Sistem operasi iOS 27 dan ajang akbar WWDC 2026 saat ini tengah menjadi buah bibir yang sangat hangat di jagat teknologi. Saya pun sangat yakin bahwa dampak dari pengumuman tersebut akan terus diperbincangkan dalam waktu yang cukup lama. Buktinya, estetika Liquid Glass besutan Apple bahkan masih saja menjadi perdebatan sengit setelah 12 bulan berlalu sejak pertama kali diperkenalkan.
Pada panggung WWDC 2026 kemarin, Apple memberikan perhatian yang sangat khusus terhadap isu keselamatan anak. Mereka resmi mengumumkan serangkaian fitur baru untuk Screen Time yang bertujuan memberikan kendali lebih besar bagi orang tua dalam mengawasi kebiasaan anak menggunakan iPhone. Kendati demikian, sebagai seorang penggemar setia Apple sejak lama, saya dengan jujur harus mengakui bahwa saya justru jauh lebih terpikat oleh pendekatan pengurangan waktu layar (screen time) yang ditawarkan oleh Android 17 melalui fitur bernama Pause Point.
Secara teori, konsep Screen Time memang terdengar sangat bagus. Kemampuan untuk menyetel pengingat waktu pada aplikasi adalah hal yang masuk akal. Selain itu, memberikan kontrol yang lebih spesifik kepada orang tua untuk memantau aktivitas ponsel anak terasa seperti sebuah pengembangan yang sangat alami, meskipun masalah bug yang kerap muncul terkadang mengacaukan niat baik Apple tersebut. Namun masalahnya, orang dewasa pun sebenarnya sangat membutuhkan pembatasan waktu layar. Saya sendiri sudah tidak terhitung lagi berapa kali menyetel batas waktu untuk aplikasi Instagram, tetapi pada akhirnya selalu saya abaikan dan justru menghapus pembatasan tersebut sama sekali. Kini, dengan iPhone 16 di tangan, saya bahkan tidak mengaktifkan fitur pembatasan Screen Time sedikit pun.
Baca Juga
Advertisement
Bagi saya, fitur Screen Time terlalu mudah untuk diakali atau dilewati. Konsep ini memang bekerja paling efektif ketika Anda mengaturnya untuk orang lain, seperti anak Anda, karena Anda memegang kunci akses penuhnya. Sebaliknya, mencoba menerapkan batasan tersebut pada diri sendiri terasa sangat sia-sia karena Anda sendiri yang memegang kendali penuh untuk membukanya. Oleh karena itu, jika Anda tidak mengubah perilaku dan cara berinteraksi dengan ponsel serta aplikasi di dalamnya, maka lingkaran setan kecanduan gadget ini akan terus berulang.
Dahulu, saya kerap merasa kesal pada diri sendiri jika membuang waktu hingga 30 menit hanya untuk melakukan doomscrolling (berselancar tanpa arah di media sosial). Akan tetapi, sejak saya menjadi seorang ayah, saya tiba-tiba menyadari bahwa putri kecil saya yang sedang sangat aktif dan penuh rasa ingin tahu, kini mulai memperhatikan setiap gerak-gerik saya. Tentu saja ini adalah kebiasaan buruk yang sama sekali tidak ingin saya wariskan kepadanya. Oleh sebab itu, saya menilai bahwa fitur Pause Point milik Google, yang dijadwalkan meluncur pada pembaruan besar Android berikutnya, dapat memperbaiki pola pikir saya.
Bagi Anda yang belum tahu, Pause Point mengambil pendekatan yang sangat berbeda dalam menangani penggunaan ponsel pintar. Fitur ini bertindak sebagai sebuah pembatas digital yang akan langsung muncul setiap kali Anda ingin mengakses aplikasi yang berpotensi membuang-buang waktu. Ketika fitur ini muncul, pengguna akan diajak untuk meluangkan waktu selama 10 detik untuk melakukan latihan pernapasan. Bukan hanya itu, pengguna juga distimulasi untuk merenungkan mengapa mereka merasa sangat perlu membuka aplikasi tersebut pada saat itu.
