Gerakan 90 Menit Tanpa Gawai: Happy Salma Ajak Penonton Fokus Nikmati Teater Indonesia

Happy Salma

Aktris sekaligus produser teater, Happy Salma, kembali mencuri perhatian publik lewat kampanye terbarunya yang diberi tajuk “90 Menit Tanpa Gawai.” Melalui gerakan ini, ia mengajak penonton untuk menikmati pertunjukan teater tanpa memegang ponsel setidaknya selama satu setengah jam. Sebuah ajakan sederhana, namun relevan dengan kebiasaan masyarakat yang semakin sulit berjarak dari layar.

Kampanye tersebut diperkenalkan sebagai bagian dari Festival Teater Indonesia (FTI) 2025, sebuah gelaran seni yang untuk pertama kalinya hadir dalam sejarah teater tanah air. Festival ini memiliki misi besar: membawa kembali teater ke tengah masyarakat, khususnya generasi muda yang kini lebih dekat pada konten digital dibanding panggung seni.

Mengedepankan Fokus di Tengah Banjir Gawai

Menurut Happy, tantangan terbesar masyarakat saat ini adalah terlalu terikat dengan gawai. “Di zaman sekarang ini susah sekali kita lepas dari ponsel. Menyaksikan teater selama 90 menit tanpa membuka gawai saja sudah bisa dianggap prestasi,” ujarnya saat ditemui di kawasan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, Rabu (26/11/2025).

Advertisement

Dengan latar tersebut, kampanye ini tidak hanya sekadar imbauan. Ia merupakan bentuk pengembalian fokus penonton kepada pengalaman teater yang utuh. Happy menilai seni teater layak diapresiasi sepenuhnya, bukan sekadar dinikmati sambil sesekali mencuri waktu untuk mengecek notifikasi.

Transisi menuju kehidupan tanpa distraksi digital memang tidak mudah. Namun, Happy percaya bahwa memberi ruang bagi penonton untuk “hadir sepenuhnya” adalah langkah penting untuk menghidupkan kembali ekosistem teater.

Menghubungkan Sastra, Teater, dan Masyarakat

Sebagai Founder Titimangsa Foundation sekaligus Ketua Dewan Pengawas FTI, Happy memahami bahwa teater dan sastra kerap dianggap berjarak dari masyarakat. Karena itu, festival ini hadir untuk membantu membuka akses yang lebih luas.

Advertisement

“Secara pribadi, saya menyukai teater karena menemukan bahwa sastra bisa sangat lentur ketika diekspresikan dalam ruang teater. Teater adalah ruang yang paling fleksibel untuk menyampaikan gagasan dan pikiran,” ungkapnya.

Dengan kata lain, festival ini ingin menunjukkan bahwa sastra bukan hanya teks di atas kertas, melainkan bisa menjadi pengalaman visual, emosional, dan intelektual yang lebih dekat dengan publik.

Teater: Seni yang Kerap Terlupakan

Meski teater sering disebut sebagai “ibu dari seni peran”, kenyataannya seni panggung ini sering terpinggirkan dalam hiruk pikuk hiburan modern. Happy menilai bahwa teater adalah salah satu ruang penting untuk membangun kemampuan berpikir kritis, sebuah hal yang justru makin dibutuhkan di era banjir informasi.

Advertisement

“Festival ini juga sebagai upaya kita melawan kebodohan massal yang sering diciptakan oleh arus informasi yang simpang siur atau hoaks,” tambah Happy. Ia menekankan bahwa teater bisa menjadi medium refleksi publik terhadap isu-isu sosial, budaya, hingga realitas yang dibungkus ilusi.Digelar di Empat Kota dengan 20 Penampilan PilihanFTI 2025 akan berlangsung pada 1–16 Desember 2025 di empat kota besar: Medan, Palu, Mataram, dan Jakarta. Sebanyak 20 kelompok teater terpilih akan mementaskan adaptasi dari novel atau cerpen Indonesia yang telah dipublikasikan.

Setiap kelompok diwajibkan mendapatkan izin resmi dari penulis sebagai bentuk penghormatan terhadap hak kekayaan intelektual (HKI). Langkah ini sekaligus menegaskan komitmen FTI untuk membangun ekosistem seni pertunjukan yang profesional dan menghargai proses kreatif.

Happy juga menyebutkan bahwa beberapa karya besar akan turut dipentaskan. “Seperti karya Putu Wijaya berjudul Roh dan Burung-burung Manyar dari YB Mangunwijaya. Pilihannya sangat lintas genre dan beragam,” ujarnya.

Advertisement

Tema ‘Sirkulasi Ilusi’ untuk Menyentil Realitas

Kurator FTI, Tya Setyawati, menjelaskan bahwa festival tahun ini mengusung tema “Sirkulasi Ilusi.” Tema tersebut membahas bagaimana realitas dan representasi di era modern sering tumpang tindih, terutama pada kehidupan digital yang penuh citra.

“Festival ini menjadi ajang perayaan seni teater dan ruang pertemuan bagi praktisi, pendukung, dan penonton. Kami berharap bisa mengadakannya dua tahun sekali,” kata Tya.

Dengan tema tersebut, FTI diharapkan mampu menjadi panggung baru bagi berbagai gagasan kreatif yang menantang cara masyarakat memandang realitas sehari-hari.

Advertisement

Mengapa ‘90 Menit Tanpa Gawai’ Penting?

Gerakan ini bukan sekadar ajakan untuk menonaktifkan ponsel. Lebih dari itu, ia merupakan simbol dari keinginan mengembalikan pengalaman seni yang autentik. Di tengah era yang didominasi konten cepat, notifikasi instan, dan perhatian yang mudah terputus, 90 menit tanpa gawai adalah bentuk latihan mental untuk kembali fokus.

Dengan kata lain, kampanye ini bukan hanya tentang teater, tetapi tentang kesempatan mengistirahatkan diri dari kebisingan digital dan kembali menikmati seni secara penuh.

Advertisement

Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.