Dunia pendidikan kini tengah bertransformasi besar berkat kehadiran kecerdasan buatan. Salah satu inovasi terbaru adalah Gemini AI, teknologi dari Google yang dirancang untuk membantu proses belajar-mengajar menjadi lebih personal, relevan, dan menyenangkan. Cerita inspiratif datang dari Pamekasan, Jawa Timur, tempat seorang guru matematika menciptakan gebrakan baru di ruang kelas.
Laila, guru matematika berdedikasi, menjadi contoh nyata bagaimana teknologi bisa menyatu dengan kearifan lokal. Ia memanfaatkan Gemini AI untuk menyusun strategi pembelajaran kreatif yang relevan dengan kehidupan siswa.
“Awalnya saya tidak menyukai matematika saat sekolah. Tapi dengan bantuan Gemini, saya bisa menyusun prompt yang menghubungkan matematika dengan budaya lokal,” ujar Laila.
Baca Juga
Advertisement

Melalui pelatihan di Gemini Academy, Laila belajar bagaimana menyusun pertanyaan ke AI yang tepat. Contohnya, ia pernah membuat prompt: “Bagaimana menghubungkan matematika dengan budaya lokal di Pamekasan?” Dalam hitungan detik, Gemini menyodorkan ide-ide inovatif.
Salah satunya, membawa siswa ke Monumen Arek Lancor dan menghitung tinggi monumen menggunakan trigonometri. Aktivitas ini membuat matematika terasa nyata dan menyenangkan. “Saya dan Gemini seperti tim—bersama menciptakan pembelajaran tak terbatas,” tambahnya.
Respons siswa pun sangat positif. Mereka mulai melihat matematika di sekitar mereka. Dari bangunan, pola batik, hingga proses pembuatan kerupuk lokal. “Bu, saya menemukan Teorema Pythagoras di sini!” ujar salah satu siswa antusias.
Baca Juga
Advertisement
Kegembiraan ini mendorong Laila untuk membagikan pengalamannya ke komunitas guru lain. Ia percaya, ketika siswa memahami potensi tak terbatas dari pelajaran, mereka juga akan menyadari potensi besar dalam diri mereka.
Google melalui Google for Education telah melatih lebih dari 200 guru dan menjangkau 147 sekolah unggulan di 22 provinsi di Indonesia. Stuart Miller, Lead Marketing Asia Pasifik untuk Google Education, menjelaskan bahwa Indonesia adalah salah satu pengguna AI terbesar kedua di dunia. Hal ini menjadi peluang besar untuk mempercepat transformasi pendidikan secara inklusif dan berkelanjutan.

Google tidak hanya menawarkan teknologi, tetapi juga pelatihan, pendampingan, dan program kolaboratif. Salah satunya adalah Program Duta Mahasiswa Gemini, yang baru diluncurkan di Jepang dan kini hadir di Indonesia.
Baca Juga
Advertisement
Program ini akan melibatkan 500 mahasiswa terpilih dari seluruh Indonesia untuk mengikuti pelatihan mendalam tentang AI, termasuk: Sesi mentoring langsung dengan pakar AI; Workshop kepemimpinan; dan Sertufikasi AI Generatif.
Tujuannya bukan hanya membekali mereka dengan keterampilan teknis, tetapi juga membentuk mereka menjadi pemimpin komunitas masa depan yang mampu menggunakan AI secara etis dan bijak.
Tanpa Internet? Tetap Bisa Belajar. Salah satu kekhawatiran umum adalah keterbatasan akses internet di daerah tertentu. Namun, Google memastikan bahwa beberapa fitur Gemini AI tetap bisa digunakan secara offline. Selain itu, Google juga menggandeng mitra lokal untuk mendukung adopsi teknologi di daerah-daerah terpencil.
Baca Juga
Advertisement
“Kami fokus menciptakan akses yang inklusif. Dengan 40 juta pengguna Workspace for Education di Indonesia, kami yakin perubahan nyata sedang terjadi,” ujar Stuart.
Etika dan Privasi: Prioritas Google
Dalam penerapan teknologi AI di dunia pendidikan, Google juga menekankan pentingnya privasi dan keamanan data. Data pengguna, baik guru maupun siswa, tidak dibagikan kepada pihak ketiga. Pelatihan tentang etika penggunaan AI juga diberikan, agar guru dan siswa paham bagaimana menggunakan AI dengan bertanggung jawab.
Baca Juga
Advertisement

Hal ini ditekankan pula oleh Dadan Irsyada, seorang guru dan Google Certified Educator dari Jawa Barat. “AI bukan pengganti guru, tapi alat untuk mempercepat pembelajaran. Namun kendali tetap di tangan kita sebagai pendidik,” tegasnya.
Pengalaman para pendidik menunjukkan bahwa teknologi hanyalah alat. Kunci sukses tetap pada kreativitas dan peran aktif guru dalam merancang pembelajaran. Dadan menambahkan, “AI memungkinkan demokratisasi belajar. Semua orang, dari kota hingga desa, bisa mengakses pengetahuan yang sama.”
Pengalaman ini juga diperkuat oleh Nabil, siswa dari sekolah dasar berbasis teknologi di Lantau. Menurutnya, AI membuat proses belajar jadi lebih interaktif dan kolaboratif. Dari pelajaran Bahasa Indonesia, IPA, hingga diskusi kelompok, semua bisa lebih hidup dengan bantuan Gemini.
Baca Juga
Advertisement
Google juga mendorong para pendidik untuk naik level menjadi Google Certified Innovator. Salah satu peserta, seorang guru dari Indonesia, menceritakan pengalamannya selama pelatihan inovator Google yang berlangsung tiga bulan.
“Pelatihan ini bukan hanya mengenalkan tools, tapi juga menantang kami memecahkan masalah nyata di sekolah. Kami belajar membangun solusi berkelanjutan,” jelasnya. Hingga kini, sudah lebih dari 30.000 guru di Indonesia tergabung dalam ekosistem pendidik digital Google.
Saat ditanya mengenai langkah Google selanjutnya untuk menjangkau lebih banyak sekolah, Stuart menjelaskan bahwa 147 sekolah unggulan hanyalah awal. Tujuan Google adalah memastikan setiap siswa dan guru di Indonesia memiliki akses ke alat digital yang tepat.
Baca Juga
Advertisement
“Kami berkomitmen jangka panjang. Teknologi bukan hanya alat, tapi jembatan menuju masa depan pendidikan yang lebih merata,” ujarnya.
Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.