TikTok akhirnya mengambil langkah besar untuk memastikan keberlangsungan bisnisnya di Amerika Serikat. Platform video pendek milik ByteDance itu resmi mencapai kesepakatan untuk menyerahkan sebagian kendali operasionalnya kepada kelompok investor asal Amerika. Langkah ini sekaligus menjadi titik balik dalam ketegangan panjang antara TikTok dan pemerintah AS terkait isu keamanan nasional.
Kesepakatan tersebut terungkap melalui memo internal yang disampaikan CEO ByteDance, Shou Chew, dan dilaporkan oleh TechCrunch pada Jumat. Dalam dokumen itu dijelaskan bahwa TikTok akan membentuk sebuah usaha patungan atau joint venture khusus untuk mengelola bisnisnya di Amerika Serikat. Dengan demikian, pengelolaan TikTok di AS tidak lagi sepenuhnya berada di bawah kendali perusahaan induk yang berbasis di China.
Melalui kesepakatan ini, investor Amerika akan memegang kendali signifikan atas operasional TikTok di AS. Kelompok investor tersebut terdiri dari Oracle, perusahaan ekuitas swasta Silverlake, serta MGX, badan investasi asal Abu Dhabi yang berfokus pada pengembangan kecerdasan buatan. Ketiganya dinilai memiliki kapasitas teknologi dan keuangan untuk memenuhi tuntutan regulasi yang ketat dari pemerintah Amerika Serikat.
Baca Juga
Advertisement
Secara rinci, konsorsium investor tersebut akan menguasai sekitar 45 persen saham operasi TikTok di Amerika Serikat. Sementara itu, ByteDance tetap mempertahankan hampir 20 persen kepemilikan. Sisanya akan dimiliki oleh pemegang saham lainnya sesuai dengan struktur yang telah disepakati. Entitas baru hasil kerja sama ini diberi nama TikTok USDS Joint Venture LLC, yang akan menjadi tulang punggung operasional TikTok di Negeri Paman Sam.
Entitas tersebut nantinya bertanggung jawab penuh atas berbagai aspek krusial aplikasi. Mulai dari perlindungan data pengguna, keamanan algoritma rekomendasi, sistem moderasi konten, hingga jaminan keamanan perangkat lunak. Dengan struktur ini, TikTok berharap dapat menjawab kekhawatiran lama pemerintah AS terkait potensi akses data oleh pihak asing.
Selain itu, kesepakatan ini juga mengatur keterlibatan mitra keamanan independen. Mitra tersebut akan bertugas melakukan audit dan validasi secara berkala untuk memastikan seluruh operasional TikTok mematuhi ketentuan keamanan nasional Amerika Serikat. Dalam hal ini, Oracle ditunjuk sebagai mitra keamanan utama setelah transaksi resmi diselesaikan.
Baca Juga
Advertisement
Penunjukan Oracle bukan tanpa alasan. Perusahaan teknologi tersebut akan berperan penting dalam pengelolaan infrastruktur cloud dan penyimpanan data pengguna TikTok di AS. Dengan demikian, data pengguna Amerika dipastikan berada di wilayah hukum AS dan berada di bawah pengawasan pihak yang dianggap tepercaya oleh pemerintah setempat.
Kesepakatan ini dijadwalkan mulai berlaku efektif pada 22 Januari 2026. Menariknya, sebagian besar isi perjanjian tersebut selaras dengan perintah eksekutif yang sebelumnya ditandatangani oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada September lalu. Perintah tersebut pada dasarnya membuka jalan bagi penjualan atau pengalihan operasi TikTok di AS kepada investor Amerika.
Sebelum kesepakatan ini diumumkan secara terbuka, ByteDance memang terbilang tertutup soal detail negosiasi. Perusahaan hanya menyatakan komitmennya untuk mematuhi hukum yang berlaku demi memastikan TikTok tetap dapat diakses oleh jutaan penggunanya di Amerika Serikat. Kini, melalui pembentukan usaha patungan ini, komitmen tersebut mulai terlihat lebih konkret.
Baca Juga
Advertisement
Selama beberapa tahun terakhir, pemerintah Amerika Serikat secara konsisten mendorong pemisahan bisnis TikTok dari ByteDance. Alasannya jelas, yakni kekhawatiran terhadap keamanan nasional dan potensi penyalahgunaan data pengguna. Tekanan tersebut bahkan sempat memicu ancaman pelarangan TikTok di AS jika tidak ada solusi struktural yang disepakati.
Dengan adanya kesepakatan ini, TikTok tampaknya menemukan jalan tengah. Di satu sisi, perusahaan tetap dapat mempertahankan eksistensinya di pasar Amerika yang sangat strategis. Di sisi lain, pemerintah AS mendapatkan jaminan tambahan terkait keamanan data dan transparansi operasional. Ke depan, model kerja sama ini berpotensi menjadi preseden bagi perusahaan teknologi global lainnya yang beroperasi lintas negara.
Pada akhirnya, langkah TikTok menyerahkan sebagian kendali bisnisnya di Amerika Serikat bukan sekadar strategi bisnis, melainkan juga bentuk adaptasi terhadap lanskap geopolitik dan regulasi digital yang semakin kompleks. Bagaimana dampaknya dalam jangka panjang, tentu akan menjadi sorotan dunia teknologi global.
Baca Juga
Advertisement
Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.