Di tengah gencarnya digitalisasi, tantangan terbesar pelaku usaha—terutama UMKM (kelas menengah) yang ingin naik kelas ke size bisnis lebih besar—adalah bagaimana memanfaatkan teknologi tanpa terbebani risiko keamanan. Inilah yang coba dijawab oleh PT Xapiens Teknologi Indonesia (Xapiens) lewat acara TecXperience Day, pameran inovasi teknologi yang digelar di Indonesia.
Dalam forum ini, Xapiens menegaskan komitmennya untuk menghadirkan solusi teknologi yang tak hanya relevan bagi korporasi besar, tapi juga bisa diakses oleh UMKM. Fokus utama mereka adalah transformasi digital berkelanjutan dan perlindungan keamanan siberyang semakin krusial di era serangan digital.

Presiden Direktur Xapiens, Muhamad Nursahid, menekankan bahwa teknologi seharusnya tidak dipandang hanya sebagai produk yang dijual. “Yang terpenting adalah solusi yang memberikan hasil nyata: menyederhanakan proses, meningkatkan produktivitas, dan membantu bisnis bertumbuh,” ujarnya.
Baca Juga
Advertisement
Paradiva, inilah yang membedakan Xapiens. Mereka bukan sekadar vendor teknologi, melainkan mitra strategis yang mendampingi bisnis dalam perjalanan digitalisasi. Pendekatan ini penting, terutama bagi UMKM yang kerap menghadapi keterbatasan modal, SDM, hingga pengetahuan teknologi.
Ancaman digital semakin kompleks. Mulai dari phishing, malware, hingga ransomware kini bisa menyerang bisnis dari skala besar hingga UMKM. Untuk itu, Xapiens meluncurkan Xapiens Cyber Defense Center, sebuah ekosistem keamanan siber proaktif yang bekerja secara real time.
Pusat pertahanan ini terdiri dari dua protokol utama. Pertama, defense protocol, untuk pencegahan ancaman lewat pengawasan 24/7, mendeteksi kerentanan sejak dini sebelum berdampak ke bisnis. Kedua, command protocol merupakan respons cepat ketika serangan terkonfirmasi, dengan tim analis bersertifikasi yang langsung mengambil langkah tegas.
Baca Juga
Advertisement
Dengan pendekatan ini, UMKM yang sering kali kekurangan tim IT internal bisa merasa lebih aman. Cyber Defense Center bertindak layaknya perpanjangan tangan perusahaan dalam menjaga data dan sistem bisnis.
Kolaborasi dengan KALISTA: Ekosistem EV dan Digitalisasi
Dalam acara yang sama, Albert Aulia Ilyas, Presiden Direktur KALISTA Group, berbagi pengalaman berkolaborasi dengan Xapiens.
Baca Juga
Advertisement
KALISTA dikenal sebagai penyedia ekosistem kendaraan listrik (EV) di Indonesia. Mereka menggarap solusi end-to-end: mulai dari infrastruktur pengisian daya, integrasi IoT, hingga manajemen armada berbasis digital lewat sistem K-Move.

“Sejak awal perjalanan, fondasi digital kami dibangun bersama Xapiens. Dukungan ini tidak hanya memperkuat operasional inti, tetapi juga membantu strategi pemasaran, peningkatan efisiensi, hingga keberlanjutan bisnis,” ujar Albert.
Bagi UMKM di sektor transportasi dan logistik, model kolaborasi semacam ini bisa menjadi inspirasi. Mereka tidak perlu membangun sistem dari nol, cukup bermitra dengan penyedia solusi digital yang tepat agar bisa langsung fokus pada bisnis utama.
Baca Juga
Advertisement
Relevansi Transformasi Digital bagi UMKM
Meski sering dianggap hanya relevan bagi perusahaan besar, transformasi digital sejatinya justru krusial bagi UMKM. Alasan utama transformasi digital bagi UMKM, pertama efisiensi biaya, dengan digitalisasi dapat mengurangi penggunaan kertas, mempercepat administrasi, dan meminimalkan kesalahan manual.
Kedua, digitalisasi juga dapat membuka akses pasar lebih luas melalui platform digital, UMKM bisa menjangkau konsumen lintas daerah bahkan internasional.
Baca Juga
Advertisement
Ketiga, transparansi dan akuntabilitas terjaga, dengan sistem ERP atau IoT sederhana, UMKM bisa memantau stok, penjualan, hingga kinerja karyawan lebih akurat.
Keempat, memperkuat daya saing, UMKM yang mengadopsi teknologi memiliki peluang lebih besar bertahan di tengah persaingan global.
Xapiens menyadari hal ini. Karena itu, layanan mereka dirancang fleksibel sesuai dengan ukuran bisnis—mulai dari skala kecil hingga enterprise.
Baca Juga
Advertisement
Meski peluang besar terbuka, transformasi digital UMKM juga penuh tantangan:
1. Keterbatasan Modal – Banyak UMKM khawatir investasi digital akan mahal.
2. Literasi Teknologi Rendah – Tidak semua pelaku UMKM memahami cara memanfaatkan aplikasi, sistem ERP, atau platform IoT.
Baca Juga
Advertisement
3. Keamanan Siber – Minimnya proteksi membuat UMKM rawan jadi target empuk serangan digital.
Xapiens menjawab ketiga tantangan ini lewat pendekatan end-to-end solution: menyediakan sistem sesuai kebutuhan, memberi edukasi, hingga memastikan keamanan digital terjaga.
Pemerintah Indonesia menargetkan 30 juta UMKM masuk ekosistem digital pada 2030. Namun, target ini tak bisa tercapai tanpa dukungan swasta. Kehadiran perusahaan seperti Xapiens menjadi katalis penting, menghubungkan UMKM dengan teknologi mutakhir yang sebelumnya hanya bisa diakses korporasi besar.
Baca Juga
Advertisement
Melalui program seperti TecXperience Day, UMKM juga mendapat ruang untuk belajar langsung dari pakar, mencoba solusi, dan menemukan mitra kolaborasi. Paradiva, momentum ini penting agar UMKM tidak sekadar jadi penonton dalam era digital, melainkan pemain aktif yang ikut menentukan arah ekonomi Indonesia.
“Melalui Xapiens TecXperience Day dan Cyber Defense Center terbaru, kami ingin menghadirkan momentum bagi lintas industri untuk mengadopsi inovasi sekaligus memperkuat fondasi keamanan digital,” tutup Nursahid.
Baca Juga
Advertisement
Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.