China kembali mencetak sejarah dalam dunia teknologi. Kali ini, bukan hanya di Bumi, tetapi langsung di luar angkasa. Sebuah perusahaan dirgantara komersial asal Negeri Tirai Bambu berhasil mengoperasikan kecerdasan buatan (AI) langsung di satelit yang mengorbit Bumi. Pencapaian ini sekaligus membuka babak baru dalam pengembangan komputasi antariksa.
Perusahaan tersebut adalah GuoXing Aerospace Technology, sebuah startup teknologi luar angkasa yang berbasis di Chengdu. Dalam sebuah seminar pada Senin (26/1), perusahaan ini mengumumkan keberhasilannya menautkan model bahasa besar (LLM) Qwen3 milik Alibaba ke pusat komputasi luar angkasa pertama mereka.
Dengan terobosan ini, proses penalaran AI kini tidak lagi bergantung pada server di Bumi. Sebaliknya, seluruh pemrosesan dilakukan langsung di orbit, mulai dari menerima data, menganalisisnya, hingga mengirimkan hasil kembali ke stasiun darat.
Baca Juga
Advertisement
“Ini merupakan penerapan pertama di dunia dari model AI serbaguna berskala besar yang beroperasi langsung di konstelasi satelit aktif,” ujar Wang Yabo, Wakil Presiden Eksekutif GuoXing Aerospace.
AI Berpikir Langsung di Luar Angkasa
Dalam pengujian yang dilakukan, sejumlah pertanyaan dikirim dari Bumi menuju satelit. Kemudian, AI Qwen3 memproses data tersebut secara mandiri di luar angkasa sebelum hasilnya kembali dikirim ke pusat kendali.
Menariknya, seluruh proses ini hanya memakan waktu sekitar dua menit. Kecepatan tersebut menunjukkan betapa efisiennya sistem komputasi orbit yang kini mulai dikembangkan China.
Baca Juga
Advertisement
Sebagai latar belakang, pada Mei tahun lalu China telah meluncurkan 12 satelit komputasi luar angkasa. Satelit-satelit ini menjadi klaster pertama dari proyek besar GuoXing Aerospace yang memang dirancang khusus sebagai pusat data berbasis orbit.
Dengan kata lain, China bukan sekadar mengirim satelit pengamat atau komunikasi, tetapi membangun “data center di langit”.
Komputasi Luar Angkasa Jadi Arena Baru Persaingan Global
Seiring berkembangnya AI yang membutuhkan daya komputasi super besar, dunia teknologi kini memasuki fase baru. Tidak lagi hanya berlomba membangun pusat data raksasa di darat, perusahaan dan negara mulai melirik luar angkasa sebagai solusi masa depan.
Baca Juga
Advertisement
Selain China, Amerika Serikat juga mulai bergerak. Pada November lalu, SpaceX meluncurkan satelit Starcloud-1 yang dilengkapi GPU Nvidia, menandai langkah awal pengembangan komputasi orbit versi Barat.
Namun demikian, langkah China terlihat jauh lebih agresif dan terstruktur.
Target Ambisius: 2.800 Satelit AI di Langit
GuoXing Aerospace tidak berhenti pada 12 satelit awal. Perusahaan ini menargetkan pembangunan jaringan raksasa yang terdiri dari 2.800 satelit komputasi khusus hingga tahun 2035.
Baca Juga
Advertisement
Rinciannya meliputi:
- 2.400 satelit inferensi AI (untuk pemrosesan cepat)
- 400 satelit pelatihan AI (untuk melatih model skala besar)
Satelit-satelit tersebut akan ditempatkan di berbagai orbit strategis, termasuk orbit sinkron Matahari, orbit fajar-senja, serta orbit rendah pada ketinggian 500 hingga 1.000 kilometer.
Untuk mendukung transfer data super cepat, konstelasi ini akan menggunakan tautan laser antarsatelit, teknologi komunikasi mutakhir yang jauh lebih cepat dibanding sistem radio konvensional.
Baca Juga
Advertisement
Target akhirnya pun tidak main-main:
Kapasitas inferensi mencapai 100.000 petaflop
Kapasitas pelatihan AI hingga 1 juta petaflop
Sebagai gambaran, angka tersebut setara dengan pusat superkomputer terbesar di dunia.
Ribuan Satelit Mulai Terwujud Dekade Ini
Wang Yabo menyebutkan bahwa klaster satelit kedua dan ketiga direncanakan meluncur dalam tahun ini. Sementara itu, jaringan yang terdiri dari sekitar 1.000 satelit ditargetkan rampung pada 2030.
Baca Juga
Advertisement
Jika berjalan sesuai rencana, China akan menjadi negara pertama yang memiliki infrastruktur komputasi luar angkasa berskala global.
Dampak Besar untuk Masa Depan Teknologi
Penerapan AI langsung di orbit membuka banyak kemungkinan baru. Mulai dari pemrosesan data satelit real-time, pemantauan iklim instan, navigasi pintar, hingga pertahanan berbasis AI yang jauh lebih responsif.
Selain itu, komputasi luar angkasa juga mengurangi ketergantungan pada jaringan darat yang rentan gangguan, sekaligus mempercepat pengolahan big data global.
Baca Juga
Advertisement
Dengan langkah ini, China bukan hanya mengikuti tren AI dunia, tetapi menciptakan standar baru dalam pemanfaatan teknologi luar angkasa.
Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.