Menkomdigi: Integrasi Digital Jadi Kunci Daya Saing ASEAN Lewat QRIS dan DEFA

Menkomdigi

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Republik Indonesia, Meutya Hafid, menegaskan bahwa integrasi digital menjadi kunci utama untuk memperkuat daya saing ASEAN di tengah ketatnya persaingan global. Hal tersebut disampaikannya dalam forum ekonomi dunia World Economic Forum (WEF) 2026 yang digelar di Davos, Swiss, Selasa (20/1).

Dalam forum bergengsi yang mempertemukan para pemimpin dunia tersebut, Meutya menyoroti pentingnya penguatan sistem pembayaran lintas negara melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), serta percepatan implementasi ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA). Menurutnya, dua inisiatif ini menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem ekonomi digital kawasan yang terhubung, tepercaya, dan berkelanjutan.

“QRIS saat ini telah terhubung dengan sejumlah mitra di kawasan, seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand. Dengan konektivitas ini, hambatan transaksi dapat dikurangi, biaya menjadi lebih efisien, dan akses ke pasar regional semakin terbuka lebar,” ujar Meutya dalam keterangan resminya, Rabu (21/1).

Advertisement

Lebih lanjut, Meutya menjelaskan bahwa integrasi sistem pembayaran digital bukan hanya memudahkan transaksi lintas negara, tetapi juga mendorong percepatan digitalisasi ekonomi di tingkat regional. Dengan demikian, pelaku usaha, khususnya UMKM, dapat memperluas jangkauan pasar hingga ke negara-negara ASEAN tanpa harus menghadapi kompleksitas sistem pembayaran yang berbeda-beda.

Selain QRIS, Meutya juga menekankan peran strategis ASEAN Digital Economy Framework Agreement atau DEFA. Perjanjian ini dinilai menjadi tonggak penting dalam menyatukan standar digital di kawasan Asia Tenggara.

Menurutnya, ASEAN saat ini berada pada momentum krusial untuk melangkah dari integrasi parsial menuju ekosistem digital kawasan yang utuh, interoperabel, dan berdaulat. Oleh karena itu, kehadiran DEFA menjadi sangat penting sebagai payung kerja sama digital antarnegara anggota.

Advertisement

“DEFA menyediakan platform untuk menyelaraskan standar, memungkinkan layanan digital lintas negara, mengurangi fragmentasi, serta memberikan kepastian regulasi bagi pelaku usaha di kawasan,” jelas Meutya.

Ia menambahkan, selama ini perbedaan regulasi dan standar digital antarnegara sering kali menjadi penghambat pertumbuhan ekonomi digital. Namun dengan adanya DEFA, ASEAN memiliki peluang besar untuk menciptakan pasar digital yang terintegrasi dan kompetitif di tingkat global.

“ASEAN memiliki Digital Economy Framework Agreement yang menjadi sinyal kuat bahwa kawasan ini tidak hanya menjadi pengikut, tetapi siap membangun integrasi digitalnya sendiri,” tegasnya.

Advertisement

Tak hanya itu, Meutya juga menegaskan kesiapan Indonesia untuk bekerja sama dengan seluruh negara ASEAN serta mitra global dalam mempercepat transformasi digital kawasan. Menurutnya, kerja sama lintas negara menjadi kunci agar digitalisasi dapat berjalan secara cepat, aman, dan inklusif.

“Kami percaya ASEAN mampu bersaing secara global dan menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh negara anggota ASEAN. Transformasi digital harus menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi baru di kawasan,” imbuhnya.

Dalam konteks global, digitalisasi memang menjadi faktor penentu dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Negara-negara yang mampu mengadopsi teknologi digital secara cepat dan terintegrasi diyakini akan memiliki daya saing lebih kuat di pasar internasional.

Advertisement

Oleh karena itu, langkah Indonesia mendorong integrasi digital ASEAN melalui QRIS dan DEFA dinilai sejalan dengan kebutuhan zaman. Terlebih, kawasan Asia Tenggara saat ini menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi digital tercepat di dunia.

Sementara itu, World Economic Forum 2026 sendiri merupakan forum internasional yang mempertemukan para pemimpin politik, pelaku bisnis, akademisi, serta tokoh masyarakat dari berbagai negara. Forum ini dikenal sebagai ajang strategis untuk membahas dan membentuk agenda global, regional, serta industri.

WEF yang didirikan pada tahun 1971 tersebut memiliki tujuan mulia, yakni memperbaiki keadaan dunia melalui kerja sama antara sektor publik dan swasta. Setiap tahunnya, pertemuan WEF di Davos, Swiss, selalu menjadi sorotan karena membahas berbagai isu penting, mulai dari ekonomi, politik, sosial, hingga lingkungan.

Advertisement

Dalam forum tersebut, berbagai gagasan dan inisiatif global lahir untuk menjawab tantangan dunia yang semakin kompleks. Termasuk di antaranya adalah isu transformasi digital yang kini menjadi perhatian utama banyak negara.

Dengan kehadiran Menkomdigi Meutya Hafid di WEF 2026, Indonesia kembali menunjukkan perannya sebagai salah satu motor penggerak integrasi digital di kawasan ASEAN. Dorongan terhadap QRIS lintas negara dan percepatan DEFA menjadi bukti nyata komitmen Indonesia dalam membangun masa depan ekonomi digital yang inklusif dan berkelanjutan.

Ke depan, integrasi digital ASEAN diharapkan tidak hanya memperkuat daya saing kawasan, tetapi juga membuka lebih banyak peluang bagi masyarakat dan pelaku usaha untuk tumbuh bersama dalam ekosistem digital yang semakin terhubung.

Advertisement

Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.