China Panggil Nvidia, Chip AI H20 Diduga Timbulkan Ancaman Keamanan Siber

Nvidia

Regulator dunia maya China, Cyberspace Administration of China (CAC), secara resmi memanggil perusahaan teknologi asal Amerika Serikat, Nvidia, pada Kamis (31/8). Pemanggilan ini dilakukan sebagai respons atas kekhawatiran terkait potensi risiko keamanan dari chip kecerdasan buatan (AI) seri H20 yang dijual ke pasar Tiongkok.

Dalam pernyataan resminya, CAC menegaskan bahwa Nvidia diminta memberikan klarifikasi mendalam serta menyerahkan bukti-bukti relevan terkait dugaan ancaman tersebut. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya perlindungan terhadap keamanan dunia maya dan perlindungan data pribadi masyarakat Tiongkok, sesuai dengan Undang-Undang Keamanan Siber, Keamanan Data, dan Perlindungan Informasi Pribadi yang diberlakukan di negara tersebut.

Transisi Ketegangan Teknologi Global

Pemanggilan Nvidia ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan China, terutama dalam hal penguasaan teknologi canggih seperti kecerdasan buatan dan semikonduktor. Chip H20, yang merupakan bagian dari seri GPU AI terbaru Nvidia, sebelumnya dirancang khusus untuk menghindari sanksi ekspor dari pemerintah AS terhadap China. Namun, dugaan bahwa chip ini masih mengandung teknologi sensitif membuatnya menjadi perhatian serius pihak otoritas Tiongkok.

Advertisement

Menariknya, beberapa anggota parlemen Amerika Serikat justru mendorong agar chip-chip AI canggih yang diekspor ke luar negeri dilengkapi dengan sistem tracking atau pelacakan dan kemampuan remote shutdown (pemadaman jarak jauh). Tujuannya adalah untuk menjaga kendali terhadap teknologi tinggi yang telah dijual ke negara lain, termasuk China.

Fungsi Pelacakan Jadi Sorotan

Dalam pernyataannya, CAC menyebut bahwa para pakar AI dari Amerika Serikat telah mengonfirmasi keberadaan teknologi pelacakan dan pemadaman jarak jauh dalam cip buatan Nvidia. Teknologi ini memungkinkan perusahaan asal pembuat untuk memantau, mengontrol, atau bahkan menonaktifkan perangkat keras tersebut dari jarak jauh—kemampuan yang tentu saja menimbulkan kekhawatiran mendalam dari sisi keamanan nasional.

“Teknologi pelacakan dan pemadaman jarak jauh dalam chip semacam ini sudah matang dan dapat diterapkan secara efektif,” tulis CAC dalam pernyataan resminya.

Advertisement

Karena itu, CAC menilai perlu untuk memanggil Nvidia guna meminta penjelasan menyeluruh mengenai apakah fitur-fitur tersebut benar-benar tertanam dalam chip H20, serta sejauh mana potensi penggunaannya dapat membahayakan data dan infrastruktur digital Tiongkok.

Langkah Pencegahan dari China

Sebagai negara dengan populasi digital terbesar di dunia, China telah menetapkan berbagai regulasi ketat terkait pengelolaan data pribadi dan keamanan jaringan. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah dengan membatasi masuknya teknologi asing yang dianggap berisiko tinggi terhadap keamanan nasional. Maka, langkah pemanggilan Nvidia ini menjadi sinyal bahwa China tidak akan bersikap lunak terhadap potensi ancaman digital, sekalipun datang dari perusahaan teknologi papan atas dunia.

Lebih dari itu, langkah ini juga bisa menjadi bagian dari strategi jangka panjang China untuk memperkuat kemandirian teknologi, sekaligus menekan dominasi perusahaan asing dalam rantai pasok semikonduktor di negaranya.

Advertisement

Respons Nvidia Masih Ditunggu

Hingga berita ini ditulis, Nvidia belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait pemanggilan tersebut. Namun, analis industri memperkirakan bahwa perusahaan akan memberikan respons hati-hati, mengingat pentingnya pasar China bagi penjualan produk-produk GPU dan cip AI mereka.

Chip H20 sendiri merupakan bagian dari upaya Nvidia untuk tetap bisa memasok produk ke China tanpa melanggar pembatasan ekspor dari pemerintah AS. Jika chip ini terbukti mengandung teknologi pelacakan atau kendali jarak jauh, bukan tidak mungkin regulasi di China akan diperketat lebih jauh—bahkan bisa saja penjualan chip serupa akan dilarang sepenuhnya di masa mendatang.

Implikasi Global

Kasus ini berpotensi membuka babak baru dalam pertarungan teknologi antara dua kekuatan besar dunia. Amerika Serikat, yang berupaya mengontrol distribusi teknologi sensitif demi alasan keamanan nasional, kini dihadapkan pada reaksi balik dari negara-negara yang menjadi mitra dagangnya, termasuk China.

Advertisement

Sementara itu, negara-negara lain yang mengimpor chip AI dari AS pun mulai mempertimbangkan aspek keamanan yang sebelumnya kurang disorot secara mendalam. Jika tren ini terus berkembang, industri semikonduktor global bisa mengalami pergeseran signifikan—baik dari segi desain teknologi, strategi ekspor, maupun regulasi lintas negara.

Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.