Tekanan ekonomi yang semakin kompleks membuat masyarakat kelas menengah Indonesia kini lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan. Alih-alih mengejar pertumbuhan aset, mayoritas justru memilih fokus pada stabilitas finansial. Temuan ini terungkap dalam FWD Consumer Outlook Survey yang dilakukan oleh FWD Group bekerja sama dengan Ipsos.
Survei tersebut mengkaji kondisi kesejahteraan finansial, kekhawatiran, serta kesenjangan perlindungan masyarakat kelas menengah di Asia, termasuk Indonesia. Selain itu, riset ini juga menyoroti perbedaan kebutuhan dan perilaku finansial antar generasi dalam menghadapi risiko di masa depan.

Hasilnya menunjukkan bahwa tekanan finansial kini menjadi realitas yang dihadapi sebagian besar responden. Sekitar 66% responden mengaku merasa stres, khawatir, atau hanya mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi ini mencerminkan semakin sempitnya ruang finansial masyarakat kelas menengah di tengah dinamika ekonomi saat ini.
Baca Juga
Advertisement
Chief Human Resources & Marketing Officer FWD Insurance, Rudy F. Manik, menjelaskan bahwa kondisi tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. “Setiap generasi menghadapi tekanan dan memiliki prioritas finansial yang berbeda di setiap tahapan kehidupannya. Melalui survei ini, kami ingin memahami kondisi, kebutuhan, dan kesenjangan perlindungan masyarakat kelas menengah secara lebih mendalam,” ujarnya.
Biaya Hidup, Pendapatan, dan Kesehatan Jadi Pemicu
Lebih lanjut, survei ini mengungkap tiga faktor utama yang menjadi sumber tekanan finansial. Kenaikan biaya hidup menjadi penyebab terbesar dengan porsi mencapai 70%. Disusul oleh ketidakpastian pendapatan sebesar 43% dan tingginya biaya kesehatan sebesar 40%.
Baca Juga
Advertisement
Kombinasi faktor tersebut membuat masyarakat semakin berhati-hati dalam mengambil keputusan finansial. Tidak hanya itu, banyak individu kini lebih fokus memastikan kebutuhan dasar terpenuhi dibandingkan mengembangkan investasi atau aset jangka panjang.
Rudy menambahkan bahwa situasi ini menunjukkan adanya perubahan pola pikir dalam pengelolaan keuangan. “Kami melihat masyarakat Indonesia saat ini menghadapi tekanan finansial yang semakin kompleks. Meskipun ada kecenderungan untuk lebih berhati-hati, masih banyak yang belum sepenuhnya siap menghadapi implikasi finansial dari usia hidup yang lebih panjang, terutama di tengah meningkatnya biaya kesehatan,” jelasnya.
Kebutuhan Finansial Berbeda di Tiap Generasi
Baca Juga
Advertisement
Survei ini juga menegaskan bahwa pendekatan finansial tidak bisa disamaratakan karena setiap generasi memiliki kebutuhan yang berbeda.
Generasi Z, misalnya, lebih berfokus pada upaya mencapai kemandirian finansial. Mereka cenderung mencari produk perlindungan yang sederhana, praktis, dan terjangkau. Hal ini sejalan dengan gaya hidup mereka yang dinamis dan digital-savvy.
Sementara itu, Generasi Y menghadapi tekanan yang lebih kompleks sebagai sandwich generation. Mereka tidak hanya bertanggung jawab atas kebutuhan keluarga inti, tetapi juga harus membantu orang tua dan kerabat lainnya. Di sisi lain, mereka juga harus menjaga stabilitas pendapatan di tengah risiko inflasi.
Baca Juga
Advertisement
Adapun Generasi X lebih menitikberatkan pada stabilitas jangka panjang, terutama dalam mempersiapkan masa pensiun. Fokus utama mereka adalah memastikan keberlanjutan finansial serta perlindungan terhadap risiko kesehatan di usia lanjut.
Dengan demikian, hasil survei ini memperlihatkan pentingnya solusi keuangan yang lebih personal dan relevan bagi masing-masing kelompok usia.
Kesenjangan Antara Harapan Hidup dan Kesiapan Finansial
Baca Juga
Advertisement
Selain tekanan jangka pendek, survei ini juga mengungkap adanya kesenjangan dalam kesiapan finansial jangka panjang. Rata-rata responden memperkirakan dapat hidup hingga usia 79 tahun. Namun, tabungan yang dimiliki hanya diperkirakan cukup untuk menopang sekitar 19 tahun setelah pensiun.
Artinya, terdapat potensi ketidakseimbangan antara harapan hidup dan kesiapan finansial. Kondisi ini semakin diperparah dengan adanya periode kerentanan kesehatan selama dua hingga empat tahun di masa tua, yang tentu membutuhkan biaya tidak sedikit.
Situasi ini menjadi pengingat pentingnya perencanaan keuangan jangka panjang, termasuk perlindungan terhadap risiko kesehatan dan ketidakpastian ekonomi di masa depan.
Baca Juga
Advertisement
Menanggapi temuan tersebut, FWD Insurance menegaskan komitmennya untuk menghadirkan solusi perlindungan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat lintas generasi. Berbagai produk asuransi, baik konvensional maupun syariah, disiapkan untuk menjawab kebutuhan tersebut.
Selain itu, FWD juga menghadirkan inovasi digital melalui aplikasi FWD Omne yang memungkinkan nasabah mengakses berbagai layanan dalam satu platform. Mulai dari melihat informasi polis, mengakses kartu asuransi digital, hingga pengajuan klaim dapat dilakukan secara praktis.
“Hasil survei ini semakin memperkuat komitmen kami untuk menempatkan kebutuhan pelanggan sebagai pusat dari segala hal yang kami lakukan. Dengan dukungan teknologi, kami ingin menghadirkan pengalaman berasuransi yang lebih sederhana, mudah diakses, dan relevan,” tutup Rudy.
Baca Juga
Advertisement
Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.