwa menjaga keseimbangan antara kecerdasan, etika, dan kepribadian AI adalah tantangan yang rumit.

Jika terlalu “ramah,” model bisa dianggap tidak serius atau manipulatif. Namun jika terlalu “dingin,” pengguna bisa merasa tidak nyaman berinteraksi dengannya. Di sinilah peran gabungan tim riset baru dan eksperimen OAI Labs akan sangat penting untuk mencari titik tengah yang ideal.

Advertisement

Perombakan tim internal ini menunjukkan betapa seriusnya OpenAI dalam memperlakukan kepribadian AI sebagai bagian inti dari teknologi masa depan. Dengan penggabungan tim ke Post Training dan kelahiran OAI Labs, perusahaan menegaskan komitmen untuk menciptakan AI yang tidak hanya pintar, tetapi juga mampu berinteraksi dengan manusia secara alami, etis, dan bermanfaat.

Perubahan ini mungkin menjadi titik awal bagi generasi baru AI, yang tidak lagi sekadar alat, melainkan partner cerdas dalam berpikir, berkarya, dan berkolaborasi.

Advertisement

Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.