Qualcomm dikabarkan tengah bersiap menaikkan harga jajaran prosesornya mulai awal September 2026. Kebijakan tersebut disebut sebagai langkah perusahaan untuk mengimbangi lonjakan biaya produksi dan tekanan rantai pasok yang masih membayangi industri semikonduktor global.
Laporan tersebut pertama kali diungkap Bloomberg dan kemudian dikutip Engadget pada Sabtu (25/7). Menurut laporan itu, Qualcomm telah mengirimkan pemberitahuan kepada para pelanggannya mengenai perubahan harga yang akan diberlakukan dalam waktu dekat.
Berdasarkan informasi yang beredar, harga baru akan diterapkan untuk seluruh produk yang dikirim setelah 1 September 2026. Artinya, produsen perangkat yang melakukan pemesanan setelah tanggal tersebut kemungkinan harus membayar lebih mahal dibandingkan sebelumnya.
Baca Juga
Advertisement
Dalam surat yang dikirim kepada para pelanggan, Qualcomm menjelaskan bahwa perusahaan tidak lagi mampu menyerap kenaikan biaya komponen dari para pemasok. Selama beberapa waktu terakhir, perusahaan disebut masih berupaya menjaga harga produknya agar tetap kompetitif. Namun, meningkatnya biaya produksi membuat strategi tersebut sulit dipertahankan.
Selain menghadapi kenaikan harga komponen, Qualcomm juga mengaku telah berusaha mencari alternatif pemasok baru guna mengurangi tekanan biaya. Meski demikian, upaya tersebut belum mampu mengatasi persoalan yang dihadapi secara menyeluruh.
Di sisi lain, sebagian besar chip Qualcomm diproduksi oleh Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC). Produsen semikonduktor terbesar di dunia itu hingga kini masih menghadapi tantangan dalam rantai pasok, sehingga berdampak pada proses produksi berbagai perusahaan teknologi, termasuk Qualcomm.
Baca Juga
Advertisement
Situasi tersebut tidak hanya dialami Qualcomm. Industri teknologi secara keseluruhan masih merasakan efek dari tingginya permintaan komponen untuk kebutuhan pembangunan pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI). Akibatnya, pasokan memori dan sejumlah komponen penting menjadi semakin terbatas, sementara biaya produksinya terus meningkat.
Seiring meningkatnya kebutuhan chip AI, banyak produsen semikonduktor harus bersaing memperoleh kapasitas produksi. Kondisi inilah yang kemudian mendorong biaya manufaktur menjadi lebih tinggi dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Tidak hanya menghadapi tekanan biaya, Qualcomm juga dikabarkan mengalami perlambatan penjualan sepanjang tahun ini. Bloomberg melaporkan bahwa sejumlah pelanggan perusahaan belum mampu memproduksi perangkat sesuai target karena keterbatasan pasokan komponen.
Baca Juga
Advertisement
Dengan kata lain, meskipun permintaan pasar terhadap perangkat elektronik masih tinggi, proses produksi tidak dapat berjalan maksimal akibat tersendatnya ketersediaan komponen. Dampaknya, volume penjualan chip Qualcomm ikut mengalami penurunan.
Meski demikian, performa keuangan Qualcomm belum sepenuhnya melemah. Perusahaan masih berhasil mencatatkan pendapatan kuartal kedua tahun 2026 yang melampaui ekspektasi para analis. Hal tersebut menunjukkan bahwa permintaan terhadap produk Qualcomm tetap kuat, terutama pada segmen premium.
Apabila rencana kenaikan harga benar-benar diterapkan, dampaknya diperkirakan akan dirasakan oleh berbagai produsen perangkat elektronik. Pasalnya, Qualcomm merupakan salah satu pemasok prosesor terbesar untuk smartphone Android, komputer berbasis Windows, hingga perangkat wearable.
Baca Juga
Advertisement
Selama bertahun-tahun, lini prosesor Snapdragon milik Qualcomm menjadi pilihan utama banyak produsen smartphone kelas atas. Karena itu, kenaikan harga chipset berpotensi meningkatkan biaya produksi perangkat, yang pada akhirnya dapat memengaruhi harga jual kepada konsumen.
Tidak hanya smartphone, sejumlah komputer berbasis platform Microsoft Copilot+ juga mengandalkan prosesor Qualcomm sebagai dapur pacunya. Selain itu, berbagai perangkat pintar seperti kacamata Ray-Ban Meta turut menggunakan teknologi perusahaan tersebut.
Di pasar smartphone premium, Qualcomm menjadi pemasok utama chipset untuk berbagai perangkat flagship Android. Beberapa di antaranya termasuk seri terbaru Samsung Galaxy seperti Galaxy Z Fold 8 Ultra, Galaxy Z Fold 8, dan Galaxy Z Flip 8.
Baca Juga
Advertisement
Apabila biaya chipset meningkat, produsen perangkat memiliki beberapa pilihan. Mereka dapat menyerap kenaikan biaya tersebut demi menjaga harga tetap kompetitif, atau justru meneruskannya kepada konsumen melalui penyesuaian harga jual. Keputusan yang diambil masing-masing produsen kemungkinan akan bergantung pada kondisi pasar dan strategi bisnis mereka.
Sementara itu, para analis menilai bahwa industri semikonduktor masih akan menghadapi tantangan dalam beberapa waktu ke depan. Permintaan chip untuk kecerdasan buatan diperkirakan tetap tinggi, sedangkan kapasitas produksi global belum sepenuhnya mampu mengimbangi lonjakan kebutuhan tersebut.
Oleh karena itu, jika kondisi rantai pasok belum kembali stabil, bukan tidak mungkin perusahaan semikonduktor lain juga akan melakukan penyesuaian harga pada produk mereka. Hal ini dapat memengaruhi biaya produksi berbagai perangkat elektronik di masa mendatang.
Baca Juga
Advertisement
Meski Qualcomm belum memberikan penjelasan lebih rinci mengenai besaran kenaikan harga yang akan diberlakukan, kabar tersebut menjadi sinyal penting bagi industri teknologi. Produsen smartphone, laptop, maupun perangkat pintar kini harus bersiap menghadapi potensi peningkatan biaya komponen pada paruh kedua tahun 2026.
Bagi konsumen, dampaknya mungkin tidak langsung terasa dalam waktu dekat. Namun, apabila produsen perangkat memutuskan untuk menyesuaikan harga jual, maka harga smartphone Android flagship, laptop berbasis Snapdragon, hingga perangkat wearable berpotensi mengalami kenaikan dalam beberapa bulan setelah kebijakan baru Qualcomm mulai berlaku.
Baca Juga
Advertisement
Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.