Elon Musk Luncurkan Grok 4: AI Super Pintar yang Kalahkan PhD

Grok 4

Perusahaan rintisan kecerdasan buatan milik Elon Musk, xAI, kembali membuat gebrakan dengan merilis model AI terbaru mereka, Grok 4. Dalam siaran langsung di platform X pada Senin (7/7/2025), Musk menyatakan bahwa Grok 4 memiliki kecanggihan yang tidak main-main—bahkan diklaim melampaui kecerdasan seorang doktor atau PhD dalam berbagai bidang ilmu.

Grok 4 diperkenalkan bersama sistem baru bernama Grok Heavy, yang bekerja sebagai lingkungan multi-agen. Sistem ini memungkinkan beberapa agen AI untuk bekerja sama dalam menyelesaikan persoalan kompleks dan menyajikan hasil yang lebih akurat serta berkualitas tinggi.

Klaim Melebihi PhD dan Kalahkan Kompetitor

Elon Musk dalam siaran langsung tersebut menyebut dengan penuh percaya diri, “Grok 4 lebih baik daripada gelar PhD di setiap mata pelajaran, tanpa terkecuali.” Klaim ini tentu mengejutkan, tetapi xAI juga memamerkan data pendukung.

Advertisement

Salah satunya adalah performa Grok 4 dalam uji bernama Humanity’s Last Exam, sebuah tes berisi 2.500 pertanyaan lintas bidang yang dirancang khusus untuk mengukur kapabilitas AI. Hasilnya, Grok 4 berhasil mencetak skor 25,4%, mengungguli model Google Gemini 2.5 Pro (21,6%) dan model o3-high milik OpenAI (21%).

Namun bukan itu saja. Ketika Grok Heavy—versi multi-agen dari Grok—diberikan alat tambahan, performanya meningkat drastis dengan skor 44,4%. Angka ini jauh melampaui skor o3 dari OpenAI dengan Deep Research (26%) dan Gemini 2.5 Pro dengan alat (26,9%). Hal ini memperlihatkan potensi sistem AI kolaboratif yang dikembangkan xAI.

Grok Heavy: AI Multi-Agen ala Musk

Meski xAI belum membeberkan secara mendalam arsitektur dari Grok Heavy, sistem ini digambarkan sebagai lingkungan kolaboratif di mana banyak agen AI berdiskusi, menemukan solusi, dan memilih opsi terbaik secara mandiri. Konsep ini mirip dengan sistem algoritma kolaboratif yang sebelumnya diperkenalkan oleh Sakana AI.

Advertisement

Dengan pendekatan ini, xAI menandai babak baru dalam pengembangan kecerdasan buatan—yakni AI yang bukan hanya menjawab pertanyaan, tapi mampu berpikir bersama secara terstruktur.

SuperGrok Heavy: Langganan Mahal untuk AI Elit

Sejalan dengan peluncuran ini, xAI juga mengumumkan paket langganan termahal mereka sejauh ini, yakni SuperGrok Heavy. Paket ini ditujukan untuk pengguna tingkat lanjut dan dibanderol dengan harga USD 300 per bulan (sekitar Rp4,8 juta).

Fasilitas dari SuperGrok Heavy meliputi batas penggunaan lebih tinggi dan akses awal terhadap fitur-fitur eksklusif seperti Grok Heavy. Ini menjadi penawaran yang menarik bagi pengguna yang ingin mengeksplorasi potensi penuh AI dalam produktivitas, analisis data, atau bahkan penelitian.

Advertisement

Dampak AI terhadap Dunia Kerja: Studi Kasus Microsoft

Sementara inovasi AI berkembang pesat, dampak terhadap tenaga kerja manusia mulai terasa nyata. Microsoft, salah satu pemain besar dalam dunia teknologi, baru-baru ini kembali melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap 9.000 karyawannya. Jumlah tersebut menambah total PHK tahun ini menjadi sekitar 15.000.

Menurut laporan Bloomberg, Chief Commercial Officer Microsoft, Judson Althoff, menyebut bahwa perusahaan telah menghemat lebih dari USD 500 juta sepanjang tahun 2024 hanya dari divisi call center, berkat otomatisasi dengan AI.

Lebih lanjut, Althoff mengungkapkan bahwa AI kini aktif membantu dalam proses penjualan, layanan pelanggan, hingga rekayasa perangkat lunak. Dalam beberapa kasus, AI bahkan digunakan untuk berinteraksi langsung dengan pelanggan—sesuatu yang dulu hanya dilakukan oleh manusia.

Advertisement

Namun, peralihan ke AI tidak lepas dari kritik. Salah satu eksekutif Xbox, Matt Turnbull, menuai kecaman setelah menyarankan korban PHK untuk menggunakan chatbot seperti ChatGPT guna mengatasi beban emosional akibat kehilangan pekerjaan. Postingan tersebut sempat viral di LinkedIn sebelum akhirnya dihapus.

Insiden itu menyoroti sensitivitas sosial yang perlu dijaga di tengah transformasi besar-besaran ini. AI mungkin menawarkan efisiensi, tetapi pengganti peran manusia dalam jumlah besar juga menyisakan persoalan etika dan tanggung jawab sosial.

AI Jadi Prioritas Investasi Besar

Menariknya, di tengah gelombang PHK, kondisi keuangan Microsoft justru sangat kuat. Perusahaan itu mencatatkan laba sebesar USD 26 miliar pada kuartal pertama 2025, dengan kapitalisasi pasar mencapai USD 3,74 triliun—bersaing ketat dengan Apple dan Nvidia.

Advertisement

Microsoft mengindikasikan bahwa sebagian besar keuntungan tersebut akan dialokasikan untuk pengembangan infrastruktur AI. Pada Januari lalu, perusahaan mengumumkan rencana investasi sebesar USD 80 miliar dalam proyek AI hingga akhir 2025.

Peluncuran Grok 4 dan Grok Heavy menjadi bukti bahwa AI tidak hanya semakin pintar, tetapi juga makin mampu bekerja secara tim. Namun, seiring kemajuan teknologi, dunia juga dihadapkan pada tantangan serius: mulai dari hilangnya lapangan pekerjaan, hingga pertanyaan etika soal batas penggunaan AI.

Jika satu dekade lalu AI hanya dilihat sebagai alat bantu, kini ia telah menjadi aktor utama dalam lanskap bisnis dan inovasi global. Masa depan akan sangat ditentukan oleh bagaimana manusia mengelola simbiosis antara kecerdasan buatan dan peran manusia itu sendiri.

Advertisement

Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.