Dunia gaming tengah diguncang kontroversi. Roblox, salah satu platform game terbesar di dunia, resmi melarang YouTuber Schlep sekaligus mengirim surat cease and desist atau perintah penghentian aktivitas. Alasannya? Schlep, yang dikenal sebagai “pemburu predator” online, dituding melanggar berbagai aturan komunitas Roblox.
Langkah ini sontak menuai perdebatan. Pasalnya, Schlep memiliki lebih dari 600 ribu subscriber di YouTube, dan selama setahun terakhir ia mengklaim berhasil membantu aparat menangkap enam pelaku predator online. Namun, kini justru dirinya yang menghadapi ancaman hukum dari perusahaan game raksasa tersebut.
Tuduhan Berat dari Roblox
Dalam surat resminya, Roblox menuduh Schlep melakukan beberapa pelanggaran serius, di antaranya:
Baca Juga
Advertisement
- Membuat percakapan yang dianggap sebagai simulasi membahayakan anak.
- Membagikan atau meminta informasi pribadi pengguna.
- Mengajak pengguna untuk memindahkan percakapan keluar dari platform.
Menurut Roblox, metode yang digunakan Schlep justru melewati sistem keamanan resmi mereka dan meningkatkan risiko bagi pengguna.
Bantahan Tegas dari Schlep
Menanggapi tuduhan tersebut, Schlep membantah keras. Ia menjelaskan bahwa dalam operasi pemburuan predator, umpan (decoy) yang digunakannya tidak pernah memulai percakapan seksual. Hal ini untuk mencegah tuduhan jebakan atau entrapment.
Selain itu, sebagian besar log percakapan yang ia kumpulkan ternyata tidak berasal dari Roblox, melainkan dari Discord. Schlep juga menilai bahwa membagikan informasi pribadi kepada polisi demi investigasi tidak seharusnya dihitung sebagai pelanggaran aturan.
Baca Juga
Advertisement
Tak berhenti di situ, Schlep mengaku bahwa Roblox bahkan menutup seluruh akun yang pernah ia buat sejak kecil—termasuk akun lama yang dipakainya untuk berkomunikasi dengan tersangka predator.
Kritik Balik: Roblox Dinilai Lalai
Dalam sebuah video, Schlep membeberkan sejumlah kasus di mana Roblox disebut gagal menindaklanjuti laporan serius. Salah satunya adalah ancaman terhadap ikon baru Las Vegas, The Sphere, yang menurutnya telah ia laporkan baik ke Roblox maupun FBI. Namun, perusahaan dianggap lambat mengambil tindakan.
Lebih mengejutkan lagi, Schlep mengungkap bahwa dirinya sendiri pernah menjadi korban pelecehan di Roblox ketika masih anak-anak. Ia mengklaim pernah digrooming oleh seorang developer populer di platform itu. Saat ibunya melapor ke Roblox, perusahaan hanya memberikan sumber daya krisis, tetapi tidak langsung menghapus predator tersebut. Aksi baru dilakukan bertahun-tahun kemudian.
Baca Juga
Advertisement
Dukungan dari Sesama Kreator
Kasus ini juga menarik perhatian sesama kreator YouTube. JiDion, yang kerap bekerja sama dengan Schlep untuk membongkar predator online, ikut merilis video soal pelarangan dan ancaman hukum dari Roblox.
Tak butuh waktu lama, dukungan publik pun mengalir deras. Tagar #BoycottRoblox dan #FreeSchlep mulai ramai di media sosial. Banyak pengguna menilai Roblox berusaha membungkam seorang whistleblower yang mencoba membersihkan platform dari bahaya predator.
Sikap Tegas Roblox
Di sisi lain, Roblox tetap pada pendiriannya. Mereka menegaskan bahwa operasi independen seperti yang dilakukan Schlep justru bisa mengganggu penyelidikan resmi. Menurut perusahaan, laporan aktivitas berbahaya seharusnya hanya disampaikan lewat sistem moderasi internal atau jalur resmi aparat hukum.
Baca Juga
Advertisement
Roblox juga menekankan bahwa mereka sudah bekerja sama dengan lembaga penegak hukum dan organisasi perlindungan anak untuk memastikan ancaman ditangani dengan cara yang tepat.
Pertarungan Citra dan Keamanan
Kasus Schlep vs Roblox kini menjadi perdebatan publik. Di satu sisi, Schlep dianggap pahlawan oleh penggemarnya karena berani melawan predator online. Di sisi lain, Roblox menilai tindakannya berbahaya dan tidak sesuai prosedur hukum.
Pertanyaannya kini: apakah langkah Roblox ini bentuk perlindungan platform atau justru upaya bungkam kritik? Yang jelas, reputasi perusahaan sedang dipertaruhkan. Terlebih lagi, dengan ramainya tagar boikot, Roblox harus berhati-hati agar tidak kehilangan kepercayaan pemainnya, terutama anak-anak dan orang tua yang menginginkan lingkungan bermain aman.
Baca Juga
Advertisement
Kontroversi antara Roblox dan YouTuber Schlep membuka diskusi besar tentang batas antara aksi individu dan regulasi resmi dalam menjaga keamanan online. Apakah inisiatif warga digital seperti Schlep perlu didukung, atau justru berisiko membahayakan pengguna?
Yang jelas, kasus ini belum berakhir. Jika Roblox benar-benar membawa perkara ini ke ranah hukum, dunia gaming bisa jadi menyaksikan salah satu persidangan paling ramai dalam sejarah industri.
Untuk sekarang, satu hal pasti: komunitas Roblox tengah terbelah antara mereka yang mendukung perusahaan, dan mereka yang berdiri di belakang Schlep.
Baca Juga
Advertisement
Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.