Guru Besar Ilmu Komputer Universitas Indonesia Prof. Yudho Giri membeberkan bahwa pemerintah Indonesia masih memiliki tugas penting dalam menghubungkan masyarakat ke jaringan internet. Terutama mereka yang berada di luar Pulau Jawa.
Yudho merujuk pada data penetrasi yang diterbitkan oleh APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) pada 2024 lalu. Data tersebut menunjukkan bahwa mayoritas pengguna internet di Indonesia berada di wilayah Pulau Jawa dan Sumatra.
Data APJII tahun 2024 menunjukkan bahwa kontribusi pengguna internet di Pulau Jawa mencapai 57.82%, Sumatra memliki kontribusi pengguna internet mencapai 20,69%. Sedangkan, di Sulawesi hanya 6,47%, Kalimantan 6,12%, Bali & Nusa Tenggara 5,12% dan Maluku & Papua 3.79%.
Baca Juga
Advertisement
“Jadi kalau bicara connected dan unconnected, kita masih punya PR untuk Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, NTB, NTT dan setrusnya. PR-nya masih panjang,” ungkap Yudho dalam acara panel diskusi BFN Fest 2025 di Jakarta, Kamis (11/12).
“Kalau kita bicara inklusivitas, Indonesia menghadapi problem yang namanya last mile problem. Untuk bisa sampai internet itu ke gadget kita, ke rumah-rumah, sekolah, dan sebagainya,” ungkap Yudho.
Last mile problem merupakan istilah untuk menjelaskan terkait tantangan membawa koneksi internet dari jaringan utama (backbone) ke lokasi pengguna akhir. Misalnya, rumah, kantor kecil atau desa.
Baca Juga
Advertisement
Di samping itu, data terbaru APJII tahun 2025 menunjukkan adanya peningkatan kontribusi pengguna internet di Indonesia. Dengan mayoritas pengguna di Pulau Jawa sekitar 58,14% dan Sumatra sebanyak 20,51%.
Sedangkan, kontribusi pengguna internet di Pulau Sulawesi hanya 6,46%, Kalimantan 6,05%, Bali & Nusa Tenggara 5,13% serta Maluku & Papua 3,71%.
Sementara itu, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) baru-baru ini menyatakan bahwa pihaknya menargetkan 2.500 desa di Indonesia terhubung internet pada tahun 2026 mendatang. Upaya ini merupakan bagian dari percepatan pembangunan Indonesia Digital.
Baca Juga
Advertisement
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyatakan bahwa konektivitas yang merata menjadi fondasi agar warga desa memperoleh akses pendidikan, layanan publik dan peluang ekonomis yang setara. Oleh sebab itu, pembangunan infrastruktur internet di daerah blankspot akan menjadi prioritasnya tahun 2026 mendatang.
“Kita sadari masih ada ketimpangan akses di berbagai daerah, untuk itu pembangunan di daerah-daerah tersebut akan menjadi prioritas di 2026,” ungkap Meutya Hafid dalam pernyataan resminya, Rabu (10/12).
Baca Juga
Advertisement
Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.