Di tengah berbagai tantangan ekonomi yang masih membayangi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), kesehatan finansial kini dinilai menjadi fondasi penting untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Tidak hanya soal akses pembiayaan, pelaku UMKM juga membutuhkan kemampuan mengelola keuangan agar usaha dapat bertahan dan berkembang dalam jangka panjang.
Pandangan tersebut kembali ditegaskan oleh Amartha melalui penyelenggaraan The 2026 Asia Grassroots Forum yang mengusung tema “Enabling Growth, Elevating Financial Health”. Forum ini akan mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dari sektor keuangan, akademisi, pemerintah, hingga pelaku industri untuk membahas masa depan ekonomi akar rumput di Indonesia dan kawasan Asia.
Menurut Amartha, inklusi keuangan tidak lagi cukup hanya diukur dari banyaknya masyarakat yang memperoleh akses terhadap layanan keuangan. Lebih dari itu, keberhasilan harus terlihat dari kemampuan masyarakat dalam menjaga kesejahteraan, menghadapi risiko ekonomi, serta membangun ketahanan finansial yang lebih kuat.
Baca Juga
Advertisement
Bagi pelaku usaha di tingkat akar rumput, layanan keuangan digital kini berperan lebih luas. Selain membuka akses pembiayaan, teknologi keuangan juga membantu pelaku usaha mengelola arus kas, menjaga keberlangsungan bisnis, hingga mempersiapkan diri menghadapi berbagai tantangan ekonomi yang tidak terduga.
UMKM Perempuan Hadapi Tantangan Lebih Kompleks
Peran UMKM dalam menopang ekonomi nasional tidak bisa dipandang sebelah mata. Secara global, sektor ini menyumbang lebih dari 90 persen entitas bisnis, menyediakan sekitar 70 persen lapangan kerja, serta berkontribusi terhadap 50 persen produk domestik bruto (PDB).
Baca Juga
Advertisement
Di Indonesia, kontribusinya bahkan lebih besar. Pada 2025, tercatat lebih dari 65,5 juta UMKM berkontribusi lebih dari 60 persen terhadap PDB nasional dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja.
Namun demikian, berbagai tantangan masih membayangi sektor ini. Keterbatasan modal, tingginya biaya hidup, pendapatan yang fluktuatif, hingga kemampuan mengelola keuangan usaha dan rumah tangga menjadi hambatan yang sering dihadapi pelaku UMKM.
Berdasarkan data Center of Economic and Law Studies (CELIOS), permodalan masih menjadi persoalan utama yang dihadapi mayoritas UMKM di Indonesia. Padahal, akses pembiayaan menjadi salah satu faktor penting untuk mendorong pertumbuhan usaha secara berkelanjutan.
Baca Juga
Advertisement
Direktur Ekonomi Digital CELIOS, Nailul Huda, menjelaskan bahwa fintech dan layanan peer-to-peer (P2P) lending dapat menjadi jembatan bagi pelaku UMKM yang kesulitan memperoleh akses pembiayaan dari lembaga keuangan konvensional.
“Bagi banyak UMKM, termasuk perempuan di akar rumput, akses terhadap permodalan masih menjadi tantangan utama. Fintech, termasuk P2P lending, dapat menjembatani kebutuhan ini dengan cara yang lebih cepat dan tepat. Namun, pembiayaan digital perlu diarahkan untuk kegiatan produktif dan didukung tata kelola yang baik agar dapat membantu UMKM memperluas pasar serta menjaga keberlanjutan usahanya,” ujar Nailul Huda.
Tantangan tersebut semakin terasa bagi UMKM yang didirikan dan dikelola perempuan. Selain menjalankan usaha, banyak perempuan juga memegang tanggung jawab mengatur keuangan keluarga. Kondisi ini membuat mereka membutuhkan dukungan yang lebih komprehensif dibanding sekadar akses modal.
Baca Juga
Advertisement
Data International Finance Corporation (IFC) menunjukkan bahwa UMKM milik perempuan menyumbang sekitar sepertiga dari total UMKM di negara berkembang. Meski demikian, kelompok ini masih menghadapi kesenjangan pembiayaan yang mencapai US$1,9 triliun.
Associate Professor Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Poppy Ismalina, menilai pemberdayaan perempuan harus dilakukan secara menyeluruh.
“Pemberdayaan ekonomi perempuan bukan hanya tentang memberikan akses permodalan, tetapi juga memastikan perempuan berada dalam posisi pengambilan keputusan, memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan terhadap sistem keuangan, serta dapat mengakses produk keuangan digital dengan baik,” kata Poppy.
Baca Juga
Advertisement
Menurutnya, perempuan yang memiliki akses terhadap solusi keuangan yang tepat akan lebih percaya diri dalam mengelola kebutuhan keluarga, menjaga kesehatan finansial, sekaligus memastikan keberlanjutan usahanya.
Kesehatan Finansial Jadi Fondasi Ekonomi Akar Rumput
Konsep financial health atau kesehatan finansial kini semakin relevan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi akar rumput. Mengacu pada United Nations Secretary-General’s Special Advocate for Inclusive Finance for Development (UNSGSA), kesehatan finansial menggambarkan kemampuan individu maupun keluarga dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, mengelola kewajiban keuangan, menghadapi risiko, dan memiliki rasa percaya diri terhadap kondisi finansial di masa depan.
Baca Juga
Advertisement
Dalam konteks UMKM, kesehatan finansial mencakup kemampuan mengelola arus kas, mengantisipasi pengeluaran mendadak, merencanakan target usaha, hingga mengambil keputusan bisnis secara lebih matang.
Chief Compliance and Sustainability Officer Amartha, Aria Widyanto, mengatakan bahwa pendekatan ini menjadi langkah penting untuk memastikan inklusi keuangan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Keberhasilan inklusi keuangan tidak lagi hanya diukur dari jumlah masyarakat yang mengakses produk keuangan, tetapi dari kemampuan mereka bertahan dan mencapai tujuan kesejahteraan di tengah dinamika ekonomi. Membangun kesehatan finansial membutuhkan partisipasi dan kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan ekosistem yang terintegrasi dan berkelanjutan,” ujar Aria.
Baca Juga
Advertisement
Komitmen tersebut telah dijalankan Amartha selama lebih dari 16 tahun melalui pembiayaan produktif, pendampingan usaha, serta pemanfaatan teknologi digital. Berdasarkan Amartha Sustainability Report 2025, sebanyak 96 persen peminjam memperoleh keterampilan baru setelah bergabqung dengan Amartha. Sementara itu, 94 persen mengalami peningkatan pendapatan dan 91 persen berhasil memisahkan arus kas usaha dengan keuangan rumah tangga.
Selain itu, 82 persen peminjam mulai rutin mencatat pemasukan dan pengeluaran usaha, sedangkan lebih dari 90 ribu peminjam berhasil merekrut karyawan pertama mereka setelah memperoleh akses pembiayaan.
Melalui The 2026 Asia Grassroots Forum yang akan berlangsung pada 3–4 Juni 2026 di Shangri-La Jakarta, Amartha berharap dapat memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan solusi yang lebih relevan bagi UMKM, khususnya perempuan.
Baca Juga
Advertisement
“Amartha mengajak mitra lintas sektor untuk berkontribusi mewujudkan solusi kesehatan finansial yang relevan dan dapat diterapkan secara luas. Kami ingin memastikan layanan keuangan digital tidak hanya memperluas akses, tetapi juga memperkuat kesehatan finansial masyarakat akar rumput agar dapat tumbuh lebih berdaya dan berkelanjutan,” tutup Aria.
Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.