Baca Juga
Advertisement
Sebagai seseorang yang sempat mendalami meditasi dan latihan pernapasan selama masa pandemi melalui aplikasi Calm, saya tahu betul betapa bermanfaatnya praktik ini. Latihan tersebut sangat membantu menenangkan diri, terutama di momen-momen ketika kita bergerak secara refleks (autopilot) dan memiliki dorongan instan untuk langsung membuka ponsel demi berselancar tanpa tujuan demi membunuh waktu.
Jika setelah momen refleksi tersebut Anda menyadari adanya kebutuhan yang benar-benar mendesak untuk membuka aplikasi (misalnya harus membalas pesan penting dari teman), maka Pause Point akan mengizinkan Anda menyetel pengingat waktu singkat agar tidak terhanyut terlalu dalam. Sama seperti Screen Time, saya pribadi kurang begitu antusias dengan aspek pembatasan waktu ini. Meski begitu, hal yang benar-benar membuat fitur ini jauh lebih unggul adalah cara sistem mengarahkan Anda untuk membuka aplikasi lain yang jauh lebih bermanfaat.
Dalam salah satu gambar yang dibagikan oleh Google pada acara The Android Show 2026, Pause Point terlihat memberikan rekomendasi aplikasi alternatif yang edukatif seperti Play Books dan Mellow Mindspace. Meskipun konsepnya sangat sederhana, ini adalah pengingat yang luar biasa mengenai bagaimana ponsel pintar, jika berada di bawah kendali yang tepat, dapat menjadi sarana untuk belajar dan pengembangan diri. Sebenarnya, Apple sudah berada di jalur yang benar dalam upaya mempromosikan penggunaan ponsel yang lebih bijak, mengingat mereka memiliki salah satu aplikasi membaca terbaik di industri, yaitu Apple News.
Baca Juga
Advertisement
Langganan Apple News+ dan kesempatan untuk membaca berbagai majalah berkualitas dengan artikel yang menggugah pikiran adalah dua alasan utama mengapa saya bertahan menggunakan iPhone begitu lama. Bahkan, saya memasang widget Apple News berukuran besar di layar utama ponsel untuk mengalihkan perhatian saya sebelum jari ini telanjur membuka media sosial.
Seandainya Apple dapat menghadirkan fitur versi mereka sendiri yang serupa dengan Pause Point, kemudian memadukannya dengan pembaruan aplikasi Screen Time, mereka pasti akan memiliki salah satu sistem terbaik di dunia dalam membangun kebiasaan digital yang lebih sehat bagi penggunanya. Saya hanya bisa berharap, tidak seperti rumor ponsel lipat iPhone Ultra yang tak kunjung usai, fitur ini bukanlah sesuatu yang harus kita tunggu hingga bertahun-tahun lamanya.
Sebagai catatan tambahan, walaupun semua sistem pembatasan digital ini sudah diaktifkan, menjaga jarak fisik dengan ponsel pintar pada waktu-waktu tertentu dalam sehari tetaplah menjadi hal yang sangat krusial. Saya sendiri memiliki beberapa perangkat lain yang sangat membantu menjaga jarak tersebut tetap konsisten. Gadget andalan saya adalah Kindle Paperwhite, karena tidak ada obat penawar dunia digital yang lebih baik daripada menenggelamkan diri dalam sebuah buku yang bagus. Layar E Ink pada perangkat tersebut jauh lebih ramah dan nyaman di mata dibandingkan dengan layar penghasil cahaya biru (blue light) milik ponsel, tablet, maupun laptop kita.
Baca Juga
Advertisement
Sementara itu di lini produktivitas, perangkat reMarkable Paper Pro Move sangat sempurna untuk menuangkan ide atau menulis daftar pekerjaan (to-do list) tanpa harus terganggu oleh rentetan notifikasi yang masuk bertubi-tubi. Buku catatan digital mini ini juga menggunakan layar E Ink, namun secara brilian mampu meniru sensasi nyata menulis menggunakan pena dan kertas, ditambah kenyamanan modern karena semua coretan Anda langsung tersimpan secara digital dan dapat diakses kapan saja.
jika Anda ingin melangkah lebih jauh lagi demi produktivitas, Anda dapat meniru bagaimana salah satu anggota tim TechRadar Pro berhasil membangun ruang kerja di rumah (work-from-home) yang benar-benar bebas dari segala bentuk gangguan digital.
Baca Juga
Advertisement
Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.