Kekhawatiran Konsumen Melejit: Penipuan Seluler Berbasis AI Ancam Musim Belanja Akhir Tahun

Ai

Menjelang periode belanja online tersibuk sepanjang tahun, tingkat kekhawatiran konsumen Indonesia terhadap keamanan digital makin melonjak. Data terbaru dari Appdome Consumer Expectations of Mobile App Security Report edisi kelima mengungkap bahwa ancaman penipuan sintetis, pencurian identitas, hingga serangan berbasis kecerdasan buatan (AI) kini menjadi alasan utama masyarakat meninggalkan aplikasi seluler selama Black Friday dan musim liburan. Menariknya, tahun ini menandai pertama kalinya konsumen Indonesia menjadi bagian dari survei global Appdome.

Di saat yang sama, berbagai laporan industri dari NordLayer, SEON, hingga Kaspersky menegaskan tingginya risiko tersebut. Upaya penipuan meningkat mulai dari 22% hingga lebih dari empat kali lipat hanya dalam periode Cyber Week. Laporan Appdome pun menunjukkan kecenderungan serupa, mempertegas bahwa konsumen kini memasuki musim belanja dengan rasa waspada yang lebih besar daripada tahun-tahun sebelumnya.

Temuan survei mencatat beberapa kekhawatiran dominan. Sebanyak 56,7% konsumen Indonesia mengaku paling takut terhadap penipuan sintetis saat bertransaksi menggunakan perangkat seluler. Sementara itu, 40,7% pengguna memilih menghapus atau meninggalkan aplikasi tertentu karena takut menjadi korban pencurian identitas digital. Bahkan, 75,3% konsumen mengaku pernah meninggalkan aplikasi akibat masalah keamanan atau privasi yang dianggap tidak memadai.

Advertisement

Dengan gelombang diskon besar, meningkatnya volume pembayaran seluler, dan tekanan untuk bertransaksi dengan cepat, para pengguna merasa bahwa musim liburan adalah periode paling rawan terhadap kejahatan digital.

“AI mengubah lanskap penipuan lebih cepat daripada kemampuan bisnis seluler merespons,” ujar Tom Tovar, Co-Creator and CEO Appdome. Ia menambahkan bahwa konsumen kini ingin bukti nyata bahwa aplikasi dapat mencegah penipuan sebelum terjadi bukan sekadar mengatasi kerugian setelah transaksi berakhir.

AI Memicu Gelombang Baru Penipuan Musim Liburan

Pada 2025, berbagai bentuk penipuan berbasis AI seperti persetujuan pembayaran deepfake, serangan vishing, hingga pengambilalihan akun berbasis bot telah menjadi ancaman utama selama puncak musim belanja. Serangan-serangan ini bukan hanya lebih canggih, tetapi juga berlangsung dalam skala yang jauh lebih besar berkat otomatisasi AI.

Advertisement

Hasil riset Appdome menunjukkan dinamika menarik terkait persepsi masyarakat terhadap AI. Sebanyak 81,5% konsumen Indonesia melihat AI sebagai peluang positif, sementara 18,5% sisanya menilai teknologi tersebut sebagai ancaman. Meski demikian, mayoritas responden sekitar 90% mengharapkan aplikasi seluler mampu memblokir ancaman seperti bot, deepfake, impersonation, dan pembajakan akun.

Tidak hanya itu, 72,3% konsumen Indonesia percaya bahwa aplikasi seluler sebenarnya mampu menghentikan ancaman tersebut. Angka ini bahkan jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata global, menciptakan apa yang disebut Appdome sebagai “Paradoks AI.” Di satu sisi, pengguna memanfaatkan AI untuk kemudahan; namun di sisi lain, mereka menganggap aplikasi wajib menyediakan perlindungan setingkat AI pula.

Tekanan pun semakin besar bagi aplikasi perbankan, ritel, fintech, travel, hingga logistik untuk menunjukkan bentuk perlindungan keamanan in-app secara transparan selama lonjakan transaksi akhir tahun.

Advertisement

Pencegahan Jadi Prioritas Baru Konsumen

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, konsumen kini tidak lagi menunggu hingga kerugian terjadi untuk kemudian menyelesaikan masalah. Lebih dari 84,8% responden menuntut pencegahan penipuan sebelum transaksi terjadi, bukan mengganti kerugian setelahnya. Angka ini menunjukkan pergeseran ekspektasi yang signifikan terhadap industri aplikasi seluler.

Selain itu, 53,7% konsumen menilai bahwa tanggung jawab terbesar untuk menghentikan penipuan ada pada pengembang aplikasi, bukan pada perangkat, sistem operasi, atau operator seluler. Sementara itu, 79,2% pengguna menganggap privasi sebagai faktor yang sangat penting, dan 8,4% bahkan menolak menggunakan aplikasi apa pun jika tidak ada perlindungan privasi yang jelas.

“Musim belanja liburan adalah waktu di mana serangan digital paling agresif,” jelas Jamie Bertasi, Chief Customer Officer Appdome. Ia menekankan bahwa AI memungkinkan pelaku kejahatan menyamar sebagai pengguna asli, membajak sesi, hingga memicu transaksi palsu. Karena itu, aplikasi perlu menghentikan serangan tersebut langsung di dalam platform untuk menjaga keamanan konsumen sekaligus pendapatan bisnis.

Advertisement

Aplikasi Wajib Bertindak Sebelum Pengeluaran Meningkat

Dengan prediksi rekor belanja seluler antara Black Friday hingga 31 Desember, laporan ini memberikan sinyal penting bagi pengembang aplikasi. Transaksi cepat dalam volume tinggi menjadi lahan subur bagi penipuan identitas sintetis dan pengambilalihan akun. Selain itu, penggunaan AI oleh penyerang membuat modus kejahatan semakin cepat, masif, dan sulit dideteksi.

Hal ini membuat kepercayaan konsumen mudah berubah. Aplikasi yang tidak menunjukkan perlindungan yang jelas dapat ditinggalkan dalam hitungan detik. Sebaliknya, pengguna akan lebih loyal terhadap aplikasi yang memberi perlindungan nyata selama mereka berbelanja.

Survei menunjukkan bahwa konsumen yang merasa aman akan memberikan dampak positif bagi merek:

Advertisement

  • 42,7% bersedia mempromosikan aplikasi aman melalui media sosial
  • 30,8% akan meninggalkan ulasan positif
  • 98,4% akan merekomendasikan aplikasi yang terbukti melindungi pengguna

Dengan temuan ini, semakin jelas bahwa keamanan seluler bukan lagi fitur tambahan, melainkan kebutuhan utama di tengah meningkatnya ancaman digital berbasis AI.

Advertisement

Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.