Indonesia kembali menegaskan dirinya sebagai salah satu pemain utama dalam peta e-commerce global. Riset terbaru yang dirilis oleh YouGov menunjukkan bahwa Indonesia kini berada di peringkat kedua dunia dalam hal preferensi belanja online, hanya kalah dari Tiongkok dan unggul atas India. Temuan ini menjadi sinyal kuat bahwa perilaku konsumen di tanah air terus mengalami pergeseran signifikan, terutama dalam hal pola belanja digital.
Namun, riset ini juga mengungkap fakta menarik: konsumen Indonesia bukan hanya aktif berbelanja online, tetapi juga sangat “melek” terhadap promo. Value for money menjadi kata kunci yang paling menentukan keputusan pembelian. Artinya, mereka tidak sekadar mencari harga murah, melainkan juga mempertimbangkan ongkos kirim, kecepatan pengiriman, dan kualitas layanan secara keseluruhan.
Konsumen Semakin Cerdas dan Selektif
Edward Hutasoit, General Manager YouGov Indonesia & India, menjelaskan bahwa pertumbuhan e-commerce yang luar biasa di Indonesia berjalan seiring dengan meningkatnya kecerdasan konsumen. “Konsumen kini lebih selektif. Mereka tidak hanya melihat harga, tetapi juga menuntut layanan yang lebih baik, pengiriman cepat, dan personalisasi pengalaman belanja. Platform maupun penjual harus adaptif agar tetap relevan,” ujarnya.
Baca Juga
Advertisement
Dengan basis riset yang melibatkan lebih dari 300.000 responden global di 55 negara, YouGov memberikan gambaran mendalam mengenai motivasi konsumen. Data ini tidak hanya berupa angka, tetapi juga insight yang mengungkap apa yang benar-benar memengaruhi keputusan belanja masyarakat.
Kenapa Konsumen Pilih Belanja Online?
Alasan utama masyarakat Indonesia lebih memilih belanja online ketimbang di toko fisik cukup beragam. Mayoritas responden menyebut harga yang lebih murah (68%) sebagai faktor penentu. Selain itu, ketersediaan pilihan produk yang lebih banyak (57%), promo atau diskon menarik (48%), kemudahan dan kenyamanan (47%), serta layanan pengiriman (46%) juga menjadi pertimbangan utama.
Dalam empat tahun terakhir, preferensi belanja online semakin menguat di sejumlah kategori penting. Kategori pakaian dan sepatu mencatat lonjakan 18%, sementara musik, video, dan buku meningkat 15%. Angka ini menunjukkan bahwa e-commerce di Indonesia tidak lagi terbatas pada kebutuhan dasar, melainkan juga gaya hidup dan hiburan.
Baca Juga
Advertisement
Marketplace Masih Jadi Pilihan Utama
Marketplace tetap menjadi kanal utama bagi konsumen untuk menemukan produk. Namun, preferensi kanal kedua ternyata berbeda di tiap generasi. Generasi Z cenderung lebih percaya pada influencer, Millennials mengandalkan ulasan produk, sementara Generasi X lebih mengutamakan rekomendasi dari keluarga atau teman.
Perbedaan ini memperlihatkan betapa pentingnya strategi pemasaran yang relevan dengan tiap kelompok usia. Brand yang mampu memahami hal ini tentu punya peluang lebih besar untuk memenangkan hati konsumen.
Promo, Ongkir, dan Value for Money
Bicara soal belanja online di Indonesia, sulit dilepaskan dari promo. Riset YouGov menunjukkan bahwa 79% konsumen selalu mencari promo sebelum bertransaksi. Gratis ongkir menjadi insentif paling dicari karena langsung menjawab dua kekhawatiran utama konsumen: ongkos kirim yang tinggi dan waktu pengiriman yang lama.
Baca Juga
Advertisement
Dua dari tiga konsumen menyebut ongkos kirim sebagai masalah besar. Tak heran, gratis ongkir menjadi “senjata rahasia” marketplace dan brand untuk menarik pembeli. Namun, value for money bukan hanya soal diskon. Konsumen juga menilai pengalaman belanja secara menyeluruh, mulai dari navigasi aplikasi, respons layanan pelanggan, hingga kecepatan kurir.
Video Online Dorong Minat Belanja
Faktor lain yang tidak kalah penting adalah konsumsi video online. Indonesia dikenal sebagai salah satu pasar dengan tingkat konsumsi video tertinggi, terutama video pendek bertema hiburan, komedi, dan kuliner.
Preferensi konten pun bervariasi antar generasi. Gen Z, misalnya, banyak mengonsumsi konten fesyen dan kecantikan. Gen X lebih tertarik pada konten kesehatan dan kebugaran, sementara Millennials lebih suka konten bisnis dan keuangan. Pola ini menjadi peluang besar bagi brand untuk memanfaatkan konten video sebagai kanal pemasaran.
Baca Juga
Advertisement
Misalnya, konten kuliner bisa dipadukan dengan promosi bahan makanan atau peralatan dapur. Konten fesyen dan kecantikan cocok dipasarkan ke Gen Z melalui marketplace. Sedangkan konten finansial bisa diarahkan pada produk gaya hidup dan kebutuhan sehari-hari.
Strategi Brand dan Platform ke Depan
Edward menekankan bahwa seiring meningkatnya kenyamanan konsumen berbelanja online, brand dan platform harus terus berinovasi. “Pengalaman belanja yang personal dan relevan akan menjadi kunci. Strategi harus disesuaikan dengan karakter tiap generasi, sambil mengintegrasikan konten kreatif sebagai alat pemasaran,” jelasnya.
Data dari survei ini diambil melalui YouGov Profiles dan BrandIndex, dengan melibatkan lebih dari 5.000 konsumen online di Indonesia dan ratusan ribu responden global. Hasilnya memberikan insight komprehensif yang bisa dijadikan acuan bagi pelaku e-commerce dalam menghadapi persaingan ketat.
Baca Juga
Advertisement
Hasil riset YouGov menegaskan bahwa Indonesia bukan hanya pasar besar bagi e-commerce global, tetapi juga pasar yang unik. Konsumen Indonesia berada di posisi istimewa: sangat adaptif terhadap teknologi, gemar mencari promo, dan menuntut pengalaman belanja yang menyenangkan.
Dengan tren ini, jelas bahwa masa depan e-commerce Indonesia akan semakin menarik untuk diikuti. Bagi brand, kuncinya sederhana namun menantang: berikan harga yang adil, layanan cepat, pengalaman personal, dan tentu saja, jangan lupakan promo serta gratis ongkir.
Baca Juga
Advertisement
Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.