Xi Jinping Sentil Soal Strategi Nasional China yang Fokus ke AI dan EV

Xi Jinping kritik strategi nasional China yang terlalu fokus pada AI & EV. Risiko perang harga dan gelembung ekonomi mulai nyata.

Img 9807

Dalam setahun terakhir, makin ramai negara-negara berlomba investasi di kecerdasan buatan (AI) dan kendaraan listrik (EV), Presiden Xi Jinping justru mengambil langkah tak terduga: mempertanyakan arah industrialisasi negaranya sendiri.

Melansir Businessinsider.com yang dirilis awal Juli 2025, Xi secara terbuka mengkritik fokus berlebihan seluruh provinsi di China pada sektor teknologi tinggi yang sama, yaitu AI, komputasi daya, dan kendaraan energi baru. Komentar ini disampaikan Xi dalam rapat tentang pembangunan kota di Beijing, seperti dikutip dari People’s Daily, corong resmi Partai Komunis.

“Setiap bicara proyek baru, pasti tentang AI, komputasi, atau kendaraan listrik,” ujar Xi. “Apa semua provinsi harus masuk ke sektor yang sama?” ucapnya retoris. Dia melihatnya semua proyek baru itu-itu saja. 

Advertisement

Pernyataan ini menandai pergeseran signifikan dari sikap Beijing sebelumnya, yang justru mendorong ambisi besar untuk menjadikan China pemimpin global dalam teknologi masa depan. Kini, kekhawatiran baru muncul: apakah strategi ini justru membawa risiko lebih besar dari manfaat?

Persaingan dalam sektor EV dan AI di China telah berubah menjadi pertarungan tanpa akhir. Perusahaan berlomba-lomba menawarkan harga murah demi menguasai pasar. Imbasnya, margin keuntungan tergerus, kualitas produk stagnan, dan industri makin tak berkelanjutan.

Img 9802
Xi Jinping Sentil Soal Strategi Nasional China yang Fokus ke AI dan EV 6

Dalam istilah lokal, fenomena ini disebut “involusi” — kompetisi berlebihan yang tidak lagi menghasilkan nilai tambah. Pemerintah pusat pun mulai merespons. Menurut Business Insider, regulator China tengah menyusun regulasi untuk mencegah praktik jual rugi dan mendorong konsolidasi pasar.

Advertisement

Lynn Song, Kepala Ekonom ING untuk China Raya, menyebutkan bahwa “memaksa bisnis menjual di bawah biaya produksi” adalah praktik yang kini disorot ketat oleh otoritas.

Ancaman Deflasi dan Gelembung Ekonomi: Dampak Domino ke Indonesia

Lebih lanjut, tekanan deflasi membayangi. Indeks Harga Produsen (PPI) China anjlok 3,6% pada Juni 2025 — penurunan terbesar dalam hampir dua tahun. Walaupun pertumbuhan PDB di paruh pertama tahun ini tercatat 5,3%, sebagian besar ditopang oleh lonjakan ekspor sebelum tarif AS baru diberlakukan.

Advertisement

Namun, di balik angka itu, masalah struktural tetap mengintai: konsumsi domestik lemah, pengangguran muda meningkat, dan investor kehilangan kepercayaan.

Di sisi lain, ekspor murah China justru memicu ketegangan dagang. Uni Eropa dan Amerika Serikat sudah mulai mengatur ulang tarif impor EV China karena dianggap menjatuhkan harga global secara tidak adil.

Img 9805
Xi Jinping Sentil Soal Strategi Nasional China yang Fokus ke AI dan EV 7

Bukan cuma China yang terdampak, paradiva. Indonesia juga bisa kena imbas. Pengusaha nasional Tyovan Ari Widagdo menyebut arah baru Xi Jinping bisa mengganggu ekosistem nikel dan baterai dalam negeri.

Advertisement

“Sebagian besar ekspor nikel olahan kita ke China. Kalau mereka batasi ekspor EV karena oversupply, harga bisa anjlok. Investor di Indonesia ikut terpukul, apalagi yang sudah jor-joran bangun smelter dan pabrik baterai,” katanya.

Lebih lanjut, Tyovan mengingatkan bahwa banyak investasi di sektor ini menggunakan utang. Jika bisnis stagnan dan tak balik modal, risikonya adalah bubble. “Rasio utang bisa naik, sementara valuasi perusahaan ga masuk akal. Ujungnya bisa kolaps,” tambahnya.

AI : Efek FOMO Investor dan Pedang Bermata Dua

Advertisement

Kondisi tak kalah rumit terjadi di sektor AI. Meski hype tinggi, banyak investor terlalu optimis terhadap teknologi ini. Padahal, adopsi AI belum secepat yang dibayangkan. Untuk bisa jalan, AI butuh data center besar, server mahal, dan pasokan listrik stabil — semua ini memakan biaya tinggi.

“Kalau pendapatan perusahaan AI gak sesuai ekspektasi, sementara cost of capital-nya tinggi, itu jadi bom waktu,” ujar Tyovan.

Ditambah lagi, dominasi chip AI dunia saat ini dikuasai NVIDIA. Perusahaan asal AS itu telah menandatangani kesepakatan dengan pemerintah Amerika untuk tidak menjual chip ke negara pesaing seperti China. Alhasil, perusahaan China terpaksa membangun rantai pasok chip alternatif yang jauh lebih mahal dan rumit.

Advertisement

“Banyak valuasi perusahaan AI yang kopong, gak real. Investor baru nyadar pas udah telanjur masuk,” ujar pria yang juga Ketua Umum (Ketum) Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN).

Meski demikian, paradiva, teknologi tetaplah netral. AI seperti pedang bermata dua. Di satu sisi, ia menjanjikan efisiensi dan inovasi luar biasa. Di sisi lain, jika tak dikelola hati-hati, bisa jadi sumber gelembung ekonomi baru — persis seperti startup-startup yang dulu tumbuh pesat, lalu kolaps.

“Gak semua perusahaan AI itu bodong. Ada juga yang bener, untung, dan tumbuh sehat. Tapi mayoritas masih mimpi,” kata lulusanTeknik Informatika di Binus University yang namanya masuk dalam pengusaha muda yang sukses dalam daftar 30 Under 30 Forbes Asia 2017 jujur.

Advertisement

Menuju Strategi Industri yang Lebih Realistis

Langkah Xi mempertanyakan strategi nasional bisa jadi sinyal perubahan arah kebijakan. Alih-alih mengejar pertumbuhan lewat duplikasi industri teknologi di semua provinsi, Beijing tampaknya ingin kembali pada efisiensi dan keberlanjutan.

Menurut Business Insider, strategi nasional ke depan kemungkinan akan menitikberatkan pada: konsolidasi industri EV, reformasi aturan harga, diversifikasi industri tiap provinsi, evaluasi utang dan valuasi perusahaan teknologi dan penyusunan rantai pasok chip yang lebih mandiri

Advertisement

Pertanyaan Xi Jinping tentang masa depan AI dan EV bukan sekadar retorika. Ia membuka wacana baru bahwa strategi pembangunan tidak bisa hanya berpatokan pada tren global. Negara sebesar China pun kini dihadapkan pada kenyataan bahwa over investment, perang harga, dan mimpi teknologi bisa berujung krisis jika tidak ditata dengan matang. Tyovan mengingatkan, bagi Indonesia, ini jadi pelajaran penting bahwa kehati-hatian jauh lebih relevan daripada sekadar mengikuti euforia teknologi.

Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.