Apple Akuisisi Startup AI Pelacak Wajah Israel Senilai Rp33,5 Triliun

Apple

Apple kembali menunjukkan keseriusannya dalam mengembangkan teknologi kecerdasan buatan. Kali ini, raksasa teknologi asal Cupertino tersebut resmi mengakuisisi startup AI asal Israel bernama Q.ai dengan nilai fantastis mencapai USD 2 miliar atau sekitar Rp33,5 triliun.

Langkah strategis ini diumumkan hanya beberapa hari setelah CEO Apple menghadiri sejumlah acara penting di Amerika Serikat, termasuk pemutaran perdana film dokumenter tentang Melania Trump. Meski tidak berkaitan langsung, momen tersebut menjadi sorotan publik karena berdekatan dengan pengumuman akuisisi besar ini.

Menurut laporan Bloomberg, Q.ai dikenal sebagai perusahaan yang fokus pada teknologi pelacakan gerakan wajah berbasis kecerdasan buatan. Keunggulan utama startup ini terletak pada kemampuannya membaca komunikasi tanpa suara dengan menganalisis pergerakan otot wajah saat seseorang berbicara.

Advertisement

Dengan kata lain, teknologi Q.ai mampu memahami ekspresi mikro manusia secara presisi. Oleh karena itu, banyak pihak menilai inovasi ini berpotensi besar untuk memperkuat berbagai produk Apple di masa depan.

Selanjutnya, Bloomberg juga berspekulasi bahwa teknologi pelacakan wajah ini kemungkinan besar akan diintegrasikan ke dalam AirPods generasi terbaru. Fitur tersebut diyakini dapat mendukung pengalaman AI yang lebih personal, mulai dari kontrol berbasis ekspresi hingga peningkatan kualitas komunikasi.

Tak hanya itu, teknologi Q.ai juga disebut berpeluang masuk ke FaceTime, proyek kacamata pintar Apple, hingga perangkat headset realitas campuran yang tengah dikembangkan perusahaan.

Advertisement

Menanggapi akuisisi ini, Johny Srouji, Wakil Presiden Senior Teknologi Perangkat Keras Apple sekaligus eksekutif paling senior asal Israel di perusahaan tersebut, menyampaikan apresiasinya terhadap Q.ai.

“Q adalah perusahaan luar biasa yang memelopori cara-cara baru dan kreatif dalam menggunakan teknologi pencitraan serta pembelajaran mesin. Kami sangat senang mengakuisisi perusahaan yang dipimpin oleh Aviad dan menantikan inovasi ke depannya,” ujar Srouji dalam pernyataan kepada Ynet News.

Aviad yang dimaksud adalah Aviad Maizels, salah satu pendiri Q.ai. Menariknya, Maizels bukan sosok baru bagi Apple. Pada tahun 2005, ia mendirikan perusahaan sensor 3D bernama PrimeSense, yang teknologinya digunakan dalam Xbox Kinect milik Microsoft.

Advertisement

Namun, perjalanan PrimeSense berakhir di tangan Apple pada 2013. Teknologi perusahaan tersebut kemudian menjadi fondasi utama bagi Face ID, sistem pengenalan wajah Apple yang diluncurkan pada 2017 dan kini menjadi standar keamanan iPhone.

Setelah beberapa tahun bekerja di Apple, Maizels akhirnya keluar dan mendirikan Q.ai untuk mengembangkan teknologi AI generasi baru di bidang pelacakan wajah.

Dengan rekam jejak tersebut, akuisisi ini dinilai sebagai langkah Apple untuk kembali “memulangkan” inovator penting yang pernah berperan besar dalam kesuksesan produk mereka.

Advertisement

Meski demikian, langkah Apple ini tidak sepenuhnya bebas dari kontroversi. Dalam beberapa tahun terakhir, sebagian karyawan Apple diketahui mendorong perusahaan untuk mengurangi investasi di Israel.

Apple dituding memberikan dukungan finansial yang sama kepada Pasukan Pertahanan Israel (IDF) serta organisasi yang terlibat dalam pembangunan pemukiman ilegal di wilayah pendudukan Palestina. Bahkan, PBB sebelumnya telah menetapkan tindakan militer di Gaza sebagai bentuk genosida terhadap warga sipil Palestina.

Selain itu, Apple telah mengoperasikan fasilitas riset dan pengembangan di Israel selama hampir satu dekade. Menurut laporan CTech, sekitar 30 persen karyawan Q.ai sempat direkrut untuk dinas militer IDF setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.

Advertisement

Kondisi ini memicu kekhawatiran internal bahwa akuisisi tersebut bisa memperbesar keterlibatan Apple dalam konflik geopolitik yang sensitif.

Namun di sisi lain, dari sudut pandang bisnis dan teknologi, langkah ini dinilai sebagai strategi agresif Apple untuk mempercepat dominasi AI di perangkat konsumennya.

Dengan persaingan yang semakin ketat dari Google, Microsoft, hingga OpenAI, Apple tampaknya tak ingin tertinggal dalam perlombaan kecerdasan buatan.

Advertisement

Ke depan, integrasi teknologi pelacakan wajah berbasis AI ini berpotensi menghadirkan pengalaman interaksi baru yang lebih natural dan intuitif di ekosistem Apple.

Singkatnya, akuisisi Q.ai bukan sekadar pembelian startup, melainkan investasi besar Apple untuk masa depan AI yang semakin personal, responsif, dan terhubung langsung dengan ekspresi manusia.

Advertisement

Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.