Microsoft memblokir akses militer Israel ke layanan cloud dan AI yang digunakan mereka untuk mengawasi warga sipil Palestina. Keputusan ini disampaikan langsung oleh oleh VP Microsoft Brad Smith.
Sebelumnya, The Guardian melaporkan bahwa pemerintah Israel menyimpan rekaman suara dan data milik warga Palestina di Microsoft Azure. Rekaman suara tersebut diambil dari satu juta panggilan per jam yang dilakukan oleh mereka.
Dalam memo internal yang dibagikan kepada karyawan, Brad menyatakan bahwa pihaknya telha menemukan bukti yang mendukung beberapa elemen laporan dari The Guardian. Sementara, peninjauan masih terus dilakukan oleh perusahaan.
Baca Juga
Advertisement
“Oleh karena itu, kami memberi tahu Kementerian Pertahanan Israel (IMOD) tentang keputusan Microsoft untuk menghentikan dan menonaktifkan langganan IMOD tertentu dan layanannya, termasuk penggunaan penyimpanan cloud serta layanan dan teknologi AI tertentu,” tulis Brad dalam memonya yang dikutip dari The Verge pada Jumat (26/9).
“Kami telah meninjau keputusan ini dengan IMOD dan langkah-langkah yang kami ambil untuk memastikan kepatuhan terhadap perysaratan layanan kami, dengan fokus memastikan layanan kami tidak digunakan untuk pengawasan massal terhadap warga sipil,” imbuhnya.
Diketahui bahwa pemblokiran ini berlaku untuk seperangkat layanan yang digunakan oleh sebuah unit IMOD. Sementara, Brad menegaskan kalau Microsoft tidak menyediakan teknologi untuk memfasilitasi pengawasan massal terhadap warga sipil.
Baca Juga
Advertisement
Langkah ini tidak memengaruhi kontrak lain yang dipegang Microsoft dengan pemerintah Israel. Menurut Brad, hal ini tidak memengaruhi pekerjaan penting yang terus dilakukan Microsoft untuk melindungi keamnan siber Israel dan negara-negara lain di Timur Tengah, termasuk di bawah Perjanjian Abraham.
Laporan The Guardian bulan lalu melaporkan bahwa milter Israel telah memindahkan data hingga 8TB dari Azure. Lembaga ini dilaporkam berencana mentransfer data tersebut ke Amazon Web Service.
Tinjauan Microsoft terhadap penggunaan cloud Azure dan teknologi AI-nya oleh militer Israel menyusul laporan dari The Guardian dan tekanan dari karyawan Microsoft saat ini dan sebelumnya. Dilaporkan perusahaan memecat lima karyawan terkait protes atas kontrak dengan pemerintah Israel di kantor pusatnya baru-baru ini.
Baca Juga
Advertisement
Aksi unjuk rasa bulan lalu mencakup perkemahan. Kemudian, sekelompok orang yang berhasil masuk ke gedung perusahaan dan melakukan siarang langsung di dalam kantor Brad.
Kelompok No Azure for Apartheid telah mengambil tindakan publik terhadap Microsoft selama lebih dari setahun. Kelompok ini juga menginterupsi para eksekutif Microsoft selama perayaan hari jadinya yang ke-50 dan beberapa kali selama konferensi pengembang Build.
“Berita hari ini merupakan kemenangan yang signifikan dan belum pernah terjadi sebelumnya bagi kampanye dan pengorganisasian kami. Dalam waktu kurang dari sebulan setelah aksi duduk kami di kantor Brad Smith, Microsoft telah mengambil keputusan penting untuk menjadi perusahaan teknologi AS pertama yang menghentikan penjualan beberapa teknologi kepada militer Israel sejak dimulainya genosida di Gaza,” ungkap Organisator No Azure for Aparthied Hossam Nasr.
Baca Juga
Advertisement
Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.