Industri kecerdasan buatan (AI) kembali dihebohkan dengan kabar terbaru dari DeepSeek, perusahaan AI asal China. Dalam artikel yang diterbitkan di jurnal akademik Nature, DeepSeek mengungkapkan biaya yang mereka keluarkan untuk melatih model bahasa besar (large language model/LLM) R1. Angkanya terbilang mengejutkan: hanya USD 294.000 atau sekitar Rp 4,8 miliar.
Jika dibandingkan dengan pemain besar seperti OpenAI, biaya ini sangat jauh berbeda. Sebagai gambaran, CEO OpenAI Sam Altman pernah mengungkapkan bahwa proses pelatihan model yang mendasari ChatGPT menelan biaya lebih dari USD 100 juta atau sekitar Rp 1,6 triliun. Artinya, DeepSeek berhasil memangkas biaya hingga ribuan kali lipat.
Proses Pelatihan dengan Nvidia H800
Dalam artikel yang sama, DeepSeek menjelaskan bahwa proses pelatihan R1 menggunakan 512 unit chip Nvidia H800. Informasi ini menjadi penting, karena pada versi publikasi sebelumnya di Januari 2025, detail penggunaan chip tersebut belum disebutkan.
Baca Juga
Advertisement
Chip H800 sendiri merupakan varian GPU AI yang didesain khusus Nvidia untuk pasar China, menyusul larangan ekspor chip H100 dan A100 oleh pemerintah Amerika Serikat sejak Oktober 2022. Dengan begitu, penggunaan H800 menjadi pilihan logis bagi perusahaan-perusahaan teknologi di Negeri Tirai Bambu.
Namun, menariknya, DeepSeek dalam dokumen pendukung penelitian itu juga mengakui pernah menggunakan GPU A100 pada tahap awal persiapan. Setelah eksperimen awal selesai, pelatihan penuh dilakukan dengan H800 selama 80 jam.
Seorang peneliti DeepSeek bahkan menuliskan, “Mengenai penelitian DeepSeek-R1, kami menggunakan GPU A100 untuk mempersiapkan eksperimen model kecil sebelum melanjutkan pelatihan penuh dengan H800.”
Baca Juga
Advertisement
Klaim Murah, Tapi Diragukan
Meski klaim biaya rendah ini terdengar menggiurkan, tidak semua pihak percaya begitu saja. Beberapa pejabat dan perusahaan di Amerika Serikat meragukan pernyataan DeepSeek.
Pasalnya, kabar sempat beredar bahwa DeepSeek memiliki chip H100 dalam jumlah besar, meski sudah dilarang diekspor ke China. Namun, Nvidia membantah kabar tersebut dan menegaskan bahwa DeepSeek hanya menggunakan H800 yang diperoleh secara legal.
Keraguan juga muncul karena biasanya proses melatih model bahasa besar membutuhkan biaya operasional yang fantastis. Hal ini mencakup penggunaan ribuan GPU selama berbulan-bulan untuk memproses data teks dan kode dalam jumlah masif. Dengan kata lain, klaim DeepSeek memunculkan pertanyaan besar: apakah benar AI canggih bisa dilatih dengan biaya semurah itu?
Baca Juga
Advertisement
Dampak pada Industri AI
Apabila klaim ini benar adanya, maka langkah DeepSeek bisa menjadi titik balik besar dalam industri AI. Selama ini, biaya menjadi salah satu penghalang utama dalam pengembangan AI generatif. Hanya perusahaan raksasa dengan modal besar yang mampu membiayai pelatihan model berskala besar.
Namun, dengan efisiensi yang ditunjukkan DeepSeek, peluang bisa lebih terbuka bagi perusahaan atau institusi yang ingin masuk ke dunia AI tanpa harus menyiapkan dana raksasa.
Selain itu, strategi ini juga bisa memicu persaingan baru antara perusahaan AI di China dengan raksasa AI global seperti OpenAI, Anthropic, dan Google DeepMind.
Baca Juga
Advertisement
Antara Inovasi dan Geopolitik
Kisah DeepSeek tidak hanya soal teknologi dan efisiensi biaya, tetapi juga menyentuh isu geopolitik. Hubungan dagang dan teknologi antara Amerika Serikat dan China yang semakin tegang membuat keberhasilan perusahaan asal China ini semakin menarik perhatian.
Dengan adanya pembatasan ekspor chip canggih dari AS, muncul pertanyaan besar: apakah inovasi-inovasi seperti yang dilakukan DeepSeek bisa membuat China semakin mandiri dalam pengembangan AI?
Terlepas dari pro dan kontra, apa yang dilakukan DeepSeek telah membuka babak baru dalam diskusi global seputar efisiensi pelatihan AI. Jika benar biaya Rp 4,8 miliar sudah cukup untuk melahirkan AI sekelas R1, maka ini bisa mengubah peta persaingan teknologi dunia.
Baca Juga
Advertisement
Namun, masih ada banyak hal yang harus diverifikasi, terutama terkait transparansi teknologi yang digunakan. Dunia kini menunggu apakah klaim ini akan memicu tren baru dalam pengembangan AI murah, atau hanya sekadar strategi branding dari DeepSeek.
Satu hal yang pasti: persaingan AI global tidak lagi hanya soal kecanggihan, tetapi juga soal efisiensi biaya dan strategi politik di balik layar.
Baca Juga
Advertisement
Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.