Platform e-commerce lokal, Blibli, mengenalkan inisiatif JEDA untuk mendoroang kebiasaan berhenti sejenak sebelum bertindak. Inisiatif ini dihadirkan sebagai ruang micro-pause sekaligus social experiment.
JEDA merupakan singkatan dari Jangan Reaktif, Evaluasi, Double-check, Ambil keputusan dengan tenang. Sebagai bagian dari social experiment, Blibli mengajak para konsumen untuk mengambil JEDA 10 detik sebelum merespons berbagai informasi, supaya lebih bijak dna tidak mudah terpantik.
Head of PR Blibli Nazrya Octora menyatakan bahwa inisiatif JEDA 10 detik ini dihadirkan sebagai upaya melindungi konsumen yang terus digaungkan berbagai pemangku kepentingan. Guna menciptakan rasa aman bagi masyarakat.
Baca Juga
Advertisement
“Inisiatif JEDA lahir dari pemahaman bahwa kualitas keputusna tidak hanya ditentukan oleh kecepatan, tetapi juga oleh kejernihan, sehingga kami ingin menghadirkan pengalaman yang tidak hanya cepat, ttapi juga memberikan rasa percaya, baik secara online maupun offline,” ungkap Nazrya dalam acara konferensi pers yang berlangsung di Jakarta, Selasa (29/4).
Inisiatif JEDA 10 detik ini, diyakini dapat membantu menenangkan pikiran sebelum bereaksi. Khususnya, bagi psikologis masyarakat.
Menurut Psikolog Irma Agustina (@ayankirma), kebiasaan memberi jeda sebelum merespons dapat membatu menghadirkan ruang refleksi. Sekaligus, menenangkan pikiran.
Baca Juga
Advertisement
Irma menyampaikan ada beberapa cara sederhana yang dpaat membantu pengguna menciptakan jeda sejenak. Pertama, menarik napas dalam beberapa kali, dilanjutkan dengan melakukan relaksasi singkat dengan menutup mata selama beberapa detik atau meregangkan tubuh.
“Praktik-praktik ini juga sejalan dengan inisiatif JEDA melalui jeda10detik. com dari Blibli, di mana jeda singkat dapat membantu menurunkan respons impulsif dan memberi ruang bagi pikiran untuk lebih jernih sebelum mengambil keputusan,” katanya.
Melalui inisiatif ini, Blibli menemukan beberapa temuan terkait perilaku masyaraka dalam merespos dorong impulsif. Di antaranya sebagai berikut.
Baca Juga
Advertisement
– Dalam eksperimen ini, Blibli membuat konten clickbait yang terlihat mustahil. Hasilnya, masyarakat masih penasaran dengan konten tersebut dan tetap meng-klik atau masuk ke laman jeda10detik.com.
– Masyarakat berusia 65 tahun ke atas paling responsif dalam membuka banner clickbait. Persentasenya sebesar 7,06% lebih tinggi, jika dibandingkan dengan Gen Z berusia 18-24 tahun.
– Perempuan sedikit lebih impulsif dalam merespons konten clickbait dengan persentase sebesar 52%. Sedangkan, persentase laki-laki sebesar 48%.
Baca Juga
Advertisement
– Ditemukan masyarakat di kota-kota besar lebih reaktif seperti di Jakarta dengna persentase 7,81%. Diikuti oleh Depok sebesar 2,22% dan Suarakarta sebesar 2,05%.
– Penemuan ini menemukan bahwa orang-orang justru paling rentan terjebak konten clickbait saat sedang sibuk-sibuknya. Yakni, pada pukul 09.00, 11.00, 13.00 dan 15.00.
– Ditemukan lonjakan traffic terjadi saat awal Ramadan (17-21 Februari), long weekend (5-8 Maret), dan libur Lebaran (26-28 Maret).
Baca Juga
Advertisement
– Gamification di jeda10detik.com yang simpel sering dimainkan berulang kali dan efektif untuk JEDA. Secara psikologis, pendekatan ini membantu mengalihkan dorongan impulsif menjadi aktivitas sederhana yang terasa memuaskan.
– Tiga micro-pause di laman jeda10detik.com dengan replay rate terendah datang dari kategori mindful. Deginisi quality over quantity yang sebenarnya.
– Mayoritas warga memulai jeda dengan mood biasa. Namun, setelah melakukan JEDA 10 detik, tercatat 7 dari 10 warga mengaku lebih tenang dan santai.
Baca Juga
Advertisement
Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.