Di tengah perubahan perilaku konsumen yang semakin terfragmentasi dan derasnya arus konten digital, pendekatan pemasaran generik kini mulai kehilangan daya tarik. Brand tidak lagi cukup hanya tampil, tetapi juga dituntut memahami konteks audiens secara lebih spesifik—mulai dari perilaku, preferensi, hingga latar budaya yang memengaruhi keputusan mereka.
Sejalan dengan kondisi tersebut, Strategic Asia Marketing Alliance (SAMA) Indonesia melalui program SAMA Connect menyoroti pentingnya hyper-localized marketing sebagai strategi yang semakin relevan di era digital. Mengusung tema “Mengupas Strategi Pemasaran di Era Digital: Seefektif Apakah Marketing Technology & Hyper-localized Marketing?”, forum ini mempertemukan para pelaku industri untuk membahas peran data, AI, dan MarTech dalam membangun strategi yang lebih presisi.
Dalam diskusi tersebut, SAMA menegaskan bahwa pendekatan broad segmentation dan pesan generik tidak lagi cukup. Sebaliknya, pemahaman mendalam terhadap konteks lokal menjadi faktor kunci untuk menciptakan komunikasi yang efektif.
Baca Juga
Advertisement
Presiden SAMA Indonesia, Arianto Bigman, menjelaskan bahwa hyper-localized marketing kini bukan lagi sekadar diferensiasi, melainkan kebutuhan strategis. Menurutnya, masih banyak brand yang menerapkan formula dari pasar lain tanpa penyesuaian. Padahal, setiap pasar memiliki karakter, bahasa, serta ekspektasi yang berbeda.

Lebih lanjut, Arianto menilai bahwa teknologi memang membuka peluang besar bagi marketer untuk bekerja lebih cepat dan akurat. Namun demikian, teknologi tidak otomatis menjamin strategi yang tepat. “Pemanfaatan MarTech, AI, dan data analytics akan lebih optimal jika didukung strategic thinking yang kuat serta pemahaman mendalam terhadap kebutuhan pelanggan,” ujarnya.
Di sisi lain, SAMA memandang bahwa strategi pemasaran tidak bisa sekadar mengadopsi best practice dari negara lain. Setiap wilayah memiliki kompleksitas tersendiri, baik dari sisi budaya, perilaku digital, maupun ekspektasi konsumen. Oleh karena itu, pendekatan yang efektif justru lahir dari kombinasi perspektif global dan sensitivitas lokal.
Baca Juga
Advertisement
Sementara itu, Kristyanto dari Ivosights menyoroti tantangan brand di era algoritma. Menurutnya, fokus tidak lagi hanya pada engagement, tetapi juga menjaga makna brand di tengah derasnya konten digital. Ia menilai bahwa banyak kampanye dengan engagement tinggi masih bersifat taktikal, sementara penguatan nilai dan positioning brand sering terabaikan.
Selain itu, perilaku konsumen yang semakin dinamis membuat brand harus hadir secara konsisten di berbagai channel. “Ke depan, tantangannya bukan hanya terlihat relevan di algoritma, tetapi juga memiliki makna dan kedekatan dengan audiens,” jelasnya.
Dalam konteks ini, data, social listening, dan AI memainkan peran penting. Tidak hanya untuk membaca pola perilaku, tetapi juga memahami sentimen dan memprediksi kebutuhan konsumen. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada kemampuan manusia dalam menerjemahkan insight menjadi strategi yang relevan secara emosional dan kontekstual.
Baca Juga
Advertisement
Pandangan serupa disampaikan oleh Anjas Maradita, praktisi AI. Ia menekankan bahwa personalisasi tidak cukup hanya sebatas otomatisasi atau penggunaan data dasar. Lebih dari itu, brand perlu memahami motivasi, kebutuhan, hingga keresahan pelanggan secara lebih mendalam.
“Personalisasi yang efektif adalah yang mampu menyentuh sisi emosional pelanggan. AI memang membantu membaca pola, tetapi arah strateginya tetap ditentukan manusia,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa di tengah semakin banyaknya tools AI, keunggulan justru terletak pada kemampuan membaca empati dan nuansa. Dengan kata lain, AI bukan pengganti manusia, melainkan alat untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas strategi.
Baca Juga
Advertisement
Dari sisi teknologi, Adrian Lesmono dari NVIDIA Indonesia melihat bahwa perkembangan komputasi saat ini semakin membuka peluang pemanfaatan AI secara luas. Teknologi terbaru memungkinkan berbagai use case dijalankan lebih cepat dan efisien, sekaligus mendekatkan solusi dengan kebutuhan pengguna.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa teknologi hanyalah enabler. Untuk menghasilkan strategi pemasaran yang tepat, dibutuhkan talenta yang memahami perilaku audiens dan konteks lokal secara mendalam.
Adrian juga menyoroti bahwa AI telah mengurangi kesenjangan informasi antara bisnis dan konsumen. Artinya, brand harus mampu menciptakan nilai lebih dengan memahami preferensi pelanggan secara lebih akurat.
Baca Juga
Advertisement
Pada akhirnya, paradiva, diskusi ini menegaskan bahwa hyper-localized marketing bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Kombinasi antara data, teknologi, dan pemahaman manusia menjadi fondasi utama dalam membangun strategi pemasaran yang relevan dan berkelanjutan di era digital yang semakin kompleks.
Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.