Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyatakan bahwa tarif biaya masih menjadi pertimbangan bagi masyarakat untuk berlangganan internet. Lantas, bagaimana solusinya?
Kabid Regulasi APJII Syahrial Syarif memberikan memberikan solusi bagi para penyelenggara penyedia layanan internet (ISP) untuk menghadirkan konektivitas internet yang tangguh meski harus menurunkan biaya dan latensi. Sehingga, layanan tersebut dapat tersedia dengan harga yang lebih terjangkau.
“Kita perlu melihat bagaimana kita bisa menurunkan biaya dan latensi menuju jaringan yang tangguh. Jadi pertama kami mengusulkan untuk mendorong adanya kebijakan open access. Open access baik untuk penyelenggara infrastruktur aktif maupun infrastruktur pasif,” ungkap Syahrial dalam acara IndoTelko Forum di Jakarta, Kamis (27/11).
Baca Juga
Advertisement
Sebagai penjelasan, kebijakan open access yang dimaksud ini ialah infrastruktur internet dapat digunakan bersama, tidak dimonopoli oleh satu perusahaan.
Sedangkan, infrastruktur internet aktif yang dimaksud ialah seperti perangkat jaringan. Kemudian, infrastruktur pasif misalnya seperti kabel, tiang dan ducting.
“Jadi kita bisa lihat juga beberapa daerah yang concern terhadap infrastruktur pasif ini sangat tinggi. Sehingga bagaimana mengatur, mengelola infrastruktur pasif dikaitkan dengan penyelenggaran internet dan tata kota yang baik ini,” imbuhnya.
Baca Juga
Advertisement
Selanjutnya, perlu adanya penguatan ISP regional. Syahrial menyebut pihaknya mendorong inisiatif ini supaya trafik internet di Indonesia dapat dikelola di dalam negeri.
“Kita juga mendorong adanya penguatan ISP regional. Jadi kita tahu bahwa trafik internet Indonesia meningkat cukup tajam. Sehingga, kita inginkan adanya desain-desain infrastruktur internet yang lebih baik. Sehingga, trafik-trafik internet itu bisa kita kelola di dalam negeri,” jelasnya.
“Sehingga lebih banyak ISP-ISP regional kita dorong agar trafik-trafik lokal bisa berjalan di lokal. Kemudian kita berharap juga konsolidasi permintaan. Jadi bandwidth yang semakin besar tentu saja menjadi prasyarat peningkatan performansi dari internet yang akan di-deliver kepada pelanggan atau penggguna,” kata dia.
Baca Juga
Advertisement
Pihaknya kini tengah menganalisa, mengevaluasi potensi atau kemungkinan penyediaan bandwitch secara bersama untuk beberapa ISP di lokasi tertentu. Sekaligus, mendorong kemitraan dengan para ISP lokal.
Dirinya melihat adanya potensi besar bagi ISP lokal untuk melayani kebutuhan masyarakat di Indoensia. Oleh sebab itu, perlu adanya kemitraan antar ISP lokal.
“Kita mendorong kemitraan ISP-ISP lokal. Karena tentu saja ISP-ISP lokal ini sebetulnya punya kekuatan, punya potensi besar untuk melayani masyarakat. Kalau dibiarkan berjalan sendiri-sendiri ini tentu saja akan mengalami kesulitan. Sehingga kita mencoba untuk mendorong konsolidasi kemitraan ISP-ISP lokal,” pungkas Syahrial.
Baca Juga
Advertisement
Data dari APJII sebelumnya mengungkapkan bahwa sebanyak 52,27% masyarakat di Indonesia menghabiskan sekitar Rp. 50.000 hingga Rp. 100.000 untuk berlangganan internet operator seluler. Angka ini meningkat dari 45,02% dari tahun 2024.
Sementara itu, sebanyak 70,44% masyarakat berharap agar operator dapat menjaga harga paket internet tetap terjangkau dan kualitas layanannya tetap terjaga.
Baca Juga
Advertisement
Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.