NASA dan Google bersatu mengembangkan teknologi baru yang bisa menjadi penyelamat di luar angkasa. Lewat proyek yang disebut Crew Medical Officer Digital Assistant (CMO-DA), kedua raksasa ini tengah menguji asisten medis berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mampu membantu astronaut tetap sehat saat menjalankan misi jauh dari Bumi.
Langkah ini terbilang penting karena misi luar angkasa kerap menghadapi risiko kesehatan yang tidak bisa langsung ditangani. Di lingkungan mikrogravitasi, cedera atau penyakit bisa berkembang berbeda dibanding di Bumi. Apalagi, jarak yang jauh membuat komunikasi dengan dokter di Bumi bisa terhambat.
Diagnosis dan Perawatan Tanpa Dokter
Dilansir TechCrunch pada Jumat (8/8), CMO-DA dirancang untuk mendiagnosis dan memberikan panduan perawatan ketika tidak ada tenaga medis yang tersedia. Bahkan, teknologi ini tetap dapat digunakan jika komunikasi ke Bumi terputus sama sekali.
Baca Juga
Advertisement
Yang membuatnya canggih, alat ini bekerja secara multimoda—mampu memproses input berupa ucapan, teks, maupun gambar. Semua itu berjalan di lingkungan Google Cloud Vertex AI, yang menggabungkan teknologi model AI dari Google dan pihak ketiga.
David Cruley, teknisi dari Google Public Sector, mengungkapkan bahwa proyek ini berjalan di bawah perjanjian berlangganan Google Public Sector. Paket tersebut sudah mencakup biaya layanan cloud, infrastruktur pengembangan aplikasi, serta pelatihan model AI.
NASA sendiri tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga penyumbang teknologi. Badan antariksa ini telah menyediakan kode sumber aplikasi dan turut menyempurnakan model AI. Kolaborasi ini memungkinkan CMO-DA menjadi asisten medis virtual yang pintar, cepat, dan dapat diandalkan.
Baca Juga
Advertisement
Dalam tahap uji coba, tim mengembangkan tiga skenario medis: cedera pergelangan kaki, nyeri panggul, dan nyeri telinga. Kinerja asisten AI kemudian diuji oleh tiga dokter—salah satunya adalah astronaut. Mereka menilai kemampuan AI dari tahap evaluasi awal, pengambilan riwayat pasien, penalaran klinis, hingga perencanaan perawatan.
Hasil yang Menjanjikan
Hasil awal menunjukkan tingkat akurasi diagnostik yang cukup tinggi. Untuk skenario nyeri pinggang, AI memberikan rencana perawatan yang benar dengan kemungkinan 74%. Sementara untuk nyeri telinga, tingkat kebenarannya mencapai 80%, dan untuk cedera pergelangan kaki bahkan mencapai 88%.
Meski belum sempurna, angka ini sudah memberi harapan besar. Para ilmuwan NASA menilai, seiring bertambahnya data, kemampuan AI akan semakin baik.
Baca Juga
Advertisement
Langkah Berikutnya
Proyek ini masih dalam tahap pengembangan bertahap. Ke depannya, NASA berencana menambahkan lebih banyak sumber data, seperti hasil pemeriksaan dari perangkat medis, dan melatih AI agar memiliki kesadaran kontekstual terhadap kondisi luar angkasa.
Hal ini penting karena pemeriksaan di ruang hampa dengan gravitasi mikro memiliki tantangan unik. Misalnya, pembengkakan, distribusi cairan tubuh, dan reaksi obat bisa berbeda dibandingkan di Bumi.
Cruley tidak merinci apakah Google akan mengejar sertifikasi resmi untuk penggunaan CMO-DA di Bumi. Namun, ia menegaskan bahwa jika teknologi ini sukses di luar angkasa, potensinya untuk digunakan di rumah sakit atau daerah terpencil di Bumi sangat besar.
Baca Juga
Advertisement
Manfaat di Luar Misi Antariksa
Selain menjaga kesehatan astronaut, pelajaran yang diambil dari pengembangan AI ini dapat diterapkan dalam dunia kesehatan umum. Misalnya, AI ini bisa membantu tenaga medis di daerah terpencil atau di lokasi bencana, di mana akses ke dokter spesialis sangat terbatas.
Teknologi seperti CMO-DA dapat menjadi “dokter virtual” yang siap membantu mendiagnosis dan memberikan panduan perawatan awal, sambil menunggu bantuan langsung tiba.
Harapan Masa Depan
Kerja sama NASA dan Google ini menunjukkan bagaimana kecerdasan buatan bisa dioptimalkan untuk menyelamatkan nyawa, bahkan di lingkungan yang paling ekstrem sekalipun. Di masa depan, AI semacam ini mungkin akan menjadi peralatan wajib di setiap misi luar angkasa, sama seperti pakaian antariksa atau sistem oksigen.
Baca Juga
Advertisement
Dan jika teknologi ini terus dikembangkan, bukan tidak mungkin kita akan melihat versi rumah sakit dari CMO-DA di Bumi—memberikan bantuan medis instan hanya lewat suara atau kamera ponsel.
Langkah NASA dan Google ini bukan sekadar inovasi teknologi, tapi juga investasi untuk masa depan kesehatan manusia, baik di luar angkasa maupun di Bumi. Dengan kemampuan mendiagnosis secara cepat, memberi perawatan yang tepat, dan terus belajar dari setiap kasus, asisten medis AI ini berpotensi menjadi “dokter masa depan” yang selalu siap siaga di mana pun kita berada.
Baca Juga
Advertisement
Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.