Pengadilan Jerman Hentikan Penjualan PC Acer dan Asus

Asus

Pengadilan di Jerman menjatuhkan putusan sementara yang melarang penjualan sejumlah komputer dan desktop dari merek Taiwan, yakni Acer dan Asus, setelah keduanya terlibat sengketa paten dengan perusahaan teknologi Finlandia, Nokia Corporation. Putusan tersebut dikeluarkan oleh pengadilan di Munich dan langsung berdampak pada operasional penjualan produk di negara tersebut.

Sengketa berpusat pada teknologi High Efficiency Video Coding (HEVC) atau H.265, standar kompresi video yang memungkinkan ukuran file lebih kecil tanpa mengorbankan kualitas. Teknologi ini penting karena digunakan secara luas dalam streaming, pemutaran video resolusi tinggi, hingga perangkat komputasi modern.

Produk yang Terdampak dan Alasan Larangan

Pengadilan menilai perangkat yang mendukung HEVC harus memiliki lisensi resmi dari pemegang paten. Karena lisensi tersebut belum dimiliki, maka penjualan langsung produk yang melanggar dihentikan sementara. Meski begitu, perkara ini tidak menargetkan model tertentu, melainkan perangkat yang memiliki dukungan HEVC termasuk laptop dan desktop.

Komponen seperti GPU tidak terdampak karena tidak menjadi fokus gugatan. Selain itu, pengecer pihak ketiga masih dapat menjual stok yang ada karena putusan hanya membatasi penjualan langsung dari perusahaan.

Advertisement

Situs Resmi Sempat Offline, Kini Kembali dengan Pembatasan

Media teknologi Jerman melaporkan bahwa situs lokal Acer dan Asus sempat offline setelah putusan pengadilan, seperti dikutip dari taiwannews. Namun beberapa jam kemudian, keduanya kembali dapat diakses meski dengan pembatasan.

Sementara itu, seperti dikutip dari tomshardware, mereka mengonfirmasi bahwa domain lokal keduanya sudah aktif kembali. Situs Asus hampir sepenuhnya pulih, termasuk halaman dukungan unduhan driver, BIOS, dan materi lainnya. Meski demikian, kategori laptop dan desktop dihapus dari navigasi utama karena menjadi produk yang terkena larangan.

Berbeda dengan Asus, halaman Acer menampilkan pesan pemeliharaan sistem dengan tautan ke halaman dukungan. Toko daring Acer di Jerman juga kembali aktif, tetapi dengan inventaris terbatas serta pemberitahuan bahwa beberapa produk tidak tersedia sementara waktu.

Advertisement

Respons Acer dan Asus

Acer menyatakan optimistis terhadap posisi hukumnya karena sebelumnya memenangkan perkara serupa di pengadilan Inggris. Perusahaan juga mengungkapkan telah menyiapkan desain ulang teknologi agar dapat kembali menjual produknya dalam waktu dekat. Menurut Acer, kasus ini tidak akan berdampak besar pada kondisi bisnis maupun keuangan perusahaan.

Di sisi lain, Asus menegaskan layanan purna jual di Jerman tetap berjalan normal. Perusahaan juga sedang mengevaluasi langkah hukum lanjutan untuk memperoleh solusi secepat mungkin. Pernyataan kedua perusahaan menunjukkan mereka berupaya menyelesaikan sengketa lisensi tanpa menghentikan dukungan pelanggan.

Nokia dan Sengketa Lisensi HEVC

Walau dikenal luas sebagai pelopor ponsel era 2000-an, Nokia kini fokus pada pengembangan teknologi jaringan dan portofolio paten. Dalam kasus ini, perusahaan Finlandia tersebut menuntut lisensi penggunaan standar HEVC yang mereka miliki. Selain Acer dan Asus, produsen TV Hisense juga disebut terlibat dalam sengketa serupa.

Advertisement

Pengadilan memutuskan bahwa perusahaan yang ingin menjual atau mengimpor perangkat dengan dukungan HEVC di Jerman harus membeli lisensi resmi. Tanpa lisensi, penjualan dianggap melanggar hak paten.

Dampak bagi Konsumen

Bagi pengguna di Jerman, putusan ini tidak memengaruhi layanan dukungan teknis. Acer dan Asus memastikan pembaruan perangkat lunak serta bantuan pelanggan tetap tersedia. Dengan demikian, pemilik perangkat yang sudah membeli sebelumnya tidak perlu khawatir kehilangan dukungan.

Meski begitu, ketersediaan produk baru menjadi terbatas, terutama di toko resmi online. Kondisi ini berpotensi memengaruhi penjualan jangka pendek, walau analis menilai dampaknya kemungkinan tidak signifikan secara global karena pasar Jerman hanya sebagian dari total distribusi mereka.

Advertisement

Prospek Sengketa ke Depan

Kasus ini diperkirakan belum akan berakhir dalam waktu dekat. Kedua perusahaan teknologi tersebut masih mempertimbangkan opsi hukum tambahan, sementara Nokia kemungkinan mempertahankan klaim lisensinya. Sengketa paten seperti ini bukan hal baru di industri teknologi, terutama ketika menyangkut standar global yang digunakan banyak perangkat.

Setidaknya untuk saat ini, situs resmi telah kembali online sehingga pelanggan bisa mengakses dukungan penting. Namun, penjualan perangkat tertentu masih ditangguhkan sampai ada kesepakatan lisensi atau keputusan hukum lanjutan.

Putusan pengadilan di Jerman menjadi pengingat bahwa lisensi paten teknologi merupakan aspek krusial dalam industri perangkat keras. Sengketa antara Acer, Asus, dan Nokia menegaskan bahwa standar kompresi video seperti HEVC bukan sekadar fitur teknis, melainkan aset hukum bernilai tinggi yang dapat menentukan boleh tidaknya suatu produk dipasarkan di negara tertentu.

Advertisement

Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.