Tips Pakai AI Chatbot dari Manusia Rp2000 Triliun

CEO Nvidia Jensen Huang gunakan banyak AI sekaligus dan minta mereka saling kritik demi jawaban paling akurat.

Tips Pakai Ai
CEO NVIDIA, Jensen Huang.

Orang terkaya di dunia, yang juga CEO Nvidia, Jensen Huang memberikan tips pakai AI, khususnya AI Chatbot untuk menunjang produktivitasnya. Manusia dengan kekayaan senilai USD150 miliar atau setara Rp2000 triliun itu justru mengambil pendekatan yang lebih cerdas dan tidak biasa. Dalam wawancara eksklusif di acara Fareed Zakaria GPS yang tayang di CNN, Huang mengungkap bahwa dirinya tidak hanya mengandalkan satu AI untuk menjawab pertanyaan—melainkan beberapa sekaligus, dan bahkan meminta mereka untuk saling mengkritisi jawaban satu sama lain.

Sebagai pemimpin dari salah satu perusahaan paling berpengaruh di bidang kecerdasan buatan, cara Huang menggunakan teknologi ini mencerminkan bagaimana AI bisa dimanfaatkan secara maksimal dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk belajar maupun mengambil keputusan. Di sinilah dia membeberkan tips pakai AI yang cukup bijak.

“Ini tidak berbeda dengan mendapatkan tiga pendapat dari tiga dokter,” jelas Huang.
“Saya bertanya ke beberapa AI, lalu meminta mereka membandingkan catatan mereka dan berikan saya versi terbaik dari semua jawaban.”

Advertisement

Indosat Jalin Integrasi dengan Platform NVIDIA Blackwell
Indosat Jalin Integrasi dengan Platform NVIDIA Blackwell

Tips Pakai AI: Mulai dari Level Anak hingga Doktor

Apa yang membuat pendekatan Huang begitu menarik adalah bagaimana ia menggunakan AI sebagai tutor harian. Di sela-sela pernyataannya, ia menuturkan bahwa dalam bidang yang masih baru baginya, ia kerap meminta AI menjelaskan dengan bahasa yang sangat sederhana.

“Kadang saya bilang, ‘Jelaskan ke saya seperti saya anak 12 tahun,’ lalu perlahan tingkatkan penjelasannya sampai ke level doktor,” ujarnya dalam Milken Institute Global Conference ke-28 pada Mei lalu.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa AI tidak sekadar alat bantu otomatisasi, tetapi juga bisa menjadi pendamping belajar yang fleksibel dan adaptif terhadap kebutuhan pengguna. Dari sini, dapat disimpulkan bahwa AI punya potensi besar sebagai alat pembelajaran yang personal, mulai dari anak-anak hingga profesional tingkat lanjut.

Advertisement

Jawaban AI Boleh Diragukan, Tapi Proses Bertanya Itu Penting

Salah satu sorotan utama dalam wawancara tersebut adalah pertanyaan tentang dampak AI terhadap kemampuan kognitif. Mengutip studi dari MIT yang menyebutkan bahwa penggunaan AI seperti ChatGPT bisa menurunkan kemampuan berpikir kritis, Fareed Zakaria mempertanyakan apakah AI justru membuat penggunanya jadi pasif dalam berpikir.

Namun Huang membantah anggapan ini dengan tegas.

“Saya rasa kemampuan kognitif saya justru meningkat. Setiap hari saya berinteraksi dengan AI. Untuk bertanya dengan baik, Anda harus berpikir. Harus analitis. Harus punya logika sendiri,” tegasnya.

Pernyataan ini menekankan bahwa interaksi dengan AI bukanlah kegiatan pasif. Justru sebaliknya, pengguna perlu memiliki kemampuan berpikir kritis dan analitis untuk bisa mengoptimalkan jawaban dari AI. Dalam konteks ini, AI berperan sebagai sparring partner intelektual, bukan sebagai pengganti otak manusia.

Advertisement

Gaya Pemanfaatan AI Para CEO Dunia

Jensen Huang bukan satu-satunya pemimpin teknologi yang sudah memasukkan AI ke dalam rutinitas hariannya. Satya Nadella, CEO Microsoft, juga mengungkapkan bahwa ia menggunakan Microsoft Copilot untuk meringkas email dan mempersiapkan materi rapat. Hal ini menegaskan bahwa AI bukan lagi sekadar alat eksperimen, tetapi sudah menjadi asisten kerja digital yang andal.

Namun, pendekatan Huang tetap terasa unik. Ia tidak hanya mengandalkan AI sebagai alat bantu, tetapi juga menantang AI itu sendiri untuk menjadi lebih baik melalui proses debat internal antarbot. Cara ini membuka peluang baru dalam bagaimana kita bisa mengoptimalkan AI untuk pengambilan keputusan yang lebih matang dan informatif.

AI Sebagai Pendamping, Bukan Pengganti

Paradigma umum tentang AI sering kali terjebak pada dua kutub ekstrem: mengagungkan AI secara berlebihan atau mencemaskan kehadirannya sebagai pengganti manusia. Namun dari pendekatan Huang, kita bisa belajar bahwa kunci pemanfaatan AI justru terletak pada bagaimana manusia mampu mengarahkan dan mengkritisi kinerja AI itu sendiri.

Advertisement

Strategi menggunakan beberapa AI sekaligus dan meminta mereka untuk cross-check bisa menjadi pendekatan yang layak dicoba oleh para profesional, pelajar, bahkan masyarakat umum yang ingin mendapat sudut pandang lebih luas dari teknologi ini. Pendekatan ini sangat relevan di era informasi saat ini, di mana kecepatan harus diimbangi dengan akurasi dan kedalaman analisis.

AI Lebih dari Sekadar Mesin Pintar

Dari semua pemaparan Huang, satu hal yang jelas adalah bahwa AI bukan sekadar mesin jawab otomatis. Ia bisa menjadi pendamping berpikir, mentor belajar, hingga penasihat multi-sudut pandang, asal digunakan dengan cara yang tepat.

Dengan gaya hidup digital yang semakin kompleks, cara berpikir kritis dan pendekatan yang bijak seperti yang diterapkan Huang bisa menjadi panduan bagi siapa pun yang ingin hidup berdampingan dengan AI—bukan tunduk padanya.

Advertisement

“AI tidak akan menggantikan kita berpikir. Justru, ia menantang kita untuk berpikir lebih baik.” – Jensen Huang, CEO Nvidia.

Advertisement

Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.

Jurnalis teknologi dan gadget sejak 2005. Mulai dari Majalah Digicom, pernah di Tabloid Ponselku, pendiri techno.okezone.com, 5 tahun di Viva.co.id, 2 tahun di Uzone.id. Pernah bikin majalah digital Klik Magazine, sempat di perusahaan VAS Celltick Technologies. Sekarang jadi founder Gadgetdiva.id, bantuin Indotelko.com dan Gizmologi.id. Supermom dengan 2 orang superkids.