Ada masa ketika ponsel bukan sekadar layar sentuh besar tanpa karakter. Bunyi “klik” saat membuka ponsel lipat pernah menjadi simbol gaya dan kepercayaan diri. Di era tersebut, nama Motorola Razr berdiri sebagai ikon. Kini, lewat Motorola Razr 60, Motorola mencoba menghidupkan kembali memori itu—tanpa terjebak romantisme masa lalu.

Dalam acara buka puasa bersama media di Deheng House, Kemang, Jakarta, 24 Februari 2026, Miranda Warokka, Marketing Head Motorola Indonesia, menegaskan bahwa Razr 60 bukan sekadar produk nostalgia.
“Kami sebenarnya tidak ingin orang-orang hanya memikirkan nostalgic impact saja. Motorola Razr 60 ini sudah kami inovasi dan disesuaikan untuk tahun 2026,” ujar Miranda Warokka.
Baca Juga
Advertisement
Nostalgia yang Relevan
Motorola memang tak bisa dilepaskan dari sejarah ponsel lipat. Bahkan, konsep one-shell clamshell pertama kali diperkenalkan oleh Motorola dan kemudian diikuti banyak brand lain. Namun menurut Miranda, Razr 60 hadir bukan sebagai replika masa lalu.

“Ini bukan sekadar comeback karena dulu Razr pernah ada. Kami bring back ikon ini dengan versi modern, sudah di-reinvent untuk generasi baru,” jelasnya.
Baca Juga
Advertisement
Pendekatan ini terasa konsisten sejak awal. Motorola tidak menjual Razr 60 sebagai ponsel retro, melainkan sebagai perangkat modern dengan identitas kuat—ikonik, autentik, dan berani berbeda.
Aksesibel untuk Pengguna Baru
Salah satu poin penting yang ditekankan Motorola adalah aksesibilitas. Razr 60 dirancang agar bisa dinikmati pengguna yang belum pernah mencoba ponsel lipat.
Baca Juga
Advertisement
“Kami ingin Razr 60 ini accessible. Buat first time user yang belum pernah pakai flip, atau yang biasanya main aman pakai candy bar, supaya berani mencoba,” kata Miranda.

Aksesibilitas ini bukan hanya soal kemudahan penggunaan, tetapi juga harga. Dengan banderol di kisaran Rp10–11 jutaan, Razr 60 diposisikan lebih ramah dibanding ponsel lipat vertikal lain di pasar.
“Kami tidak menurunkan kualitas. Tapi dengan positioning harga seperti ini, kami ingin orang berani mengekspresikan dirinya,” tambahnya.
Baca Juga
Advertisement
Performa Bukan Sekadar Gaya
Di balik desainnya yang ikonik, Motorola Razr 60 tetap membawa performa yang serius. Ponsel ini ditenagai MediaTek Dimensity 7400X yang dirancang untuk efisiensi daya sekaligus mendukung kebutuhan AI generasi terbaru.

Menurut Motorola, performa bukan hal yang dikompromikan.
Baca Juga
Advertisement
“Kalau dibandingkan dengan kompetitor, kami tidak menurunkan spek. Performanya sudah mumpuni, baik untuk penggunaan harian maupun fitur-fitur AI,” jelas Miranda.
Layar eksternal 3,6 inci memungkinkan pengguna mengakses berbagai aplikasi tanpa membuka ponsel. Sementara layar utama pOLED HDR10+ 6,9 inci menawarkan visual tajam dan kaya warna saat dibentangkan penuh.
Moto AI Jadi Pembeda
Baca Juga
Advertisement
Salah satu nilai jual utama Razr 60 adalah kehadiran Moto AI. Fitur seperti Catch Me Up, Pay Attention, dan Remember This membantu pengguna mengelola notifikasi, mencatat informasi penting, hingga merangkum aktivitas.

Tak hanya itu, integrasi Gemini dan Gemini Live juga bisa diakses langsung dari layar eksternal.
Dengan pendekatan ini, Razr 60 bukan hanya smartphone, tetapi asisten personal yang kontekstual dan intuitif—terutama bagi pengguna aktif.
Baca Juga
Advertisement
Kamera dan Kreativitas
Motorola Razr 60 dibekali kamera utama 50MP, lensa ultra-wide 13MP, serta kamera depan 32MP. Dukungan AI pada Photo Enhancement Engine membantu meningkatkan detail, dynamic range, dan stabilitas video.

Desain flip justru membuka peluang kreatif baru. Ponsel bisa diposisikan setengah terbuka untuk merekam video hands-free, vlogging, atau konten kreatif tanpa tripod tambahan.
Baca Juga
Advertisement
Bagi paradiva yang gemar membuat konten spontan, fleksibilitas ini menjadi nilai tambah yang nyata.
Desain Premium dan Tangguh
Dari sisi desain, Razr 60 tampil berani dengan material vegan leather dan pilihan warna PANTONE Gibraltar Sea, Spring Bud, serta Parfait Pink. Motorola secara sadar menghindari warna “aman”.
Baca Juga
Advertisement
“Motorola bukan untuk orang-orang yang hanya mengikuti tren. Kami membuat produk untuk mereka yang menciptakan tren,” ujar Miranda.
Engsel diperkuat pelat titanium, dipadukan Ultra-Thin Glass, serta sertifikasi IP48 yang membuatnya tahan debu dan air. Artinya, estetika tidak mengorbankan daya tahan.
Motorola Razr 60 berhasil menempatkan diri di antara nostalgia dan inovasi. Ia membawa memori Razr klasik, namun dibungkus performa modern, fitur AI cerdas, desain premium, dan harga yang lebih masuk akal.
Baca Juga
Advertisement
Bagi pengguna lama, Razr 60 menghadirkan rasa familiar. Bagi pengguna baru, ia menawarkan pengalaman berbeda yang berani dan relevan. Seperti kata Miranda, ini bukan sekadar meluncurkan produk—melainkan menghidupkan kembali sebuah ikon, dengan bahasa teknologi masa kini.
Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.